Tantangan Konsumsi Buah dan Sayur Nusantara





Buah dan sayur mempunyai kontribusi yang sangat besar untuk menjaga kesehatan tubuh. Kandungan gizi dalam buah dan sayuran meringankan kerja lambung dan usus dalam mencerna makanan yang masuk ke lambung. Tetapi hingga saat ini konsumsi sayur dan buah masyarakat Indonesia masih sangat kurang. Padahal Indonesia mempunyai beraneka buah dan sayur nusantara. Tetapi serbuan buah dan sayur impor melemahkan posisi petani lokal. Oleh karena itu kampanye konsumsi buah dan sayur nusantara harus dilakukan untuk menjadikan sayur dan buah nusantara sebagai tuan di negeri sendiri.

Hal itu mengemuka dalam talkshow bertema “Peningkatan Nilai Mutu Produksi serta Konsumsi Buah dan Sayur Nusantara Berbasis Agribisnis” yang digelar pada tanggal 22 september 2013 di audit GMSK Kampus IPB Dramaga, Bogor. Dalam acara itu, Pimpinan PT Visi Karya Agritama Ferry Firdaus mengatakan, pola makan yang benar adalah 85 persen makanan nabati (50 persen biji-bijian dan 35 persen sayur dan buah) dan 15 persen makanan daging. Hal ini menunjukkan bahwa pasar buah dan sayur nusantara terbuka untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk  menjadikan buah dan sayur nusantara sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian sudah menyusun Good Agricultural Practises sebagai pedoman bertani untuk menghasilkan buah dan sayur yang berkualitas. Sri Wijayanti Yusuf, M.Agr, Sc. dari Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RI mengatakan, optimalisasi potensi lahan pekarangan dan pengembangan kawasan sentra menjadi langkah selanjutnya untuk mewujudkan kontinuitas pasokan buah dan sayur. Permasalahan buah nusantara yang utama adalah pada rantai distribusi dan pengemasan.

Usaha hortikultura merupakan usaha yang sangat menguntungkan dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara signifikan. Wijayanti menguraikan, petani sayur dan buah mempunyai pengetahuan yang lebih tinggi mengenai budidaya jika dibandingkan dengan petani pangan. Buah lokal kalah bersaing dengan buah impor karena petani nusantara belum mempunyai pengetahuan pengemasan dan perlakuan pasca panen yang baik. “Packaging sangat penting dalam perdagangan sayur dan buah internasional untuk menjaga kebersihan dan meyakinkan konsumen akan kualitas barang,” tambah Pemilik Sabila Farm Gun Sutopo. Kemasan akan memberikan informasi kepada konsumen mengenai pihak yang memproduksi buah, waktu produksi, waktu kadaluarsa, kandungan gizi, dan berat dari buah tersebut. hesti

 

 

Artikel Lainnya

  • Jul 24, 2018

    Tren Keju dalam Produk Pangan Indonesia

    Tren keju seakan tidak pernah ada habisnya. Meskipun bukan produk dan ingridien asli Indonesia, tetapi masyarakat Indonesia sangat akrab dengan cita rasa keju di berbagai produk pangan. Meningkatnya animo pasar dengan keju ini tentu harus disambut dengan inovasi produk pangan yang inovatif.  ...

  • Jul 16, 2018

    Promosi Hotel, Restoran dan Katering Indonesia dengan Kopi

    Keberhasilan Pameran Hotelex yang telah diselenggarakan di sepuluh negara Asia menjadi salah satu alasan kuat PT Pamerindo Indonesia untuk mengadakan Pameran Hotelex Indonesia pada 18-20 Juli 2018 mendatang di Jakarta International Expo. "Pameran ini merupakan pameran business to business. Kami harapkan Pameran Hotelex Indonesia akan dikunjungi oleh lebih dari 12.000 pengunjung yang merupakan para pelaku industri hotel, restoran dan katering," tutur Project Director PT Pamerindo Indonesia, Wiwik Roberto dalam konferensi pers Hotelex Indonesia di Jakarta pada 6 Juli 2018. ...

  • Jun 29, 2018

    Tepat Menggunakan Rempah

    Berbagai rempah memiliki variasi komponen kimiawi yang berperan dalam pembentukan profil flavornya....

  • Jun 28, 2018

    Manfaat Rempah Bagi Kesehatan

    Berbagai rempah dan bumbu dapur yang selama ini dekat dengan...

  • Jun 27, 2018

    Mengenal Kunyit

    Kunyit merupakan salah satu suku tanaman temu-temuan (Zingiberaceae)....