Menata Distribusi Rantai Dingin Daging Ayam di Indonesia



Tantangan utama pengembangan usaha peternakan ayam ras pedaging atau broiler saat ini adalah usaha ini didominasi oleh perusahaan integrasi, sedangkan usaha ayam ras petelur (layer) sebaliknya. Dalam hal peternak mandiri ayam ras pedaging sulit bersaing dengan perusahaan integrasi dilihat dari sisi penguasaan sarana produksi dan efisiensi usaha sehingga harga relatif lebih tinggi. Masalah lain yakni hasil produksi ayam ras pedaging dari perusahaan integrasi tersebut hanya sekitar 20% untuk pengolahan, dan selebihnya atau 80% dijual ke pasar tradisional, sehingga market share peternak ayam mandiri di pasar tradisional menjadi turun. Perusahaan integrasi sebenarnya telah memiliki Rumah Pemotongan Ayam (RPA) dan melakukan penyimpanan di cold storage, namun kapasitas cold storagenya hanya mampu menampung stock sebesar 15-20% dari total produksi.



Hal itu disampaikan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Ketut Diarmita dalam pidato kunci pada seminar ISPI: Distribusi Rantai Dingin Produk Daging Unggas di Jakarta pada 28 September 2017 lalu. Seminar rutin yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) tersebut merupakan rangkaian penyelenggaraan Pameran Indonesian International Seafood & Meat Expo (IISM) dan International Farming Technology (IFT) tersebut digelar di arena JIEXPO, Kemayoran Jakarta.

Ketua Umum ISPI Prof Ali Agus mengatakan, seminar ISPI kali ini merupakan apresiasi pemerintah utamanya dalam menerbitkan Permentan No.61/Permentan/PK.230/12/2016 Tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras. Tujuan Permentan ini yakni memperbaiki tataniaga perunggasan di Tanah Air untuk menjadi lebih baik dan sehat tentunya. Tataniaga yang menerapkan sistem rantai dingin diharapkan menjadi solusi ke depan perunggasan di Tanah Air untuk mengatasi gejolak harga live bird di tingkat peternak, serta dalam menghasilkan produk yang berkualitas, higienis, sehat, bersih, utuh dan halal toyiban. Setelah terbitnya Permentan ini, harus dikawal bersama supaya tidak lepas dan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.



Diarmita memaparkan, adanya Permentan Nomor 61/Permentan/PK.230/12/2016 Tentang Penyediaan, Peredaran, Dan Pengawasan Ayam Ras bertolak dari fakta adanya perusahaan terintegrasi yang Pelaku usaha sedikit, bermodal kuat, dengan teknologi mutakhir, terintegrasi Hulu-hilir, efisien, dan posisi tawar kuat. Sementara pelaku usaha sendiri jumlahnya banyak, modal terbatas, teknologi sederhana, lebih banyak bergerak dalam bidang on farm atau budidaya, kurang efisien, dan posisi tawar yang lemah. Adanya regulasi ini dimaksudkan untuk menyeimbangkan keduanya, sehingga terjadi persaingan usaha peternakan ayam yang fair, kondusif dan sinergis.

Dalam regulasi yang sudah diundangkan sejak 2016 lalu tersebut, terdapat 4 substansi penting melingkupi penyediaan, peredaran, pelaporan, dan pengawasan. Dalam hal penyediaan, maka hal tersebut didasarkan pada rencana produksi nasional sesuai keseimbangan suplai & demand. Jika tidak seimbang, dapat dilakukan penambahan atau pengurangan produksi PS dan/atau FS. Pelaku Usaha yang memproduksi Ayam Ras potong (livebird) dengan produksi paling rendah 300.000 ekor/minggu, sesuai dengan peraturan ini, sudah harus mempunyai Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) yang memiliki fasilitas rantai dingin, mulai berlaku 7 Desember 2017. Produksi 300.000 ekor per minggu berarti dalam sebulan produksinya 1,2 juta ekor. Ini artinya, semua farm peternakan ayam berkapasitas kandang 2,4 juta ekor, wajib memiliki sarana RPHU.

Regulasi tersebut juga menegaskan bahwa peredaran Ayam Ras kecuali ayam ras potong atau livebird, wajib bersertifikat benih atau bibit dari LSP terakreditasi atau yang ditunjuk oleh Mentan. Untuk alokasi telur tertunas dan/atau DOC FS broiler dan layer dari integrator kepada: internal integrator sebanyak 50%, untuk pelaku usaha mandiri, koperasi dan peternak sebanyak 50%. Kepastian ketersediaan atas kebutuhan pasokan telur tertunas/DOC PS dan DOC FS diantara pelaku usaha dilakukan melalui perjanjian khusus.

Permentan tersebut juga memberi mandat agar para pelaku usaha integrasi, pembibit PS, dan pelaku usaha mandiri untuk melaporkan produksi dan peredaran produknya kepada Dirjen PKH paling kurang 1 bulan sekali. Dan, dirjen PKH sewaktu-waktu dapat meminta laporan wabah penyakit hewan dan/atau terjadi ketidakseimbangan suplai dan demand, melakukan audit populasi, produksi, wabah penyakit dan/atau terjadi ketidakseimbangan.

