Memenuhi Syarat Keamanan Pangan Produk Daging di Ritel Modern





Dengan penduduk Indonesia yang memiliki masyarakat muslim terbesar di dunia, sistem jaminan halal menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Sistem jaminan halal dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan produk pangan yang sehat dan tidak bertentangan dengan nilai Islam. Produk hasil ternak sebagai salah satu sektor yang mendominasi pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat, sudah barang tentu sangat mendesak untuk menerapkan sistem jaminan halal. Tidak hanya halal, produk daging ayam juga harus memenuhi syarat-syarat keamanan pangan yang telah ditentukan pemerintah.

 

Pemerintah telah menetapkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan daging ayam bagi masyarakat Indonesia, harus memenuhi syarat ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal). Ada beberapa pihak yang berperan untuk menghasilkan ayam yang ASUH, mulai dari peternak, penyembelih, penjual, dan pemerintah. Pemerintah menjalankan peran sebagai pembuat kebijakan untuk menghasilkan dan menegakkan regulasi yang menentukan prosedur penyembelihan agar daging ayam halal yaitu melalui sistem jaminan halal di rumah potong ayam (HAS 23103). Dalam hal ini lembaga yang menjalankan peran penting yaitu LPPOM MUI. Sedangkan penjual terdiri dari penjual di pasar tradisional dan penjual di ritel modern seperti Superindo, Hypermart, Carrefour, dan lain-lain. Dalam hal ini, mayoritas produk ASUH ditemukan di ritel modern karena teknologi dan lingkungan yang lebih mendukung. Berbagai kriteria ditentukan oleh pengusaha ritel modern untuk menjamin kualitas produk yang masuk ke ritel. “Produk yang ASUH menjadi syarat utama produk yang masuk ke ritel-ritel kami,”pengurus Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) di Satria Hamid Ahmadi di Bogor pada 29 Mei lalu.

 

Untuk menjaga kualitas daging ayam, Satria menjelaskan, ritel-ritel modern telah menjalankan beberapa tahap dan perlakuan. Ritel-ritel ini hanya mengambil daging ayam di Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) di sekitar outlet ritel terdekat, untuk menjamin kesegaran produk. Bahkan pengusaha ritel melakukan verifikasi proses dan administrasi langsung ke RPH untuk memastikan bahwa RPHU sudah mendapatkan sertifikasi halal dan uji halal dari Kementerian Pertanian RI.

 

Lebih jauh Satria memaparkan, beberapa hal yang menjadi persyaratan produk daging ayam yang dapat masuk ke ritel yaitu tingkat kesegaran dagiing, tekstur, bau, warna, dan ukuran daging. Ritel juga melakukan pengontrolan untuk menjaga kualitas daging meliputi pengontrolan suhu (2-4ºC), pengontrolan warna daging, pengontrolan elastisitas daging, pengontrolan odor, dan pengontrolan ukuran atau berat daging sesuai dengan spesifikasi yang ada. “Jika salah satu kriteria tidak dipenuhi, daging langsung ditolak,” tegasnya. Pengontrolan kualitas produk ini dilakukan dengan mengacu kepada buku spesifikasi produk. Selain produk yang berkualitas, kondisi tempat penyimpanan produk juga menentukan kualitas daging. 

 

Produk daging di ritel ada yang secara langsung diletakkan di displai dan ada yang diletakkan di chiller. Selain kualitas produk dari suplier, pengusaha ritel juga menjaga kualitas ketika produk berada di ritel. “Personal Hygiene, label informasi kadaluarsa, dan perlakuan ketika produk di displai merupakan usaha untuk menjaga kepuasan pelanggan,”ujar Satria menjelaskan. Outlet ritel juga harus membedakan tempat penyimpanan dan peralatan yang digunakan untuk daging yang halal dan tidak halal untuk menjamin kehalalan produk.”Tidak hanya RPH, ritel juga berperan dalam menjaga kehalalan produk hingga sampai ke tangan konsumen," tandas Satria Hamid. Ahmadi.hesti

