Roti Konde, Oleh-oleh Kota Hujan





Mungkin sebagian orang aneh dan penasaran dengan sebutan roti yang unik ini. Namun, bagi sebagian masyarakat Bogor roti yang satu ini sudah tidak asing lagi. Di kampung Arab kawasan Empang, Bogor Anda dapat menemukan roti konde yang populer ini.

Roti konde merupakan hasil modifikasi dari roti cane atau roti maryam. Meskipun bentuknya sama, namun rasa roti konde ini lebih gurih jika dibandingkan dengan roti cane. Bentuknya yang bulat tipis dan berulir membuat penganan ini dinamai ‘Roti Konde’. Ada beberapa cara untuk menikmati roti yang identik dengan daerah Timur Tengah ini, yaitu dengan mencelupkannya ke kari kambing, madu, gula, dapat diberi topping layaknya pizza ataupun diberi filling seperti burger. Tergantung selera anda yang menikmatinya! Rasanya yang lezat dan renyah membuat roti ini banyak diminati, tidak hanya masyarakat sekitar, penggemar roti ini bahkan banyak yang berasal dari luar daerah.

Askar, sang pemilik Ka Nung Bakery mengaku, usahanya ini merupakan usaha lanjutan yang telah dirintis Ibunya sejak tahun 1974 tanpa menggunakan brand name. Pada tahun 2002, ia mulai melanjutkan usaha ibunya dengan menggunakan nama Ka Nung Bakery yang diambil dari nama ‘Nur’. Selain bentuk fisiknya yang seperti konde, pemilik dari roti pun ingin memiliki khas tersendiri, yaitu berupa rasa yang khas serta nama yang unik sehingga mudah diingat. Selain roti konde, outlet ini pun menyediakan beberapa pilihan hidangan lain, seperti Rissole, Martabak Mesir, dan juga Sambosa. Karena berada di lingkungan warga Arab, maka seluruh produk bercitarasa Timur Tengah yang kaya akan rempah.

Yang menarik perhatian yaitu Asyid atau lebih populer dengan sebutan Dodol Arab, sekilas bentuk dan warnanya hampir sama dengan kue keranjang, namun di bagian puncak Asyid memiliki lubang yang diberi margarine, rasanya yang manis ditambah aroma rempah menimbulkan sensasi rasa yang khas.

Setiap harinya Askar dapat memproduksi hingga seribu buah roti konde, jika weekend tiba jumlah yang diproduksi pun bertambah. Ka Nung Bakery ini sudah memiliki cabang di Jakarta dan Bandung, dan bagi masyarakat yang berada di daerah Tarakan, Garut, Purwokerto sudah bisa menikmati roti ini karena di daerah tersebut terdapat beberapa gerai yang menyediakan roti konde Ka Nung Bakery. Harga roti konde ini sangat terjangkau, hanya dengan Rp. 2.800 anda sudah dapat menikmatinya. Sedangkan untuk Asyid dibandrol Rp. 12.000 dengan ukuran 400 gram dan untuk rissole dihargai Rp. 23.000/10 pcs. Dengan harga terjangkau dan rasanya yang lezat tidak salah jika roti ini dijadikan oleh-oleh wajib khas kota hujan.

Ka Nung Bakery
Jl. Sedane No. 23, Empang Bogor

Artikel Lainnya

  • Okt 06, 2018

    Tren Specialty Tea Indonesia

    Specialty tea merupakan teh berkualitas tinggi yang dibuat dari pucuk muda tanaman teh....

  • Okt 06, 2018

    Menu Engineering dalam Bisnis Waralaba

    Menjalankan waralaba tentu diperlukan beberapa aspek yang menyertai....

  • Okt 04, 2018

    Konsep Baru Industri Horeka Indonesia

    Perkembangan industri jasa boga saat ini semakin intensif di Indonesia....

  • Okt 01, 2018

    Pameran Bisnis Waralaba & Kafe Terbesar di tahun 2018

    Gaya hidup masyarakat Indonesia saat ini dan pertumbuhan ekonomi kelas menengah mendorong kinerja industri pengolahan kopi di dalam negeri hingga mengalami peningkatan yang signifikan. Kopi Indonesia banyak digemari dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia. Salah satu cara modern untuk menikmati kopi adalah dengan datang ke kafe. Pertumbuhan konsumsi produk kopi olahan di dalam negeri meningkat rata-rata lebih dari 7% pertahun. Melihat hal tersebut, tidak mengherankan apabila perkembangan bisnis kafe di Indonesia begitu menjanjikan. Kafe kini bukan hanya sebagai tempat untuk menikmati kopi namun telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. ...

  • Sep 22, 2018

    Sehat Tidak Selalu Tidak Enak

    Paradigma terhadap makanan yang menyehatkan masih erat dengan rasa yang tidak enak dan tidak menarik untuk dikonsumsi. Guna mendobrak paradigma tersebut, diperlukan usaha dari para pelaku kepentingan seperti praktisi kesehatan, pelaku kuliner, dan juga konsumen sebagai target utama mengubah paradigma tersebut. ...