Menghindari Kegemukan Lebih pada Anak





Akhir-akhir ini Indonesia tidak hanya disibukkan oleh kasus malnutrisi, namun juga permasalahan gizi lebih. Pada anak-anak, permasalah gizi lebih ini mayoritas mengarah pada obesitas. Kedua masalah tersebut harus segera diselesaikan mengingat anak merupakan generasi yang ke depan akan memimpin bangsa Indonesia.

 

 

Menurut Pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia Aryono Hendarto dalam Seminar Pangan dan Gizi di Jakarta pada 25 Juni lalu,  angka obesitas di Indonesia sangat memprihatinkan. Ia mengutip data Riskesdas 2010 yang memperlihatkan prevalensi obesitas anak-anak Indonesia mencapai angka 14.6% dengan daerah tertinggi adalah Jakarta (25%) disusul Semarang  (24.3%). Jika tidak ada upaya serius untuk menanganinya, Aryono khawatir angka tersebut akan semakin meningkat, yang bisa mengindikasikan suramnya masa depan bangsa Indonesia. 

 

Aryono menjelaskan, fakta di lapangan, 15% dari bayi di Indonesia mengalami obesitas, sedangkan untuk masa pertumbuhan anak usia pra sekolah, terdapat 25% anak mengalami obesitas. Adapun untuk anak dengan usia 6 tahun ke atas, penderita obesitas mencapai 50%. Anak-anak dengan resiko obesitas yang sudah muncul sejak kecil, akan memiliki resiko obesitas yang lebih tinggi saat dewasa. "Mengatasi obesitas pada anak cenderung sulit, karena anak akan sulit diatur pola makannya, dengan demikian upaya preventif memegang peranan penting dan lebih efektif," tandas Aryono.

 

Untuk mengatasi hal ini, ia mengatakan bahwa pemberian zat gizi pada awal 1 tahun pertama kehidupan bayi, memegang peranan penting. Satu tahun pertama kehidupan  tersebut terbagi menjadi 4 aspek, yakni gizi untuk ibu hamil dan menyusui, melindungi dan mendukung program menyusui, tidak memberikan makanan pendamping ASI yang berlebih, dan mencegah pemberian protein dan gula serta tidak memberikan susu sapi pada 1 tahun pertama usia anak. mesa

Artikel Lainnya