Artikel Lainnya

  • Nov 21, 2018

    Resmi Dibuka, SIAL Interfood 2018

    Industri kuliner kian berkembang di Indonesia. Berkembanganya industri kuliner di Indonesia membuat wisatawan mancanegara tertarik untuk menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata. Bahkan, wisata kuliner menempati 30% dari total pengeluaran atau belanja wisatawan. Dengan kata lain, industri kuliner sebagai salah satu penyumbang besar devisa negara.    "Industri kuliner menjadi salah satu daya tarik pariwisata tanah air. Dengan adanya pameran SIAL INTERFOOD 2018 ini, akan berdampak positif terhadap peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara. Acara ini juga akan menjadi ajang promosi dan informasi yang mampu mendorong kemajuan wisata kuliner nasional," terang Plt Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I kementerian pariwisata RI, Dra. Ni Wayan Giri A. M.Sc, dalam upacara pembukaan pameran SIAL INTERFOOD 2018 yang di selenggarakan di Jakarta pada 21 November 2018.   Pameran yang berlangsung selama empat hari ini mentargetkan 75.000 pengunjung dan akan dimeriahkan beragam program menarik. Program-program tersebut di antaranya SIAL Innovations, yaitu program acara yang memberikan penghargaan tertinggi kepada peserta atas inovasi terbaik untuk produk makanan dan industri pendukungnya, seperti pengemasan dan kontainer. Selain itu juga ada kompetisi dan perlombaan dalam bidang patiseri, teh, dan kopi yang bekerjasama dengan berbagai asosiasi.  Tidak sampai di situ, SIAL INTERFOOD juga menyelenggarakan berbagai seminar dan workshop dengan mengangkat topik yang berkaitan dengan tantangan keamanan pangan, penanganan limbah, dan pengembangan bisnis kuliner di Indonesia. KI-37 ...

  • Nov 05, 2018

    Pengenalan Sertifikasi Halal Untuk Produsen Pangan Skala UMKM

    Jaminan produk halal merupakan salah satu hal yang dipertimbangkan pada pola konsumsi pangan saat ini. Pergeseran tren ini menjadikan pemerintah berencana menerapkan kewajiban sertifikasi halal pada bulan Oktober 2019 mendatang.    Produk pangan yang diolah dari bahan halal sekalipun tetap harus memiliki sertifikasi halal agar dapat dipasarkan ke masyarakat. Implementasi kebijakan tersebut perlu menjadi perhatian karena kapasitas produksi pangan sangat beragam, mulai dari yang besar (industrial) hingga skala UMKM.    Penerapan sertifikasi halal bagi produsen pangan skala UMKM inilah yang perlu diperhatikan dan difasilitasi oleh pemerintah. “Masyarakat perlu dipahamkan tentang pentingnya jaminan produk halal beserta nilai tambah produk apabila memiliki sertifikasi halal.   Produsen UMKM banyak yang belum memperhatikan hal ini karena sertifikasi halal sampai sekarang masih bersifat sukarela,” jelas Desi Triyanti dari LPPOM MUI dalam acara Pengenalan Sertifikasi Halal Untuk UMKM sebagai rangkaian Indonesia Halal Expo (Indhex) 2018 yang diadakan pada 3 November 2018 di Smesco Convention Hall Jakarta.    Desi menekankan bahwa ada tiga hal yang harus ada untuk mempercepat proses sertifikasi halal bagi UMKM yaitu kejujuran dalam proses audit, kesadaran produsen untuk menggunakan bahan halal, dan adanya ketertelusuran komponen produk yang dihasilkan.    Partisipasi aktif para produsen pangan merupakan kunci penting keberhasilan sertifikasi. Selain dari pihak produsen, LPPOM MUI juga memfasilitasi pengajuan proses sertifikasi produk halal melalui aplikasi Cerol yang lebih efektif dan efisien. Fri-36 ...

  • Nov 03, 2018

    Jaminan Halal Ingredien Berbasis Protein

    Dalam industri pangan, obat-obatan, dan kosmetik, banyak digunakan ingredien yang diproduksi dari sumber protein hewani seperti gelatin, kolagen, dan kondroitin. Pada mulanya sebagian ingredien tersebut diproduksi dari sumber non-halal. Namun saat ini, tren konsumen khususnya pada umat muslim telah bergeser ke arah tuntutan jaminan produk halal sehingga diperlukan suatu perubahan yang menyeluruh terhadap sistem produksi ingredien tersebut.   ...

  • Nov 01, 2018

    Indonesia sebagai Pusat Produk Halal Dunia

    Indonesia tengah bersiap sebagai pusat produk halal dunia. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam membuat hal tersebut sangat potensial untuk dikembangkan. Untuk memperkenalkan langkah tersebut, diadakan Indonesia Halal Expo (INDHEX) 2018 yang menghadirkan berbagai macam acara seperti pameran, seminar, dan juga gelar wicara. ...

  • Okt 29, 2018

    Rempah-Rempah Indonesia Membumbui Dunia

    Kekayaan rempah-rempah Indonesia tanpa disadari membumbui pangan dunia. Sejarah menceritakan bahwa bangsa-bangsa Eropa dan Jepang menjajah nusantara salah satu tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan rempah-rempah Indonesia seperti lada dan pala. Hingga saat ini pun kuliner dan industri pangan tak akan lepas dari rempah-rempah sebagai penghasil flavor spesifik. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada,  Supriyadi mengatakan, "Inilah 4 primadona rempah Indonesia: cengkeh, pala, kayu manis, kemudian lada." Ada beberapa bagian tanaman Indonesia yang digunakan sebagai rempah-rempah diantaranya akar, umbi, daun, kulit batang, bunga, dan buah. Adapun pemanfaatan bumbu bisa dalam bentuk segar, kering, saus, dan oleorosin. Nur ...