Jaringan kuliner legendaris Es Teler 77 telah menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dalam ajang The 40th Trade Expo Indonesia (TEI) di ICE BSD, Tangerang. Agenda tersebut disaksikan langsung oleh sejumlah pejabat tinggi negara. Di antaranya, Menteri Perdagangan Budi Santoso, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri, serta Duta Besar Indonesia untuk Australia Siswo Pramono.
Dalam release yang dikirimkan ke redaksi KULINOLOGI Indonesia (16/10) disebutkan, penandatanganan MOU dilakukan dalam rangka memperkenalkan produk kuliner Indonesia ke pasar global, sebagai bagian dari strategi diplomasi kuliner lintas negara. Australia pun terpilih menjadi tempat diperkenalkannya Es Teler 77 sebagai salah satu restoran legendaris Tanah Air.
Founder & CEO Es Teler 77, Yenny Widjaja, mengatakan menjelaskan, bahwa Australia juga bukan pasar baru bagi Es Teler 77, letaknya yang secara geografis dekat dengan Tanah Air membuat adanya ikatan emosional yang kuat antara kedua negara. Karena itu, ia menilai bahwa penandatanganan MoU ini bukan sekadar langkah ekspansi bisnis, melainkan momen Es Teler 77 hadir ke ‘Negeri Kanguru’ untuk membawa cita rasa otentik Indonesia bagi masyarakat Australia.
“Australia selalu punya tempat spesial bagi kami. Di sana, ada banyak teman dan saudara sebangsa yang merindukan aroma dan rasa masakan Indonesia. Setelah sempat hadir beberapa tahun lalu, kini Es Teler 77 ingin kembali ke Negeri Kanguru, membawa pulang cita rasa Nusantara yang hangat, menjadi a taste of home bagi diaspora Indonesia, sekaligus memperkenalkan kembali kekayaan rasa tanah air kepada masyarakat Australia,” tutur Yenny.
Oleh sebab itu lewat penandatangan MoU tersebut, Yenny menjelaskan bahwa pihaknya akan menggandeng BESPOK3, sebuah perusahaan Australia yang menjembatani bisnis, budaya, dan kreativitas antar brand Indonesia dan Internasional.
Yudi Loefti, Founder BESPOK3, mengatakan bahwa akan menggelar sejumlah kegiatan untuk memperkenalkan Es Teler 77 di Australia. BESPOK3 juga akan melibatkan Es Teler 77 dalam berbagai agenda kuliner internasional, antara lain melalui partisipasi dalam acara seperti food truck dan kegiatan promosi lainnya
“Kebetulan kita membuat banyak festival di Australia, salah satunya adalah Flavors Live untuk mempromosikan kuliner di seluruh dunia di Sydney, Melbourne. Jadi di tanggal 6-7 Desember mendatang, kita mau mengundang Es Teler 77 di agenda tersebut.” jelas Yudhi.
Apalagi, Yudi menjelaskan bahwa jumlah diaspora asal Indonesia yang berada di Australia sangat banyak. Namun berdasarkan catatan pihaknya, jumlah makanan Indonesia masih tergolong minimin jika dibandingkan dengan beragam kuliner Asia maupun negara-negara lain yang eksis di Australia.
“Masakan Indonesia di Australia itu cuma 6% dari negara-negara lain seperti makanan dari Vietnam, Malaysia, atau Thailand, itu masih tenar. Ini yang coba kita dorong supaya kuliner asal Indonesia bisa menjadi lebih populer, menurut saya Es Teler 77 punya appeal yang besar di negara tersebut.” ungkapnya.
Oleh sebab itu, menurut Yudi, rangkaian kegiatan ini bukan sekadar promosi, tapi cara untuk membangun kembali kedekatan emosional antara Es Teler 77 dengan masyarakat Australia yang pernah mencicipi rasa khasnya, maupun yang baru ingin mengenal cita rasa Indonesia lebih dekat.
Agung Haris Setiawan, Atase Perdagangan Canberra, menambahkan dibandingkan negara tetangga seperti Thailand, Indonesia masih kurang melakukan promosi kuliner Indonesia di mancanegara. Padahal, potensi kuliner Indonesia sangat besar dan dapat menjadi salah satu cara efektif untuk memperkuat citra dan daya saing bangsa di luar negeri. Menurutnya, promosi yang terencana dengan baik akan membantu memperluas pasar sekaligus memperkenalkan kekayaan rasa dan budaya Indonesia kepada dunia.
Sementara dalam sambutannya saat membuka agenda The 40th Trade Expo Indonesia (TEI), Menteri Perdagangan Budi Santoso menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha dalam memperluas pasar ekspor nasional. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh kemampuan industri dalam memproduksi barang berkualitas, tetapi juga oleh sinergi lintas sektor, mulai dari diplomasi dagang, pembiayaan ekspor, hingga promosi produk di pasar internasional.
Budi kemudian menjelaskan, bahwa pemerintah sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Kementerian Luar Negeri untuk mendorong pengembangan restoran Indonesia di luar negeri. Kala itu, ditetapkan lima negara sebagai proyek percontohan, yakni London, New York, Tokyo, Sydney, dan Amsterdam.
Namun, menurutnya, keberadaan proyek tersebut belum sepenuhnya menjamin keberlanjutan bisnis kuliner Indonesia di pasar global. Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah pengelolaan manajemen. Banyak restoran Indonesia yang memiliki cita rasa unggul dan diminati konsumen, tetapi tidak mampu bertahan karena kurangnya sistem manajemen yang kuat. Oleh sebab itu, pemerintah juga mendorong agar para restoran ini bisa mengembangkan bisnis dengan lebih baik dan terstruktur. Upaya ini diharapkan tidak hanya memperkuat daya saing kuliner Indonesia di luar negeri, tetapi juga menciptakan ekosistem usaha yang berkelanjutan dan mampu membawa nama Indonesia ke panggung global.
“Tadi ada Sate Senayan dan Es Teler 77, ini kan sudah bagus. Artinya kalau memiliki cabang di luar negeri, berarti manajemennya bagus. Tidak akan tutup karena tidak ada yang mengurusi. Jadi, bagaimana restoran kita bisa berkembang di luar negeri,” pungkas Budi.
Sebagai tambahan informasi, kerja sama perdagangan antara Australia – Indonesia terjalin erat dan mencatatkan nilai transaksi yang signifikan. Menurut data Atase Perdagangan RI di Canberra , jumlahnya mencapai USD 13,474 miliar sepanjang 2024. Salah satu sektor perdagangan yang paling berpotensi untuk dikembangkan adalah produk makanan dan minuman (HS code 19, 21, dan 22) yang total nilai ekspornya mencapai USD USD 160,5 juta. KI-08




