Pasteurisasi dan Sterilisasi Susu



Susu harus memenuhi syarat-syarat kesehatan dan kebersihan, karena susu merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroba. Susu segar juga memiliki umur yang singkat, mudah rusak bila penanganannya kurang baik, sehingga mempunyai masa simpan relatif singkat. Oleh karena itu, untuk mengawetkan susu agar dapat memperpanjang masa simpan perlu dilakukan proses pengolahan

Salah satu proses pengolahan untuk mencegah kerusakan pada susu adalah dengan cara pemanasan, baik melalui pasterisasi maupun sterilisasi. Dengan pemanasan ini diharapkan akan dapat membunuh bakteri patogen yang membahayakan kesehatan manusia dan meminimalisasi perkembangan bakteri lain, baik selama pemanasan maupun pada saat penyimpanan. Berikut perbedaan antara pasteurisasi dengan sterilisasi.

Pasteurisasi. Adalah pemanasan susu di bawah titik didih untuk membunuh mikroba atau bakteri patogen namun sporanya masih dapat hidup. Terdapat tiga jenis pasteurisasi yaitu:

  • Low Temperature Long Time/LTLT, yaitu pemanasan dengan suhu 62-65°C selama 0,5 -1 jam
  • High Temperature Short Time/HTST), adalah pemanasan susu pada suhu tinggi 85-95°C selama 1-2 menit.

Sterilisasi. Merupakan proses memanaskan susu sampai mencapai suhu di atas titik didih, sehingga bakteri patogen dan sporanya mati. Susu sterilisasi dilakukan dengan cara : i) Sistem UHT yaitu susu dipanaskan sampai suhu 137-140°C selama 2-5 detik; ii) Susu dalam kemasan hermetis (kedap udara) dipanaskan pada suhu 110-121°C selama 20- 45 detik.

 

Artikel Lainnya

  • Jun 24, 2019

    Lemak yang Digunakan dalam Produk Bakeri

    Produk baking meliputi rerotian, cake, biskuit, cookies, cracker, kue kering, pastry, pie, mufin, dan lainnya yang merupakan aplikasi bahan tepung-tepungan yang dipanggang dalam oven. Lemak sebagai bahan utama dalam pembuatan produk baking berperan dalam menambah citarasa, aroma, kelembapan, nilai gizi, pembentuk tekstur (melembutkan), dan menjaga kualitas selama penyimpanan. ...

  • Jun 21, 2019

    Menghambat Oksidasi Minyak

    Reaksi oksidasi terjadi ketika minyak goreng terpapar dengan udara. Untuk menghambat reaksi ini, biasanya industri minyak goreng menambahkan antioksidan, yakni suatu senyawa yang dapat menangkap radikal bebas. Komponen radikal bebas terbentuk selama reaksi terjadi dan memicu terjadinya berbagai kerusakan. ...

  • Jun 20, 2019

    Mengenal Teknik Memasak Shallow Frying

    Shallow frying merupakan teknik menggoreng dengan sedikit lemak atau minyak dengan menggunakan wajan datar. Shallow frying merupakan teknik memasak cepat, dan biasanya digunakan untuk bahan yang berkuran kecil dan memiliki tekstur lunak seperti telur dan ikan. Namun perlu diperhatikan, minyak yang digunakan harus dipastikan sudah benar-benar panas. Jika minyak yang digunakan belum cukup panas, maka pangan yang dihasilkan akan menyerap minyak. ...

  • Jun 19, 2019

    Risiko Konsumsi Lemak Jenuh untuk Kesehatan

    Lemak jenuh ada yang bersumber dari hewan (seperti gajih, lemak dalam daging, dan lainnya) dan ada yang bersumber dari pangan nabati (seperti minyak kelapa). Dalam kaitannya dengan penyakit jantung, maka lemak jenuh yang berasal dari hewan dinyatakan lebih berbahaya. ...

  • Jun 18, 2019

    3 Reaksi Kimia Penyebab Kerusakan Minyak Goreng

    Salah satu cara menjaga mutu produk goreng adalah dengan mengendalikan kualitas minyak goreng yang digunakan sebaik mungkin. Oleh sebab itu, terdapat beberapa faktor yang perlu diketahui oleh industri jasa boga terkait penggunaan minyak goreng. Penyebab utama kerusakan minyak goreng adalah reaksi kimia. Terdapat tiga reaksi kimia yang sering terjadi pada minyak goreng, yakni: ...