Perbedaan Beras Putih dan Beras Merah



Sebagian besar orang Indonesia mengonsumsi beras sebagai makanan pokok. Beras yang dikonsumsi biasanya adalah beras putih. Berasal dari padi yang disosoh atau dikupas kulitnya. Bulir padi terdiri dari beberapa lapisan, yang paling luar adalah epikarp (sekam), lalu pericarp yang mengandung lapisan kulit ari (aleuron), biji beras (endosperm), dan lembaga atau mata beras.

Kulit ari banyak mengandung asam lemak esensial, serat, vitamin, dan mineral. Endosperm merupakan sumber pati dan protein beras, yang menentukan karakter pulen atau “pera”nya beras. Lembaga merupakan bagian dari padi yang banyak mengandung minyak dan sering diolah terpisah menjadi tepung mata beras.

Padi yang digiling untuk diproses lebih lanjut dapat menghasilkan beras putih dan beras merah. Beras merah atau brown rice (whole grain rice) merupakan padi yang belum melalui proses penggilingan atau pengupasan kulit seutuhnya. Pengolahan padi menjadi beras merahtelah menghilangkan bagian kulit luarnya, akan tetapi masih meninggalkan bagian sekam (bran).

Masih adanya bagian sekam mengakibatkan karakteristiknya berbeda dengan beras putih. Beras merahmemerlukan waktu pemasakan lebih lama dan lebih sulit tercerna daripada beras putih karena masih adanya lapisan sekam tersebut.

Sekam banyak mengandung serat yang mengakibatkan rasa beras merahkurang enak dibandingkan beras putih. Adanya serat juga mengakibatkan rasa “seret” ketika dikonsumsi. Kelebihan beras putih dari sisi sensori tersebut mengakibatkan lebih banyak konsumen yang memilih mengonsumsi beras putih.

Dilihat dari nilai gizinya, beras merahmemiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan beras putih, bahkan ada keunggulan pada beberapa jenis zat gizinya seperti tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1. Perbandingan nilai gizi beras merah dan beras putih (per 100 gram)

Komponen Beras merah Beras putih
Energi (kkal/kJ) 357/1518 383/1630
Lemak (g) 2,8 3,6
Protein (g) 6,7 7,3
Karbohidrat (g) 76 78
Serat (g) 3,6 0,4
Thiamin (mg) 0,59 0,41
Riboflavin 0,07 0,02
Niacin (mg) 6,8 5,8
Folat (μg) 49 2
Vitamin E (mg) 0,8 0,1
Magnesium (mg) 110 32
Zat besi (mg) 1,4 0,5
Selenium (mg) 10 13

Sumber: Food Standards Agency and Institute of Food Research (2002)

Artikel Lainnya

  • Jun 24, 2019

    Lemak yang Digunakan dalam Produk Bakeri

    Produk baking meliputi rerotian, cake, biskuit, cookies, cracker, kue kering, pastry, pie, mufin, dan lainnya yang merupakan aplikasi bahan tepung-tepungan yang dipanggang dalam oven. Lemak sebagai bahan utama dalam pembuatan produk baking berperan dalam menambah citarasa, aroma, kelembapan, nilai gizi, pembentuk tekstur (melembutkan), dan menjaga kualitas selama penyimpanan. ...

  • Jun 21, 2019

    Menghambat Oksidasi Minyak

    Reaksi oksidasi terjadi ketika minyak goreng terpapar dengan udara. Untuk menghambat reaksi ini, biasanya industri minyak goreng menambahkan antioksidan, yakni suatu senyawa yang dapat menangkap radikal bebas. Komponen radikal bebas terbentuk selama reaksi terjadi dan memicu terjadinya berbagai kerusakan. ...

  • Jun 20, 2019

    Mengenal Teknik Memasak Shallow Frying

    Shallow frying merupakan teknik menggoreng dengan sedikit lemak atau minyak dengan menggunakan wajan datar. Shallow frying merupakan teknik memasak cepat, dan biasanya digunakan untuk bahan yang berkuran kecil dan memiliki tekstur lunak seperti telur dan ikan. Namun perlu diperhatikan, minyak yang digunakan harus dipastikan sudah benar-benar panas. Jika minyak yang digunakan belum cukup panas, maka pangan yang dihasilkan akan menyerap minyak. ...

  • Jun 19, 2019

    Risiko Konsumsi Lemak Jenuh untuk Kesehatan

    Lemak jenuh ada yang bersumber dari hewan (seperti gajih, lemak dalam daging, dan lainnya) dan ada yang bersumber dari pangan nabati (seperti minyak kelapa). Dalam kaitannya dengan penyakit jantung, maka lemak jenuh yang berasal dari hewan dinyatakan lebih berbahaya. ...

  • Jun 18, 2019

    3 Reaksi Kimia Penyebab Kerusakan Minyak Goreng

    Salah satu cara menjaga mutu produk goreng adalah dengan mengendalikan kualitas minyak goreng yang digunakan sebaik mungkin. Oleh sebab itu, terdapat beberapa faktor yang perlu diketahui oleh industri jasa boga terkait penggunaan minyak goreng. Penyebab utama kerusakan minyak goreng adalah reaksi kimia. Terdapat tiga reaksi kimia yang sering terjadi pada minyak goreng, yakni: ...