Akreditasi Profesi Ahli Gizi Indonesia



Saat ini status gizi masyarakat Indonesia terus membaik walaupun tantangan gizi kurang, gizi lebih, dan penyakit terkait gizi meningkat. Berdasarkan data Riskesdas (2010) balita yang mengalami gizi kurang sebanyak 17,9 persen, balita pendek 35,6 persen, balita kurus 13,3 persen, meningkatnya penderita penyakit degeneratif, serta remaja usia 18 tahun ke atas mengalami kegemukan. Permasalahan gizi yang menjadi fokus intervensi dalam pembangunan lima tahun ke depan yaitu permasalahan stunting (postur tubuh  yang pendek). Hal ini mengindikasikan bahwa kebutuhan akan tenaga kerja di bidang kesehatan akan terus meningkat.
Bertempat di Institut Pertanian Bogor, Ikatan Lembaga Mahasiswa Gizi Indonesia dan Himpunan Mahasiswa Gizi Masyarakat IPB menggelar acara Nutritionist Talk dengan tema “Membangun efektivitas kinerja untuk dalam satu tujuan sinergis untuk Gizi Indonesia”.  Acara ini berlangsung pada tanggal 1 Juni 2013 lalu di kampus Darmaga Bogor. 
Acara ini mengulas tentang akreditasi dan profesi lulusan ilmu gizi di Indonesia yang disampaikan oleh Ir. Budi Setiawan, Kepala Departemen Gizi Masyarakat IPB. Ia menjelaskan bahwa perbaikan gizi Indonesia di masa yang akan datang akan mengalami beberapa tantangan, yaitu masih rendahnya status gizi balita, masih terbatasnya akses masyarakat miskin terhadap pangan bergizi dan aman, belum seimbangnya pola konsumsi masyarakat, masih rendahnya pemberian ASI eksklusif, masih rendahnya peran masyarakat dalam menanggulangi kekurangan gizi, dan lemahnya kelembagaan yang bertanggungjawab dalam upaya perbaikan pangan dan gizi. Beliau juga menjelaskan bahwa pembangunan pangan dan gizi mempunyai pendekatan lima pilar, yaitu perbaikan gizi masyarakat, aksesibilitas pangan, mutu dan keamanan pangan, perilaku hidup bersih dan sehat, dan kelembagaan pangan dan gizi.
Saat ini tenaga gizi Indonesia masih berada pada rasio 8 per 100.000 penduduk. Padahal idealnya adalah 22 per 100.000 penduduk (Indonesia sehat 2010). Institusi pendidikan gizi saat ini masih terus berkembang baik untuk pendidikan vokasi, pendidikan akademik, maupun pendidikan profesi. Akreditasi program ilmu gizi perguruan tinggi se-Indonesia sangat bervariasi. Akreditasi program studi Gizi pada tahun 2013, yang sudah mendapatkan akreditasi A yaitu Universitas Hassanudin dan Institut Pertanian Bogor. 
Budi memaparkan, saat bekerja di instansi kesehatan, ahli gizi seringkali berada di bawah dokter. Ahli gizi dapat setara dengan  dokter jika menambahkan pendidikan profesi berupa registered dietesion (RD). Sama seperti dokter yang tidak mengambil pendidikan profesi, maka ahli gizi tidak dapat melakukan praktek tanpa menambahkan pendidikan profesi. Rumah sakit juga membutuhkan ahli gizi yang sudah ditambah dengan pendidikan profesi untuk kepentingan akreditas rumah sakit. hesti

Artikel Lainnya

  • Nov 05, 2018

    Pengenalan Sertifikasi Halal Untuk Produsen Pangan Skala UMKM

    Jaminan produk halal merupakan salah satu hal yang dipertimbangkan pada pola konsumsi pangan saat ini. Pergeseran tren ini menjadikan pemerintah berencana menerapkan kewajiban sertifikasi halal pada bulan Oktober 2019 mendatang.    Produk pangan yang diolah dari bahan halal sekalipun tetap harus memiliki sertifikasi halal agar dapat dipasarkan ke masyarakat. Implementasi kebijakan tersebut perlu menjadi perhatian karena kapasitas produksi pangan sangat beragam, mulai dari yang besar (industrial) hingga skala UMKM.    Penerapan sertifikasi halal bagi produsen pangan skala UMKM inilah yang perlu diperhatikan dan difasilitasi oleh pemerintah. “Masyarakat perlu dipahamkan tentang pentingnya jaminan produk halal beserta nilai tambah produk apabila memiliki sertifikasi halal.   Produsen UMKM banyak yang belum memperhatikan hal ini karena sertifikasi halal sampai sekarang masih bersifat sukarela,” jelas Desi Triyanti dari LPPOM MUI dalam acara Pengenalan Sertifikasi Halal Untuk UMKM sebagai rangkaian Indonesia Halal Expo (Indhex) 2018 yang diadakan pada 3 November 2018 di Smesco Convention Hall Jakarta.    Desi menekankan bahwa ada tiga hal yang harus ada untuk mempercepat proses sertifikasi halal bagi UMKM yaitu kejujuran dalam proses audit, kesadaran produsen untuk menggunakan bahan halal, dan adanya ketertelusuran komponen produk yang dihasilkan.    Partisipasi aktif para produsen pangan merupakan kunci penting keberhasilan sertifikasi. Selain dari pihak produsen, LPPOM MUI juga memfasilitasi pengajuan proses sertifikasi produk halal melalui aplikasi Cerol yang lebih efektif dan efisien. Fri-36 ...

