Waspada Cemaran Fisik dan Mikrobiologi Pada Makanan



Higiene dan sanitasi adalah faktor utama untuk mewujudkan restoran nyaman dan bersih. Rambut atau bahkan potongan lidi merupakan cemaran yang dapat menurunkan citra dari restoran tersebut. Penyedia layanan makanan, sebaiknya harus mengenal berbagai cemaran yang mungkin terjadi pada makanan.

Salah satu syarat untuk mewujudkan restoran yang baik, yaitu dengan melakukan praktek-praktek yang baik dalam pengelolaan sebuah restoran, menyangkut kebiasaan atau prosedur yang harus dikembangkan untuk meminimalkan pencemaran pada makanan. “Terdapat empat faktor penting untuk meminimalkan cemaran pada makanan, baik fisik atau mikrobiologi, diantaranya manusia, peralatan, fasilitas atau bangunan dan prosesnya, keempat komponen tersebut harus dibuat prosedur atau SOP” tutur Dr. Ratih Dewanti-Hariyadi, peneliti dari SEAFAST Center IPB.  Pekerja harus mempunyai kebiasaan yang baik dalam hal kebersihan, misalnya dengan selalu menggunakan alat pelindung pada bagian tubuh lainnya, seperti head cap atau hand gloves. Begitu juga dengan peralatan dan fasilitas, termasuk lantai dan dinding yang digunakan harus benar-benaar bersih. Selain itu, proses pemasakan pun harus dilakukan setepat mungkin sesuai dengan prosedur yang ditetapkan.

Cemaran fisik bisa terjadi melalui bahan baku, contohnya terdapat kerikil pada beras, rambut atau potongan tubuh serangga pada terigu, dan lain sebagainya.  Pengontrolan cemaran fisik dapat dilakukan oleh petugas penerimaan barang.  Mengambil bahan baku dari supplier yang memiliki Supplier Quality Insurance juga akan membantu untuk  menjamin pasokan barang yang memenuhi syarat. Lingkungan atau peralatan yang kotor juga bisa menjadi sumber cemaran fisik, karena pada lingkungan kotor serangga atau hama lain mudah sekali ditemukan.  Hal lain yang dapat menyebabkan cemaran fisik adalah pekerja. “Seorang pekerja dapat menimbulkancemaran melalui rambut atau aksesoris yang digunakan.  Jika memakai pelindung, setidaknya dapat meminimalkan resiko pencemaran,” tambah Ratih.

Pengendalian cemaran mikrobiologi juga tak berbeda dengan cemaran fisik.  Cemaran ini diatasi dari pekerja, peralatan, fasilitas, dan proses.  Namun, yang paling penting untuk mengendalikan cemaran mikrobiologi adalah proses pemasakannya dan/atau pemanasan kembali. Yang menjadi perhatian khusus, yaitu jenis makanan yang tidak diolah, seperti salad. Sebelum diolah bahan baku harus dicuci dengan pembersih anti mikroba. Jika makanan itu dimasak, maka yang menjadi pertanyaan adalah apakah makanan tersebut langsung disajikan atau disimpan kembali? Peluang tumbuhnya mikroba untuk makanan yang langsung disajikan tentu kecil tetapi jika makanan tersebut disimpan kembali dalam jangka waktu tertentu untuk disajikan maka mikroba dapat berkembang luas. ”Makanan yang tidak langsung disajikan sebaiknya disimpan pada suhu 650C atau lebih, sebab pada suhu tersebut mikroba tidak akan bisa tumbuh,” imbuh Ratih. Cemaran mikrobiologi akan semakin mudah terjadi jika makanan tidak ditutup, sendok tidak bersih atau tangan tidak menggunakan hand gloves.  Sementara itu, hal terpenting untuk mencegah pertumbuhan spora, yakni dengan mendinginkan segera makanan yang telah dimasak dengan cara diporsikan dalam jumlah yang lebih sedikit.