Dalam hal pengawasan, hal ini dilakukan oleh Ditjen PKH, Kadis Provinsi dan Kabupaten/Kota. Menurut Permentan tersebut, pengawasan dilaksanakan paling kurang 3 bulan sekali atau bisa juga dilakukan sewaktu-waktu apabila terjadi dugaan penyimpangan. Apabila ada pelaku usaha perunggasan yang melanggar regulasi ini, maka beberapa sangsi yang bakal menanti yakni peringatan tertulis, penghentian kegiatan, pencabutan izin usaha dan pengenaan denda.

Pengurus Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN) Agus Wahyudi menambahkan, penerapan Permentan seputar peredaran produk unggas ini sekaligus merupakan edukasi bagi produsen dan konsumen dari sisi umur simpan daging ayam. Di satu sisi para pelaku usaha dapat meredam fluktuasi harga daging ayam di pasar, di sisi lain konsumen menjadi terbiasa dengan produk daging unggas yang telah dibekukan. Penerapan sistem rantai dingin, tambahnya, selain bertujuan mengubah persepsi masyarakat akan pola konsumsi daging ayam beku, juga dimaksudkan sebagai upaya mengontrol higiene daging unggas yang dikenal rentan terkontaminasi bakteri berbahaya. Produk daging ayam segar tidak bisa bertahan lama di suhu ruang dalam tempo lebih dari 4 jam. Hal ini berbeda dengan daging yang disimpan dingin atau beku, yang bisa diperpanjang umur simpannya, bahkan hingga 1 tahun.

Produk daging ayam beku berbeda cara perlakuannya sebelum dikonsumsi. Sebelum diolah lebih lanjut, perlu di-thawing atau dicairkan dahulu selama kurang lebih 24 jam. Terdapat tiga peran penting daging ayam beku dalam dunia usaha, yakni dalam hal distribusi, dapat dikirim jarak jauh antar kabupaten atau propinsi. Sistem stok pun bisa dilakukan, misalnya untuk usaha katering atau restoran, cukup belanja daging ayam untuk seminggu atau sebulan. Manfaat lainnya adalah daging ayam beku dapat membantu menstabilkan harga ayam yang dikenal kerap berfluktuasi.

Jakarta sebagai ibu kota Indonesia sudah selayaknya menjadi percontohan dalam penerapan sistem rantai dingin produk daging unggas. Terlebih ibukota telah memiliki Perda DKI no 4 tahun 2017 tentang pengendalian pemeliharan dan peredaran unggas. Perda tersebut dimaksudkan untuk mencegah berjangkitnya virus flu burung (H5NI), mengatur segala perijinan pemeliharaan unggas, serta mengatur pemindahan tempat penampungan dan pemotongan produk unggas. Perda juga memberikan sangsi bagi yang melanggar, yakni kurungan paling lama 3 bulan, atau denda paling banyak Rp 50 juta atau penyitaan unggas.

Penerapan sistem rantai dingin dinilai Agus sebagai solusi bagi DKI Jakarta untuk memberi contoh yang baik di dalam negeri. Penerapan sistem rantai dingin dapat menunjang layanan dan jasa bagi para tamu atau turis manca negara, terutama dalam hal penyediaan masakan berbahan daging unggas yang aman, sehat, utuh dan halal.

Agus berharap, penerapan sistem rantai dingin pada produk daging unggas yang sedang dan akan diterapkan para pelaku usaha perunggasan ini dapat didukung oleh pemerintah. Dukungan yang diharapkan tersebut antara lain dalam hal kemudahan dalam penentuan lokasi usaha, prodigram, promosi, edukasi, koordinasi dengan aparat terkait, kepolisian, dan lain-lain. Denan penerapan sistem rantai dingin ini, maka akan terlaksana komitmen para pelaku usaha dalam memberikan layanan kepada masyarakat akan produk daging yang berkualitas baik dan halal. andang

Artikel Lainnya

  • Apr 13, 2018

    Clean eating pada Menu Balita

    Clean eating pada menu balita dapat menjadi salah satu cara untuk memenuhi asupan gizi balita....

  • Apr 12, 2018

    Hidup Sehat Mencegah Penyakit Degeneratif

    Ada yang bilang, kondisi masa tua merupakan cerminan dari apa yang kita konsumsi di masa muda....

  • Apr 11, 2018

    Menyusun Menu Terpadu

    Dalam menjalankan bisnis restoran, hal-hal kecil yang luput diperhatikan dapat menyebabkan beberapa kendala yang signifikan....

  • Apr 10, 2018

    Tepat Menangani Katering

    Menangani katering berbeda dengan menangani sarapan setiap paginya....

  • Apr 10, 2018

    Fun Kitchen Festival: Sarana Informasi Kuliner Indonesia

    Memadukan cita rasa memang bukan perkara yang mudah tetapi, bukan berarti pula tidak mungkin untuk dilakukan. Dengan teknik, pengolahan, serta pengetahuan terhadap bahan yang tepat sebuah hidangan baru yang merupakan pencampuran dari dua hal yang berbeda. Tidak melulu soal rasa, pencampuran juga terkadang memberikan sentuhan pada penampilan maupun ukuran. Hal tersebutlah yang ingin diusung pada Fun Kitchen Festival yang mengangkat tema “Trend Modern and Traditional Food & Beverages 2018” acara yang diselenggarakan pada 13-18 Maret 2018 lalu di Atrium Tengah Mall Taman Anggrek ini berlangsung sangat meriah dengan dihadiri peserta  dari segala latar belakang. ...