Gerakan One Day No Rice, untuk Ketahanan Pangan dan Kesehatan





Suatu terminologi dalam dunia antropologi Indonesia menyebutkan istilah makan  bagi mayoritas masyarakat Indonesia, adalah makan nasi. Terminologi tersebut juga dibuktikan dengan jumlah knsumsi beras Indonesia yang amat tinggi yakni 104,9 kg/kap/th pada tahun 2008. Hal ini menunjukkan seberapa pentingnya nasi bagi kebutuhan pangan Indonesia.

Namun sayangnya, kebutuhan Indonesia terhadap padi (beras) tersebut tidak diimbangi dengan produksi padi di Indonesia. Isu krisis pangan yang menerpa beberapa negara juga santer berkembang di Indonesia. Tingginya laju impor beras untuk memenuhi pasokan beras di Indonesia memicu berbagai protes keras kepada kubu pemerintah. Berkaca dari protes tersebut pemerintah mencanangkan suatu program ketahanan pangan dengan konsep menggali keaneakaragam pangan lokal sebagai pengganti beras. Salah satu kegiatan dari Program besar pemerintah tersebut adalah gerakan ONE DAY NO RICE (ONDR).

One Day No Rice sebenarnya adalah merupakan program pemerintah pusat, namun saat ini program ini identik dengan program Kota Depok dikarenakan walikota Depok Nurmahmudi Ismail begitu gencar menyosialisasikan gerakan ini. Dalam talkshow dengan tema “ONE DAY NO RICE Without Rice a Day, How Does It Make Your Day?” di Kampus UI Depok pada 24 Oktober lalu, hadir tokoh-tokoh yang ahli dan berkompeten di bidangnya yakni, Wali kota Depok Nur Mahmudi Ismail sebagai pelopor ODNR di Kota Depok, Mewa Ariani selaku peneliti utama dari Badan Pengkajian Pangan dan  Cut  Kemala  Handayani selaku praktisi ahli gizi. 

One Day No Rice merupakan gerakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan sesuai dengan Perpres No.22 Th.2009 tentang Kebijakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal.  Tujuan program adalah untuk memasyarakatkan pola makan beragam, bergizi, berimbang, dan aman agar dapat meningkatkan PPH (Pola Pangan Harapan) dan mengurangi tingkat konsumsi beras sebesar 1,5% pertahun.  Gerakan ini merupakan strategi Kota Depok untuk meningkatan pengetahuan masyarakat terhadap pola hidup yang bergizi, beragam, seimbang, dan aman, peningkatan kesadaran masyarakat untuk menurunkan konsumsi beras, dan peningkatan Konsumsi Karbohidrat Non Beras Berbasis Produk Lokal.

Di wilayah Depok, Gerakan ODNR dilaksanakan setiap Hari Selasa. Kantin di wilayah perkantoran Pemerintahan Kota Depok tidak menyediakan makanan berbahan utama beras dan terigu pada hari Selasa. Setiap Selasa pula, PNS Kota Depok dihimbau untuk tidak makan makanan berbahan utama beras dan terigu. Nurmahmudi mengharapkan kesadaran ODNR ini dapat diperluas secara bertahap hingga mencakup seluruh warga Depok.

Kebijakan ODNR ini ternyata bukan hanya bermanfaat bagi ketahanan pangan Indonesia, saja tetapi juga berguna bagi kesehatan tubuh. Berasarkan pemaparan Cut Kemala, tingginya Indeks Glikemik dalam beras dapat dapat menyebabkan  kandungan gula darah meningkat. Selain itu beras juga rendah serat dan menyebabkan ketergantungan. Oleh karena itu, sebagai pengganti beras, berbagai pangan lokal seperti jagung, kentang, ubi, singkong bahkan talas dapat dijadikan sumber karbohidrat yang lebih sehat. Jadi apapun karbohidratnya yang terpenting adalah kualitas lauknya. K-35 (andin)

Artikel Lainnya

  • Apr 13, 2018

    Clean eating pada Menu Balita

    Clean eating pada menu balita dapat menjadi salah satu cara untuk memenuhi asupan gizi balita....

  • Apr 12, 2018

    Hidup Sehat Mencegah Penyakit Degeneratif

    Ada yang bilang, kondisi masa tua merupakan cerminan dari apa yang kita konsumsi di masa muda....

  • Apr 11, 2018

    Menyusun Menu Terpadu

    Dalam menjalankan bisnis restoran, hal-hal kecil yang luput diperhatikan dapat menyebabkan beberapa kendala yang signifikan....

  • Apr 10, 2018

    Tepat Menangani Katering

    Menangani katering berbeda dengan menangani sarapan setiap paginya....

  • Apr 10, 2018

    Fun Kitchen Festival: Sarana Informasi Kuliner Indonesia

    Memadukan cita rasa memang bukan perkara yang mudah tetapi, bukan berarti pula tidak mungkin untuk dilakukan. Dengan teknik, pengolahan, serta pengetahuan terhadap bahan yang tepat sebuah hidangan baru yang merupakan pencampuran dari dua hal yang berbeda. Tidak melulu soal rasa, pencampuran juga terkadang memberikan sentuhan pada penampilan maupun ukuran. Hal tersebutlah yang ingin diusung pada Fun Kitchen Festival yang mengangkat tema “Trend Modern and Traditional Food & Beverages 2018” acara yang diselenggarakan pada 13-18 Maret 2018 lalu di Atrium Tengah Mall Taman Anggrek ini berlangsung sangat meriah dengan dihadiri peserta  dari segala latar belakang. ...