Mendesain Produksi Buah Terolah Minimal



Permintaan terhadap sayuran terolah minimal (fresh cut) semakin meningkat untuk memenuhi kebutuhan industri ritel, hotel, restoran, jasa boga, katering maupun rumah tangga. Hal ini dikarenakan banyak keuntungan yang diperoleh selain praktis, hemat waktu mengolah, tanpa limbah sayuran yang tidak terpakai, sesuai pors kebutuhan, hemat biaya tenaga kerja, juga dari segi promosi lebih menarik dan nilai produk tinggi. Namun perlu diketahui pula dampak yang dapat terjadi jika penanganan sayuran sejak pascapanen sampai ke konsumen tidak terkontrol, karena sayuran yang sudah terpotong atau dikupas kulitnya akan lebih cepat mengalami perubahan fisik dan kimia, sehingga menurunkan umur simpan.

Sayuran segar setelah dipanen masih melakukan metabolisme sampai akhirnya layu, proses metabolisme tersebut antara lain proses degradasi pemecahan komponen kimia kompleks menjadi sederhana, proses respirasi atau pernapasan yang memerlukan O2 dan melepaskan CO2, dan proses transpirasi yaitu pelepasan uap air melalui pori-pori sayuran. Apalagi dengan pengolahan minimal pada sayuran yang mendapat perlakuan pengirisan atau

pemotongan yang melukai jaringan tumbuhan dapat mempercepat kerusakan atau pembusukan sayuran tersebut.

Berbagai sifat dari beragam sayuran perlu diketahui agar dapat menerapkan cara mengolah dengan benar. Ada sayuran yang tahan disimpan padasuhu refrigerator, namun ada pula yang jika disimpan pada suhu refri akan mengalami kerusakan (chilling injuries). Tahapan pengolahan minimal pada sayuran adalah sortasi dan pencucian awal, pengupasan atau membuang bagian yang tidak dikonsumsi, pemotongan/pengirisan,cpencucian, pengemasan, dan penyimpanan.

Sortasi dan pencucian awal

Pada tahap sortasi, yaitu memilih sayuran dengan tingkat kematangan yang seragam, daun masih hijau, tekstur keras. Pisahkan dengan sayuran yang sudah mulai layu, rusak, dan terlalu tua. Jaminan akan adanya Good Agricultural Pratices (GAP) dan atau adanya sertifikat pertanian organikdari supplier sebaiknya dipersyaratkan dalam menentukan supplier,sehingga ketika proses sortasi akan mengurangisayuran yang terbuang. Sayuran yang telah terpilih lalu dicuci dengan menggunakan air dingin (suhu 40C) yang mengalir untukmenghilangkan kotoran, pasir, tanah, serangga, residu pestisida. Air terklorinasi 100 ppm dapat mengurangi jumlah mikroba aerob pada sayuran daun misal selada, tetapi tidak pada sayuran akar atau kubis.

Pengupasan dan membuang bagian yang tidak dikonsumsi

Sayuran yang melalui tahapan dikupas kulit contohnya bawang, wortel, kentang, dan lainnya. Pada tahap ini pengupasan lebih baik dilakukan secara manual karena tidak banyak bahan yang terbuang, Untuk komoditi tertentu seperti bawang dan wortel dapat menggunakan alat abrasive peeler, namun alat ini dapat mengakibatkan kerusakan dan banyak bahan yang hilang te gantung keseragaman ukuran dan kualitas bahan. Sebagian sayuran mengalami perubahan warna atau browning (contohnya kentang) ketika kulit dikupas atau jaringan terpotong, maka perldilakukan treatment tertentu seperti perendaman dalam air, larutan asam sitrat, asam asetat, atau asam askorbat. Hal ini dikarenakan enzim polyphenoloxsidase (PPO) penyebab browning dapat dihambat prosesnya pada kondisi pH dibawah 7 (asam). Pada tahap ini juga dilakukan pemotongan bagian yang tidak dapat dikonsumsi seperti akar, biji, batang tua/keras, dan lainnya.

Pemotongan/ pengirisan

Tahap pemotongan atau pengirisan dilakukan secara manual dengan pisau tajam dan terbuat dari stainless steel. Pisau yang digunakan harus didesinfektan misal dengan larutan hipoklorit 1 %. Besar dan kecilnya ukuran disesuaikan dengan kebutuhan seperti salad, sup, cap cay, cah, tumis atau sebagai garnish (utuh atau dipotong). Kemudian dikelompokan ukuran yang seragam.

Pencucian

Pencucian dilakukan untuk membersihkan dari kotoran selama pengolahan, cairan jaringan tumbuhan yang keluar ketika pemotongan, dan menjaga suhu sayuran tetap dingin sehingga memperpanjang kesegaran. Dengan menggunakan air kriteria air minum yang mengalir suhu mendekati 00C. Setelah pencucian, keringkan air yang menempel pada sayuran dengan alat pengering sentrifugal atau alat pengering udara (forced air) untuk menghindari pembusukan.

