Choose The Perfect Cheese for Your Pizza





Tak diragukan lagi, keju populer untuk topping pizza adalah mozzarella. Mozzarella, jenis keju lunak asli dari Naples, Italia ini memang didesain untuk dimakan dalam keadaan segar (fresh). Awalnya mozzarella terbuat dari susu kerbau, kadar airnya tinggi sehingga memiliki masa simpan yang tidak lama. Tekstur keju ini sangat lembut, tidak dapat diparut, dan biasanya keju dipotong-potong saat akan digunakan.

Mozzarella sekarang tidak lagi terbuat dari susu kerbau, melainkan susu sapi, dengan kadar air yang lebih rendah, sehingga waktu simpannya menjadi lebih panjang. Mozzarella terdiri dari beberapa varian berdasarkan kadar air dan kandungan lemak susunya-nya. Sedikit eksperimen perlu dilakukan untuk mengetahui dan mendapatkan mozzarella yang tepat seperti yang Anda inginkan. Masing-masing mozzarella memiliki kemampuan dalam meleleh dan berubah menjadi cokelat.

Tetapi mozzarella bukan satu-satunya keju yang dapat digunakan untuk topping pizza. Pertimbangkan untuk mencoba keju lainnya guna menghasilkan flavor yang berbeda.

1.      Provolone- termasuk kedalam hard atau semi-hard cheese, terdiri dari dua jenis yakni keju provolone yang diasap dan tidak. Keju provolone yang tidak diasap (non-smoked provolone) memilki nutty flavor alias citarasa seperti kacang. Sedangkan smoked provolone memilki flavor yang lebih kuat, dengan citarasa smoky taste yang sangat kuat. Provolone dapat digunakan sendiri atau dapat dikombinasikan dengan mozzarella.

2.      Cheddar- dari yang warnanya putih hingga oranye, dari yang citarasanya mild hingga tajam, cheddar merupakan keju tepat untuk pizza. Daya leleh cheddar bagus, tetapi tidak terlalu ‘melar’, jadi cheddar selalu dikombinasikan dengan mozzarella atau provolone ketika digunakan.

3.      Romano & Permesan- keju ini biasa digunakan yang jenis kering kemudian di parut dan disandingkan dengan hidangan pasta. Romano dan parmesan digunakan pada pizza untuk menambah flavor. Paduan keduanya akan menguatkan citarasa pizza, termasuk untuk keju yang jenisnya kering dan yang diparut. Parmesan tersedia dalam keadaan segar, dapat dipotong atau diparut. Fresh parmesan lebih baik digunakan untuk pizza daripada jenis parmesan yang kering.

4.      Feta- keju feta merupakan keju yang dikuring dalam suatu larutan brine dan banyak dijual dalam bentuk kotak kecil dalam suatu larutan. Keju feta merupakan keju bagus, cocok dikombinasikan dengan keju lain atau digunakan sendiri. Rasanya salty, dan saat dipanggang akan mengeluarkan citarasa earth flavor yang sangat khas.

5.      Swiss- keju swiss sangat berflavor (flavorful). Termasuk jenis salty cheese yang setiap orang belum tentu suka jika keju tersebut ada pada pizza. Kehadiran keju swiss sebagai topping pizza dapat memberikan aksen bahwa pizza tersebut memilki flavor yang kuat, dan sebaiknya keju swiss ditambahkan tidak lebih dari 10%. Keju swiss memilki kemampuan ‘melar’ yang baik setelah meleleh. Keuntungan lain menggunakan keju swiss adalah lebih hemat, karena keju ini dapat dikombinasikan dengan keju lain.

6.      Monterey Jack- keju ini salah satu terbaik untuk pizza, tekstur terbaik diperoleh jika keju monterey jack dicampur tidak lebih dari 30% dengan keju lain. Keju monterey jack terbaik adalah keju dengan jumlah lubang yang sedikit.

