Penggunaan MDM sebagai Bahan Baku Pembuatan Sosis



Hingga saat ini pembuatan sosis terus berkembang, baik dari segi bumbu maupun dari segi jenis ternak yang dimanfaatkan dagingnya sebagai bahan dasar pembuatan sosis. Umumnya produk sosis yang beredar di pasaran pada saat ini dibuat dari daging sapi dan daging ayam yang dicincang halus lalu diberi bumbu kemudian dimasukkan ke dalam selongsong yang terbuat dari usus hewan atau pembungkus buatan.

Untuk menghasilkan produk dengan harga yang mudah dijangkau oleh konsumen dengan cita rasa yang baik dan nilai gizi yang cukup, biasanya produsen berinovasi dengan bahan baku yang digunakan. Daging memiliki peranan yang sangat penting dan nilai beli yang tinggi. Berdasarkan hal tersebut, produsen sosis biasanya mengganti daging segar dengan Mechanically Deboned Meat (MDM).

MDM adalah jenis daging tanpa tulang yang diperoleh dengan cara memisahkan daging ternak atau unggas yang tersisa dari tulang setelah proses daging tanpa tulang (deboning) melalui metode pemisahan secara mekanik.

Agar tidak terjadi pencemaran jumlah mikroba yang tinggi pada saat memproduksi MDM, maka pengolahan harus dilakukan segera setelah pemotongan ternak atau unggas, pengerjaan deboning dilakukan dalam ruang berpendingin, dan hasilnya jika tidak langsung dipakai harus dibekukan melalui proses blast freezing

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 01-3820-1995 tentang Sosis Daging, sosis yang baik harus mengandung protein minimal 13 persen, lemak maksimal 25 persen dan karbohidrat maksimal 8 persen. MDM memiliki kadar protein 12-15 persen, kadar lemak 10-15 persen, dan dapat dibeli dengan harga yang lebih murah daripada daging segar yang umumnya digunakan.

Penggunaan MDM sebagai bahan baku pembuatan produk daging olahan sudah sesuai dengan ketentuan SNI yang menyatakan bahwa daging yang dapat digunakan untuk pembuatan sosis daging meliputi, daging sapi, kerbau, kambing, domba, babi, unggas, atau hewan ternak lainnya, Mechanically Deboned Meat (MDM), dan Deseinewed Minced Meat (DMM).

Selengkapnya tentang Bijak Memilih Daging dan Unggas dapat dibaca di Kulinologi Edisi September 2017

Artikel Lainnya

  • Okt 06, 2018

    Tren Specialty Tea Indonesia

    Specialty tea merupakan teh berkualitas tinggi yang dibuat dari pucuk muda tanaman teh....

  • Okt 06, 2018

    Menu Engineering dalam Bisnis Waralaba

    Menjalankan waralaba tentu diperlukan beberapa aspek yang menyertai....

  • Okt 04, 2018

    Konsep Baru Industri Horeka Indonesia

    Perkembangan industri jasa boga saat ini semakin intensif di Indonesia....

  • Okt 01, 2018

    Pameran Bisnis Waralaba & Kafe Terbesar di tahun 2018

    Gaya hidup masyarakat Indonesia saat ini dan pertumbuhan ekonomi kelas menengah mendorong kinerja industri pengolahan kopi di dalam negeri hingga mengalami peningkatan yang signifikan. Kopi Indonesia banyak digemari dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia. Salah satu cara modern untuk menikmati kopi adalah dengan datang ke kafe. Pertumbuhan konsumsi produk kopi olahan di dalam negeri meningkat rata-rata lebih dari 7% pertahun. Melihat hal tersebut, tidak mengherankan apabila perkembangan bisnis kafe di Indonesia begitu menjanjikan. Kafe kini bukan hanya sebagai tempat untuk menikmati kopi namun telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. ...

  • Sep 22, 2018

    Sehat Tidak Selalu Tidak Enak

    Paradigma terhadap makanan yang menyehatkan masih erat dengan rasa yang tidak enak dan tidak menarik untuk dikonsumsi. Guna mendobrak paradigma tersebut, diperlukan usaha dari para pelaku kepentingan seperti praktisi kesehatan, pelaku kuliner, dan juga konsumen sebagai target utama mengubah paradigma tersebut. ...