Pengemasan

Pengemasan merupakan langkah penting dalam teknologi olah minimal yang paling banyak dilakukan dengan teknik MAP (modified atmosphere packaging) yaitu pengemasan dengan memodifikasikan konsentrasi gas-gas (terutama O2 dan CO2) untuk memberikan kondisi yang dapat memperlambat proses pelayuan. Komposisi gas 2-5% CO2, 2-5 % O2, sisanya N2, namun perlu diketahui bahwa kondisi konsentrasi gas-gas yang diperlukan pada teknik MAP berlaku sangat spesifik berbeda-beda untuk setiap komoditi. Pengemasan dapat dilakukan berdasarkan 1 porsi atau ukuran besar sesuai permintaan dan terakhir diberi label tanggal produksi untuk menerapkan first in first out (FIFO).

Penyimpanan

Setelah dikemas produk disimpan pada suhu dingin (5-150C) dan harus tetap terjaga suhunya saat transportasi, penyimpanan, dan sampai ke konsumen agar kondisi tetap baik. Selain suhu dan konsentrasi gas, parameter ruang penyimpanan yang perlu dikontrol adalah kelembaban ruang (relative humadity), dan ekpose terhadap etilen. Apabila saat penyimpanan ada yang sudah rusak, maka pisahkan dari produk yang lain. LF

Referensi

http://postharvest.ucdavis.edu/files/93619.pdf . Small-scale Processing Technologies for Horticultural Product. Chapter 12 Fresh–Cut Product. Page 12.1-14. Diakses tanggal 13 Oktober 2014

Selengkapnya tentang Buah dan Sayur dalam Industri Jasa Boga dapat dibaca di Kulinologi Indonesia edisi April 2017

 

Artikel Lainnya

  • Apr 22, 2019

    Perbedaan Cream Cheese dan Cheese Spread

    Untuk penggemar sarapan roti, keju krim (cream cheese) dan keju olesan cream (cheese spread) menjadi satu pilihan untuk diamasukkan ke dalam lapisan lembarlembar roti. Kedua produk tersebut dapat dioles di atas roti sebagai isian bergizi tinggi, atau juga dapat disantap dengan mengoleskannya pada kue atau crackers. Bagi yang suka membuat kue, keju krim dan keju olesan dapat dipakai sebagai campuran adonan dalam cheese cake atau dekorasi krim di atas kue. Lalu apa yang membedakan kedua produk tersebut?   ...

  • Apr 18, 2019

    Tips Memilih Whipped Cream

    hipped cream merupakan krim yang timbul di bagian atas dari susu pada waktu didiamkan atau dipisahkan, sehingga whipped cream juga disebut sebagai ‘kepala susu’.Kegagalan dalam pengolahan whipped cream biasanya ada pada suhu, pengocokan, dan perbandingan air (khusus untuk bubuk whipped cream). “Penggunaan air es dalam pengocokkan bubuk whipped cream sangat penting, karena air es tersebut membantu whipped cream mengembang secara maksimal.  ...

  • Apr 16, 2019

    Bahan-bahan yang mempengaruhi tekstur es krim

    Es krim dibuat dengan cara membekukan campuran susu, lemak hewani atau nabati, gula, dengan atau tanpa penambahan ingridien lain yang diizinkan. Bentuk dan ukuran masing-masing bahan penyusun es krim tersebut sangat menentukan kualitas es krim, terutama tekstur. Tekstur yang diinginkan pada es krim adalah lembut, creaminess (seperti kondisi kaya akan lemak) dan homogen. Sedangkan body yang diinginkan adalah firm dengan substansi padatan yang bersatu dalam bentuk buih/busa. Ketahanan es krim untuk tidak mudah meleleh juga menentukan apresiasi konsumen.   ...

  • Apr 15, 2019

    Costing Menu Honey Blended

    Honey Blended  adalah smoothie yang berbahan dasar raspberry, yoghurt, dan madu. Raspberry merupakan jenis buah yang banyak menyumbangkan manfaat untuk tubuh karena mengandung vitamin C dan magnesium yang cukup tinggi. Dipadukan dengan yogurt maka semakin melengkapi menfaat dari buah ini. ...

  • Apr 15, 2019

    Kenali Perbedaan Alergi Susu dengan Intoleransi Laktosa

    Alergi protein susu dan intoleransi laktosa merupakan dua masalah utama mengapa orang tidak dapat mengonsumsi susu. Perlu diketahui bahwa keduanya merupakan hal yang berbeda, meskipun dapat memberikan gejala yang sama. Alergi susu, biasanya yang berasal dari sapi, timbul akibat reaksi sistem kekebalan tubuh yang menganggap bahwa protein susu yang masuk ke dalam tubuh ialah zat yang berbahaya. Oleh karena itu, sistem kekebalan tubuh memberikan respon penolakan dan menghasilkan gejala alergi. Susu sapi mengandung dua jenis protein, yaitu whey dan kasein yang keduanya dapat memicu reaksi alergi.   ...