Cara Cerdas Memilih Whipped Cream





Anda yang berbisnis HOREKABA (hotel, restoran, katering, dan bakery) tentunya banyak menggunakan whipped cream untuk diaplikasikan kepada produk anda. Banyaknya penggunaan whipped cream pada cake modern, minuman, bahkan masakan oleh para pelaku industri jasa boga tidak lain untuk menambah cita rasa serta meningkatkan nilai estetika pada produk tersebut. Munculnya berbagai macam merk whipped cream serta kegunaannya, mendorong TIM KULINOLOGI untuk membahas sekilas mengenai whipped cream. Tentu hal ini juga menjadi salah satu perhatian khusus bagi anda.

 

Dairy dan non dairy whipped cream

Dahulu orang awam banyak yang mengira bahwa whipped cream adalah butter cream, persepsi ini tentu salah. Whipped cream merupakan krim yang timbul di bagian atas dari susu pada waktu didiamkan atau dipisahkan, sehingga whipped cream juga disebut sebagai ‘kepala susu’, sedangkan butter cream merupakan cream yang terbuat dari campuran mentega putih, gula pasir, dan susu. Berbeda bukan?

 

Menurut kategori pangan BPOM RI whipped cream diartikan sebagai produk yang diperoleh dengan proses whipping terhadap krim standar. Produk berisi lemak susu tidak kurang dari 36%. Nama whipped cream tidak boleh digunakan untuk produk selain yang dibuat dengan proses whipping terhadap krim. Dapat ditambahkan gula atau bahan tambahan pangan yang diizinkan, misalnya perisa.

 

Whipped cream yang dulu hanya terbuat dari susu, saat ini terbagi menjadi dua jenis yakni, dairy dan non dairy sesuai dengan bahan asalnya. Sudah dapat ditebak, whipped cream dairy berasal dari susu. Whipped Cream non dairy biasanya terbuat dari kelapa sawit atau soya. Lebih lanjut silahkan mengunduh Majalah Kulinologi Indonesia edisi Juni “Dairy the Promising Business”. Riska

Artikel Lainnya