7.      Muenster- keju jenis soft-cheese ini memilki flavor kuat yang dapat digunakan sebagai aksen pada pizza. Potong-potong kecil keju ini saat akan digunakan pada pizza.

Varian keju lain mungkin masih dapat dicoba. Diperlukan eksperimen, kreatifitas dan citarasa yang tinggi untuk bisa menghasilkan kombinasi keju yang cocok untuk dijadikan topping pizza. Cobalah varian lain, dan lihat kombinasi yang dihasilkan, apakah pelanggan Anda menyukai citarasa dari cheese topping untuk pizza yang Anda suguhkan? K-12

Artikel Lainnya

  • Mar 20, 2019

    Diet Keto dari Sisi Gizi dan Kesehatan

    Diet keto memang dianggap efektif menurunkan berat badan (Campos, 2017). Dari segi gizi, diet keto menekankan pola asupan tinggi lemak, tapi rendah karbohidrat. Diet ini mengandalkan lemak serta protein hewani sebagai sumber energi utama dalam tubuh. Asupan karbohidrat yang berkurang drastis ini akan menyebabkan tubuh kekurangan karbohidrat dan gula, proses inilah yang disebut dengan ketosis. ...

  • Mar 19, 2019

    Upaya Menghindari Foodborne Diseases

    Sebagian besar foodborne patogen lebih menyukai lingkungan yang hangat, walaupun bisa tumbuh dalam kisaran suhu yang luas. Suhu di atas 40C dan di bawah 600C sering diacu sebagai zona berbahaya, karena bakteri patogen seperti E. Coli, Salmonella dan Listeria monocytogenes dapat berkembang biak pada suhu tersebut, sehingga menyebabkan penyakit. Menyimpan produk pangan pada suhu refrigerasi yang tepat pada suhu di bawah 40C dan memanaskan pada suhu diatas 600C, adalah usaha yang direkomendasikan agar terhidar dari foodborne disease. Oleh karena itu, penanganan pangan dari mulai bahan baku hingga distribusi harus memenuhi pedoman penanganan yang tepat, seperti: ...

  • Mar 18, 2019

    Alternatif Pola Hidup Sehat dengan Diet Ketogenik

    Diet ketogenik adalah pola konsumsi dengan tinggi lemak, cukup protein, dan rendah karbohidrat yang akan menyediakan cukup protein untuk pertumbuhan tetapi kurang karbohidrat untuk kebutuhan metabolisme tubuh. Dengan demikian, tubuh akan menggunakan lemak sebagai sumber energi, yang pada prosesnya akan menghasilkan senyawa keton. Komposisi ketogenik menyaratkan porsi lemak tinggi (75-80%), porsi protein sedang (15% – 20%), dan porsi karbohidrat rendah (5% – 10%). ...

  • Mar 15, 2019

    Menu sebagai Alat Penjual

    Menu dalam bisnis pangan di industri hotel, restoran, katering, dan bakeri (horekaba) merupakan sarana pemasaran yang penting. Menu dapat digunakan sebagai gambaran dari produk yang ditawarkan. Perencanaan menu dibuat dengan menyusun daftar secara spesifik , yaitu menentukan makanan tersebut dibuat untuk satu periode makan (sarapan, makan siang, dan makan malam) atau untuk sehari penuh termasuk snack.   ...

  • Mar 14, 2019

    Tip Menghindari Kesalahan dalam Penimbangan

    Pembuatan produk bakeri seperti roti dan pastry harus melibatkan proses perhitungan, penimbangan, dan prosedur baku yang harus diataati dalam tiap tahapannya. Penggunaan bahan-bahan seperti tepung, ragi, gula, dan bahan-bahan lain harus sesuai dengan standar formula yang sudah ditetapkan. Akurasi atau ketelitian diperlukan untuk mencegah kesalahan dalam penggunaan bahan. Berikut beberapa tip untuk menhindari kesalahan penimbangan dalam pembuatan produk bakeri.   ...