Lebih Empuk dengan Teknologi Aging





Kualitas daging sapi lokal yang ada di Indonesia memang masih belum memenuhi standardisasi, hal ini berbanding terbalik dengan daging sapi impor. Keadaan inilah yang menjadi alasan utama para importir enggan untuk beralih pada sapi lokal. Kondisi ini juga yang menjadikan banyak restoran steak menggunakan daging sapi impor dibandingkan daging sapi lokal. Melihat keadaan tersebut, maka Dedie Soekartin, Direktur PT Bandung Hotokasu, bergegas untuk mengubah paradigma masyarakat yang menganggap kualitas daging sapi lokal jauh di bawah daging sapi impor. PT Bandung Hotokasu menjadi salah satu pioner yang memproduksi daging sapi lokal melalui proses aging. “Kami ingin membuat kualitas daging sapi lokal sejajar dengan daging sapi impor, oleh karena itu kami memproduksi daging sapi yang di-aging,” tutur Dedie.

 

Aging merupakan proses pelayuan atau pengempukan daging pada suhu dan waktu tertentu. Suhu yang digunakan pada proses aging antara 2 derajat celcius - 4 derajat celcius dengan waktu pelayuan yang bisa mencapai 14 hari. Daging yang telah di-aging langsung dibekukan dan dapat bertahan hingga 4-5 bulan. “Waktu aging ini

 tidak menentu, karena setiap karakter dari daging sapi yang kita peroleh berbeda-beda, perlakuan dan makanannya dari setiap sapi pun berbeda, hal ini mempengaruhi waktu aging singkat atau lama,” jelas Dedie kepada Kulinologi Indonesia. Perusahaan meat supplier dengan merk dagang DelMeat ini dapat menghasilkan daging sebanyak 200 Kg setiap bulannya.

 

Produk daging yang dipasarkan PT Bandung Hotokasu antara lain sirloin, tenderloin, buntut, iga, daging untuk rendang, rawon, soto dan daging giling. Selain daging sapi, Delmeat  pun memproduksi  daging kambing yang juga di-aging. DelMeat hadir dengan tujuan mengangkat eksistensi daging lokal menjadi produk yang berkualitas melalui teknologi aging sehingga bisa mengurangi ketergantungan terhadap daging import.

  

Daging sapi yang diproses disini merupakan daging sapi lokal dan bukan peranakan yang diperoleh dari Bandung. PT Bandung Hotokasu memiliki klaim keunggulan produk daging sapi yang diproduksi, yakni daging lebih empuk, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama dalam membuat rendang atau gulai aroma dan cita rasa berbeda dengan daging non aging harga lebih kompetitif. Untuk menjaga mutu dari daging yang diproduksi PT Bandung Hotokasu memiliki SOP dengan standar hygiene yang ketat. Kiki

 

PT Bandung Hotokasu (DelMeat)

Jl. Sumber Mekar Kav. 3 No. 5

Sumber Sari, Bandung 40222

Artikel Lainnya

  • Feb 15, 2019

    Dangke: Produk Keju dengan Kearifan Lokal

    Dangke merupakan produk keju tradisional dari susu kerbau khas Sulawesi Selatan dan telah diproduksi sejak tahun 1905. Dangke banyak diproduksi di daerah Enrekang, Curio, Baraka, Anggeraja dan Alla. Menurut cerita, nama Dangke berasal dari bahasa Belanda, “dank u well” yang berarti terimaksih banyak. Saat itu seorang peternak kerbau memberikan olahan fermentasi susu kepada orang Belanda yang sedang melintas dan orang Belanda tersebut mengucapkan “dank je” yaitu ucapan singkat dari “dank u well”. Sejak saat itulah susu fermentasi kerbau ini disebut dangke. Dangke memiliki tekstur yang elastis, berwarna putih, dan memiliki rasa mirip dengan keju pada umumnya. ...

  • Feb 14, 2019

    Costing Menu Summer Fresh

    Summer Fresh merupakan smoothies buah mangga, pisang, dan peach yang dihaluskan dengan tambahan susu dan yogurt. Teksturnya agak kental mengandung butiran halus es buah beku yang dingin, sangat pas disajikan saat siang atau udara panas. Kaya akan vitamin C, kalium, kalsium, dan zat gizi lainnya yang bermanfaat bagi kesehatan. Penambahan yogurt selain memberi rasa asam segar juga memberikan manfaat bagi kesehatan percernaan karena mengandung probiotik. Bahan smothies ini antara lain mangga, peach, pisang, susu segar, dan yogurt. Kandungan gizi per porsinya antara lain; energi 251 kkal, protein 7,6 gram, lemak 8,2 gram, dan karbohidrat 39,8 gram. Berikut adalah costing dari Summer Fresh: ...

  • Feb 13, 2019

    Jus Martabe Khas Sumatra Utara

    Jus martabe merupakan minuman dari Sumatera Utara yang tergolong unik dan jarang dijumpai pada daerah lain. Keunikannya terletak pada bahan dasar yang digunakan yakni terong Belanda dan markisa. Martabe sendiri merupakan singkatan dari Markisa-Terong-Belanda. Jus ini tinggi serat pangan dan pektin, gula buah fruktosa, vitamin C, vitamin E, asam folat, kalium, dan magnesium. Mengonsumsi jus  martabe dapat memperbaiki kekebalan tubuh, meningkatkan kesehatan tulang, mengefektifkan sistem pembersihan racun dalam tubuh, memacu peremajaan sel, menggiatkan fungsi hati dan ginjal, serta mengatasi radang saluran kencing.   ...

  • Feb 12, 2019

    Audit untuk Menjaga Keamanan Pangan Restoran

    Salah satu usaha yang mengombinasikan antara produk dan jasa adalah restoran. Dalam menyajikan menu di restoran perlu adanya proses yang memastikan bahwa prosedur yang telah dibuat sesuai dengan praktiknya. Oleh karena itu, audit sangat dibutuhkan bagi restoran. Tujuan dari proses audit adalah sebagai proses verifikasi untuk memastikan bahwa Sistem Manajemen Keamanan yang dibentuk oleh restoran benar-benar diimplementasikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Selain itu, audit juga dilakukan sebagai evaluasi untuk memastikan apakah sistem tersebut masih dapat menjaga produk pangan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan untuk kebutuhan sertifikasi atau validasi pengesahan terhadap sistem untuk kebutuhan branding produk maupun persyaratan akan suatu bentuk status komersial.   ...

  • Feb 11, 2019

    Kecukupan Gizi Konsumen Vegetarian

    Konsumen vegetarian biasanya menghindari beberapa makanan khusunya yang menjadi sumber protein hewani. Oleh karena itu, asupan gizi seperti protein yang biasa didapat dari sumber hewani harus digantikan dari sumber lain. Menurut Prof. Ali, masalah terbesar utama yang sangat sering dialami para vegetarian adalah kekurangan asupan protein yang berkualitas dan kekurangan zat besi (Fe). Mereka bisa saja mendapatkan asupan protein dari pangan nabati. Namun, kebanyakan sumber protein dari pangan nabati tidak memiliki nilai biologis yang cukup, sehingga memerlukan proses yang lebih lama agar bisa diserap dengan baik oleh tubuh.   ...