Perubahan Iklim, Ancaman Ketahanan Pangan dan Gizi





Perubahan iklim yang terjadi secara global beberapa tahun terakhir disadari membawa dampak di berbagai aspek kehidupan, salah satunya di bidang ketahanan pangan dan gizi. Hal ini disampaikan oleh Galopong Sianturi selaku perwakilan Dirjen Bina Gizi Kementerian Kesehatan RI dan Drajat Martianto dari Departemen Gizi Masyarakat IPB dalam seminar Greenutition yang mengangkat tema The Impact of Climate Change on Nutritional Status across Nation ini diselenggarakan Di Kampus Universitas Indonesia Depok, pada 23 Oktober 2012 lalu.

Poin utama yang diketengahkan dalam seminar ini adalah alur perubahan iklim yang terjadi secara global dan bagaimana alur pengaruhnya terhadap ketahanan pangan dan gizi. Galopong menyatakan bahwa efek gas rumah kaca yang mengubah iklim secara global berpengaruh pada habitat makhluk hidup di berbagai belahan dunia, termasuk hewan dan tumbuhan sumber pangan manusia. Iklim yang berubah menyebabkan perubahan musim panen dan siklus biologis hama. Hal ini jelas berpengaruh pada hasil panen komoditas pertanian pangan yang berdampak pada ketersediaan bahan pangan di masyarakat. "Gangguan pada ketersediaan bahan pangan selanjutnya memberikan efek domino terhadap distribusi dan konsumsi pangan masyarakat, yang dapat berujung pada gangguan status gizi dan kesehatan," kata Galopong.

Drajat Martianto menambahkan, untuk menghadapi ancaman nasional ketahanan pangan dan gizi, perlu diterapkan kebijakan dan program yang relevan dan tepat sasaran. Masyarakat sebaiknya diarahkan untuk meningkatkan daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan, seperti perubahan suhu, curah hujan, serta kekeringan melalui gerakan konservasi hutan, penghematan air, penanaman pohon, menjaga kebersihan lingkungandan lain sebagainya. Revitalisasi sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG) juga menjadi hal yang penting untuk menghasilkan tindakan segera guna menangulangi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

Selain itu, intervensi pangan terhadap masyarakat untuk mencegah dan menghadapi gangguan kesehatan melalui fortifikasi dan suplementasi pangan serta penanganan kasus-kasus gizi buruk yang terjadi. "Riset-riset yang relevan juga perlu dilakukan guna mendukung ketahanan pangan dan gizi, antara lain di bidang perubahan dan konstruksi sosial yang efektif, strategi relokasi masyarakat di daerah rawan bencana, pengembangan teknologi benih yang tahan cekaman, cost-effective suplementary feeding, serta pengembangan roadmap riset gizi dan kesehatan yang berkelanjutan 10 40 tahun yang akan datang," tandas Drajat Martianto.K-35 (yusti)

Artikel Lainnya

  • Feb 15, 2019

    Dangke: Produk Keju dengan Kearifan Lokal

    Dangke merupakan produk keju tradisional dari susu kerbau khas Sulawesi Selatan dan telah diproduksi sejak tahun 1905. Dangke banyak diproduksi di daerah Enrekang, Curio, Baraka, Anggeraja dan Alla. Menurut cerita, nama Dangke berasal dari bahasa Belanda, “dank u well” yang berarti terimaksih banyak. Saat itu seorang peternak kerbau memberikan olahan fermentasi susu kepada orang Belanda yang sedang melintas dan orang Belanda tersebut mengucapkan “dank je” yaitu ucapan singkat dari “dank u well”. Sejak saat itulah susu fermentasi kerbau ini disebut dangke. Dangke memiliki tekstur yang elastis, berwarna putih, dan memiliki rasa mirip dengan keju pada umumnya. ...

  • Feb 14, 2019

    Costing Menu Summer Fresh

    Summer Fresh merupakan smoothies buah mangga, pisang, dan peach yang dihaluskan dengan tambahan susu dan yogurt. Teksturnya agak kental mengandung butiran halus es buah beku yang dingin, sangat pas disajikan saat siang atau udara panas. Kaya akan vitamin C, kalium, kalsium, dan zat gizi lainnya yang bermanfaat bagi kesehatan. Penambahan yogurt selain memberi rasa asam segar juga memberikan manfaat bagi kesehatan percernaan karena mengandung probiotik. Bahan smothies ini antara lain mangga, peach, pisang, susu segar, dan yogurt. Kandungan gizi per porsinya antara lain; energi 251 kkal, protein 7,6 gram, lemak 8,2 gram, dan karbohidrat 39,8 gram. Berikut adalah costing dari Summer Fresh: ...

  • Feb 13, 2019

    Jus Martabe Khas Sumatra Utara

    Jus martabe merupakan minuman dari Sumatera Utara yang tergolong unik dan jarang dijumpai pada daerah lain. Keunikannya terletak pada bahan dasar yang digunakan yakni terong Belanda dan markisa. Martabe sendiri merupakan singkatan dari Markisa-Terong-Belanda. Jus ini tinggi serat pangan dan pektin, gula buah fruktosa, vitamin C, vitamin E, asam folat, kalium, dan magnesium. Mengonsumsi jus  martabe dapat memperbaiki kekebalan tubuh, meningkatkan kesehatan tulang, mengefektifkan sistem pembersihan racun dalam tubuh, memacu peremajaan sel, menggiatkan fungsi hati dan ginjal, serta mengatasi radang saluran kencing.   ...

  • Feb 12, 2019

    Audit untuk Menjaga Keamanan Pangan Restoran

    Salah satu usaha yang mengombinasikan antara produk dan jasa adalah restoran. Dalam menyajikan menu di restoran perlu adanya proses yang memastikan bahwa prosedur yang telah dibuat sesuai dengan praktiknya. Oleh karena itu, audit sangat dibutuhkan bagi restoran. Tujuan dari proses audit adalah sebagai proses verifikasi untuk memastikan bahwa Sistem Manajemen Keamanan yang dibentuk oleh restoran benar-benar diimplementasikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Selain itu, audit juga dilakukan sebagai evaluasi untuk memastikan apakah sistem tersebut masih dapat menjaga produk pangan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan untuk kebutuhan sertifikasi atau validasi pengesahan terhadap sistem untuk kebutuhan branding produk maupun persyaratan akan suatu bentuk status komersial.   ...

  • Feb 11, 2019

    Kecukupan Gizi Konsumen Vegetarian

    Konsumen vegetarian biasanya menghindari beberapa makanan khusunya yang menjadi sumber protein hewani. Oleh karena itu, asupan gizi seperti protein yang biasa didapat dari sumber hewani harus digantikan dari sumber lain. Menurut Prof. Ali, masalah terbesar utama yang sangat sering dialami para vegetarian adalah kekurangan asupan protein yang berkualitas dan kekurangan zat besi (Fe). Mereka bisa saja mendapatkan asupan protein dari pangan nabati. Namun, kebanyakan sumber protein dari pangan nabati tidak memiliki nilai biologis yang cukup, sehingga memerlukan proses yang lebih lama agar bisa diserap dengan baik oleh tubuh.   ...