Artikel Lainnya

  • Feb 15, 2019

    Dangke: Produk Keju dengan Kearifan Lokal

    Dangke merupakan produk keju tradisional dari susu kerbau khas Sulawesi Selatan dan telah diproduksi sejak tahun 1905. Dangke banyak diproduksi di daerah Enrekang, Curio, Baraka, Anggeraja dan Alla. Menurut cerita, nama Dangke berasal dari bahasa Belanda, “dank u well” yang berarti terimaksih banyak. Saat itu seorang peternak kerbau memberikan olahan fermentasi susu kepada orang Belanda yang sedang melintas dan orang Belanda tersebut mengucapkan “dank je” yaitu ucapan singkat dari “dank u well”. Sejak saat itulah susu fermentasi kerbau ini disebut dangke. Dangke memiliki tekstur yang elastis, berwarna putih, dan memiliki rasa mirip dengan keju pada umumnya. ...

  • Feb 14, 2019

    Costing Menu Summer Fresh

    Summer Fresh merupakan smoothies buah mangga, pisang, dan peach yang dihaluskan dengan tambahan susu dan yogurt. Teksturnya agak kental mengandung butiran halus es buah beku yang dingin, sangat pas disajikan saat siang atau udara panas. Kaya akan vitamin C, kalium, kalsium, dan zat gizi lainnya yang bermanfaat bagi kesehatan. Penambahan yogurt selain memberi rasa asam segar juga memberikan manfaat bagi kesehatan percernaan karena mengandung probiotik. Bahan smothies ini antara lain mangga, peach, pisang, susu segar, dan yogurt. Kandungan gizi per porsinya antara lain; energi 251 kkal, protein 7,6 gram, lemak 8,2 gram, dan karbohidrat 39,8 gram. Berikut adalah costing dari Summer Fresh: ...

  • Feb 13, 2019

    Jus Martabe Khas Sumatra Utara

    Jus martabe merupakan minuman dari Sumatera Utara yang tergolong unik dan jarang dijumpai pada daerah lain. Keunikannya terletak pada bahan dasar yang digunakan yakni terong Belanda dan markisa. Martabe sendiri merupakan singkatan dari Markisa-Terong-Belanda. Jus ini tinggi serat pangan dan pektin, gula buah fruktosa, vitamin C, vitamin E, asam folat, kalium, dan magnesium. Mengonsumsi jus  martabe dapat memperbaiki kekebalan tubuh, meningkatkan kesehatan tulang, mengefektifkan sistem pembersihan racun dalam tubuh, memacu peremajaan sel, menggiatkan fungsi hati dan ginjal, serta mengatasi radang saluran kencing.   ...

  • Feb 12, 2019

    Audit untuk Menjaga Keamanan Pangan Restoran

    Salah satu usaha yang mengombinasikan antara produk dan jasa adalah restoran. Dalam menyajikan menu di restoran perlu adanya proses yang memastikan bahwa prosedur yang telah dibuat sesuai dengan praktiknya. Oleh karena itu, audit sangat dibutuhkan bagi restoran. Tujuan dari proses audit adalah sebagai proses verifikasi untuk memastikan bahwa Sistem Manajemen Keamanan yang dibentuk oleh restoran benar-benar diimplementasikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Selain itu, audit juga dilakukan sebagai evaluasi untuk memastikan apakah sistem tersebut masih dapat menjaga produk pangan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan untuk kebutuhan sertifikasi atau validasi pengesahan terhadap sistem untuk kebutuhan branding produk maupun persyaratan akan suatu bentuk status komersial.   ...

  • Feb 11, 2019

    Kecukupan Gizi Konsumen Vegetarian

    Konsumen vegetarian biasanya menghindari beberapa makanan khusunya yang menjadi sumber protein hewani. Oleh karena itu, asupan gizi seperti protein yang biasa didapat dari sumber hewani harus digantikan dari sumber lain. Menurut Prof. Ali, masalah terbesar utama yang sangat sering dialami para vegetarian adalah kekurangan asupan protein yang berkualitas dan kekurangan zat besi (Fe). Mereka bisa saja mendapatkan asupan protein dari pangan nabati. Namun, kebanyakan sumber protein dari pangan nabati tidak memiliki nilai biologis yang cukup, sehingga memerlukan proses yang lebih lama agar bisa diserap dengan baik oleh tubuh.   ...