  • Nov 03, 2018

    Jaminan Halal Ingredien Berbasis Protein

    Dalam industri pangan, obat-obatan, dan kosmetik, banyak digunakan ingredien yang diproduksi dari sumber protein hewani seperti gelatin, kolagen, dan kondroitin. Pada mulanya sebagian ingredien tersebut diproduksi dari sumber non-halal. Namun saat ini, tren konsumen khususnya pada umat muslim telah bergeser ke arah tuntutan jaminan produk halal sehingga diperlukan suatu perubahan yang menyeluruh terhadap sistem produksi ingredien tersebut.   ...

  • Nov 01, 2018

    Indonesia sebagai Pusat Produk Halal Dunia

    Indonesia tengah bersiap sebagai pusat produk halal dunia. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam membuat hal tersebut sangat potensial untuk dikembangkan. Untuk memperkenalkan langkah tersebut, diadakan Indonesia Halal Expo (INDHEX) 2018 yang menghadirkan berbagai macam acara seperti pameran, seminar, dan juga gelar wicara. ...

  • Okt 29, 2018

    Rempah-Rempah Indonesia Membumbui Dunia

    Kekayaan rempah-rempah Indonesia tanpa disadari membumbui pangan dunia. Sejarah menceritakan bahwa bangsa-bangsa Eropa dan Jepang menjajah nusantara salah satu tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan rempah-rempah Indonesia seperti lada dan pala. Hingga saat ini pun kuliner dan industri pangan tak akan lepas dari rempah-rempah sebagai penghasil flavor spesifik. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada,  Supriyadi mengatakan, "Inilah 4 primadona rempah Indonesia: cengkeh, pala, kayu manis, kemudian lada." Ada beberapa bagian tanaman Indonesia yang digunakan sebagai rempah-rempah diantaranya akar, umbi, daun, kulit batang, bunga, dan buah. Adapun pemanfaatan bumbu bisa dalam bentuk segar, kering, saus, dan oleorosin. Nur ...

  • Okt 23, 2018

    Indonesia Kaya akan Kopi Unggul

    Tidak seperti tanaman lainnya, kopi diambil dari tanaman kopi bukanlah diambil dari buah atau dagingnya seperti buah-buahan lainnya melainkan bijinya. Pada awalnya biji kopi tidaklah memiliki aroma yang khas dan menyegarkan. Pembentukan cita rasa dan aroma kopi terjadi saat proses penyangraian (roasting). Reaksi yang berperan pada proses tersebut adalah reaksi Maillard yang merupakan reaksi antara gula pereduksi dan asam amino yang terkandung pada biji kopi.    Hal itu disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Pangan IPB Prof Dr C Hanny WIjaya dalam Seminar Guru dalam rangkaian kegiatan LCTIP XXVI oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan IPB di Bogor pada 6 Oktober lalu. Faktor yang memengaruhi kualitas flavor kopi yakni faktor pemanenan, penyimpanan, dan penyangraian.    Kelebihan Indonesia adalah memiliki kopi unggulan dari berbagai macam daerah yang telah diakui oleh dunia. Namun sayangnya Indonesia masih belum bisa memanfaatkan kekayaan alam tersebut, terutama masih belum bisa memaksimalkan pengemasan kopi untuk dapat dikonsumsi dengan kualitas terbaik oleh penikmat kopi.   Jenis-jenis kopi yang beredar di pasaran saat ini antara lain yakni green coffee,  dried coffee cherry, roasted coffee, decaffeinated coffee, liquid coffee, dan instant coffee. Untuk dapat menikmati kopi yang ada, maka Hanny menyarankan untuk  minum air putih dahulu sebelum minum kopi, minumlah 2-3 cangkir sehari, penambahan gula dan krim mengurangi citarasa kopi, dan tidak dianjurkan untuk ibu hamil atau menyusui. Untuk mengendalikan kafein dalam kopi, dapat dilakukan brewing dan pressing. K-08 ...