Menjawab Tantangan Industri Daging Ayam Nasional





Seseorang yang berpikiran maju adalah mereka yang dapat memanfaatkan tantangan sebagai suatu peluang, bukan justru menganggapnya sebagai masalah. Terkait dengan tantangan tersebut, saat ini Indonesia sedang menghadapi tantangan global yang cukup serius, terutama dalam hal kesiapan daya saing industri daging ayam, utamanya dalam hal jaminan keamanan, mutu, dan kehalalannya.

 

“Tantangan itu jangan dihindari, tantangan justru seharusnya dihadapi,” kata Akhmad Junaidi, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Pasca Panen, Direktorat Jenderal Peternakan, Kementerian Pertanian RI dalam diskusi seputar daging ayam yang halal untuk kebutuhan masyarakat, di Bogor pada 29 Mei lalu.

 

Jika kita melihat tantangan dari segi peluang, tentunya di balik tantangan global terhadap produk daging unggas tersebut, Indonesia memiliki peluang yang besar karena jumlah penduduk Indonesia yang juga besar. Dengan jumlah penduduk lebih dari 237 juta jiwa dan laju pertumbuhan 1,49% per tahun, Indonesia merupakan pasar daging unggas yang sangat potensial.

 

Daging ayam merupakan penopang utama penyediaan protein hewani asal ternak di Indonesia. Junaidi menyebutkan bahwa pada tahun 2012, kontribusi daging ayam cukup tinggi, yaitu sebesar 1,8 juta ton baik dari ayam lokal maupun ayam ras. Kontribusi ini mencapai 66,8% terhadap produksi daging nasional. Peluang besar ini harus dapat dimanfaatkan dengan baik karena negara lain pun sudah mulai melirik peluang besar di Indonesia.

 

Junaidi menambahkan, seiring dengan meningkatnya tingkat kesejahteraan dan pendidikan masyarakat Indonesia, meningkat pula tuntutan konsumen terhadap pangan yang akan mereka konsumsi sehingga muncul berbagai segmen pasar khusus daging ayam seperti daging ayam organik, daging ayam higienis dan halal, serta daging ayam yang dihasilkan dari peternakan yang telah menerapkan kesejahteraan hewan.

 

"Senjata paling ampuh dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut adalah dengan meningkatkan daya saing produk lokal," katanya. Oleh karena itu, ia mengingatkan upaya meningkatkan daya saing produk perunggasan harus dilakukan secara simultan dengan mewujudkan harmonisasi kebijakan yang bersifat lintas kementerian baik antara pusat maupun daerah. Salah satunya adalah dengan mengimplementasikan kriteria aman, sehat, utuh dan halal (ASUH) pada produk daging unggas yang beredar.

 

ASUH merupakan suatu kriteria yang wajib dipenuhi oleh setiap pangan asal hewan yang beredar di masyarakat. Kriteria ini telah ditetapkan oleh UU No.19/2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan serta PP No.95.2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan, sebagai jaminan untuk memberikan kepercayaan kepada masyarakat terhadap produk hewan ternak termasuk unggas.

 

Dengan diimplementasikannya ASUH dalam setiap produk daging ayam, diharapkan dapat membangun kepercayaan konsumen tentang daging ayam produksi dalan negeri serta dapat membangun kecintaan masyarakat terhadap produksi dalam negeri sehingga dapat meningkatkan daya saing di pasar global. Junaidi mengingatkan agar jangan sampai produk Indonesia kalah dengan produk impor dari negara tetangga seperti Thailand yang kini bahkan sudah siap memproduksi ayam halal. “Tantangan untuk kita kini bukan lagi di Eropa ataupun Amerika, namun tantangan sudah di depan pintu rumah kita,” tandas Akhmad Juanidi. Azni

Artikel Lainnya

  • Mei 23, 2019

    Prinsip-Prinsip Dasar dalam Menjamin Keamanan Pangan

    Prinsip dasar kebersihan makanan untuk menjamin kemanan pangan yang perlu disiapkan oleh produsen antara lain sebagai berikut. Pilih resep makanan dengan seksama Saat memilih menu produk yang akan dijual, perlu mengetahui beberapa kualitas dan komposisi bahan yang digunakan. Beberapa produk pangan dapat menimbulkan reaksi alergi pada beberapa konsumen. Oleh karena itu perlu diberikan informasi yang cukup pada label pangan. Selain itu juga menu yang disajikan diharapkan dapat memberikan asupan gizi dalam jumlah yang tepat. ...

  • Mei 22, 2019

    Asupan Zat Gizi agar Tubuh Tetap Bugar

    Pada prinsipnya makanan yang dikonsumsi saat sahur dan buka harus lengkap, mengandung unsur karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Sebenarnya, kunci asupan gizi seimbang dicerminkan oleh beragam makanan yang kita konsumsi baik di saat buka maupun sahur, dan empat sehat lima sempurna merupakan cermin keberagaman makanan meski kini sudah ada acuan yang lebih lengkap, yaitu Pedoman Gizi Seimbang. ...

  • Mei 21, 2019

    Menyusun Menu yang Baik selama Bulan Ramadan

    Buah kurma, pisang, pepaya, mangga, melon, semangka, kiwi, apel, air kelapa, dan jenis buah-buahan dengan kandungan air tinggi lainnya sangat ideal sebagai menu takjil atau menu yang disegerakan untuk berbuka puasa. Sebisa mungkin mengontrol penggunaan gula pasir dalam menu puasa, karena bila berlebihan dapat memberikan dampak yang kurang baik bagi kesehatan. Selain itu penting untuk diperhatikan adalah konsumsi air putih, usahakan dari saat buka puasa sampai saat sebelum tidur minimal minum satu liter air atau sesuai kebutuhan. ...

  • Mei 20, 2019

    Panduan Sederhana Mengonsumsi Protein Nabati

    Anggapan bahwa protein nabati tidak lebih baik dari protein hewani adalah pernyataan yang tidak sepenuhnya benar. Meskipun beberapa komoditas menunjukkan kekurangan dalam komponen asam aminonya, namun banyak jalan yang bisa ditempuh untuk membuatnya setara dengan komponen protein hewani. ...

  • Mei 17, 2019

    Benarkah Protein Nabati Tidak Lengkap?

    Mutu protein bahan pangan salah satunya ditentukan oleh jenis dan proporsi asam amino yang di kandungnya. Setidaknya, terdapat 20 jenis asam amino yang terdiri dari sembilan asam amino esensial dan 11 asam amino non-esensial. Asam amino non-esensial adalah asam amino yang dapat disintesis oleh tubuh, sedangkan asam amino esensial  merupakan asam amino yang tidak dapat disintesis oleh tubuh dan didapat dari sumber pangan. ...