Fortifikasi Pangan di Indonesia





Fortifikasi Pangan di Indonesia Fortifikasi pangan merupakan penambahan zat gizi mikro (vitamin dan/atau mineral) pada bahan makanan dalam proses pengolahan, untuk meningkatkan nilai gizi pangan yang bersangkutan. Fortifikasi pangan ini merupakan bagian dari perbaikan gizi.

Perbaikan gizi ditempuh dengan mengkonsumsi makanan keluarga sehari-hari berdasarkan gizi seimbang. Namun, sayangnya tidak semua keluarga dapat memenuhi gizi seimbang karena masalah ekonomi ataupun kurangnya pengetahuan. “Oleh sebab itu, fortifikasi merupakan salah satu upaya untuk memenuhinya,” ungkap Prof. Soekirman Guru Besar Ilmu Gizi sekaligus ketua Yayasan Kegizian Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI) dalam seminar gizi nasional di Universitas Indonesia beberapa waktu lalu.

KFI didirikan dengan misi menyebarluaskan pengetahuan tentang fortifikasi pangan, mengadvokasi pentingnya fortifikasi pangan sebagai bagian dari berbagai upaya untuk memperbaiki keadaan pangan dan gizi, kesehatan, kecerdasan serta produktivitas, menjadi mitra pemerintah dalam formulasi kebijakan, peraturan dan hukum serta implementasinya dalam fortifikasi pangan dan menyediakan data dan informasi ilmiah tentang fortifikasi pangan. Di Indonesia fortifikasi pertama kali dilakukan pada garam yang bertujuan untuk mengatasi masalah kurang yodium.

Pada tahun 1999 dilanjutkan dengan fortifikasi tepung terigu yang ditambahkan zat besi, lalu dua tahun kemudian Standar Nasional Indonesia(SNI) mewajibkan tepung terigu difortifikasi dengan zat besi, seng, vitamin B1 dan B2. “Pada awalnya program fortifikasi ini dianggap tidak berguna oleh pemerintah, namun setelah kami menunjukkan beberapa penelitian mengenai ini akhirnya pemerintah menerima dan mendukung fortifikasi pangan,” tutur Prof. Soekirman. Pada dasarnya fortifikasi terdiri dari tiga jenis, yaitu fortifikasi sukarela, fortifikasi wajib dan fortifikasi khusus.

Fortifikasi sukarela merupakan inisiatif produksi oleh produsen, bukan pemerintah. Komoditi pangan dan fortifikan yang dipakai ditentukan oleh produsen, sasarannya adalah semua orang yang sanggup membeli. Fortifikasi wajib adalah bagian dari upaya pemerintah untuk menanggulangi masalah gizi mikro yang banyak terdapat pada kelompok masyarakat tertentu (misalnya masyarakat miskin). Sedangkan fortifikasi khusus sama dengan fortifikasi wajib, hanya sasarannya kelompok masyarakat tertentu, seperti anak-anak, balita atau anak sekolah. “Pemerintah Indonesia mencanangkan fortifikasi wajib pada beberapa produk, yakni terigu dan minyak goreng, pada minyak goreng misalnya harus mengandung vitamin A sebanyak 45 IU.” Tambah Prof. Soekirman. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk fortifikasi wajib, yaitu ada masalah gizi mikro mendesak, bahan pangan yang akan difortifikasi dikonsumsi sebagian besar masyarakat, diproduksi oleh pabrik atau produsen yang jumlahnya terbatas, dan ada teknologi fortifikasi sesuai pedoman WHO. Selain itu, fortifikasi juga tidak boleh merubah rasa, warna, konsistensi, dan tidak menambah harga secara signifikan serta secara ilmiah dibuktikan fortifikasi efektif mengatasi masalah gizi mikro. K-15

Artikel Lainnya

  • Mar 20, 2019

    Diet Keto dari Sisi Gizi dan Kesehatan

    Diet keto memang dianggap efektif menurunkan berat badan (Campos, 2017). Dari segi gizi, diet keto menekankan pola asupan tinggi lemak, tapi rendah karbohidrat. Diet ini mengandalkan lemak serta protein hewani sebagai sumber energi utama dalam tubuh. Asupan karbohidrat yang berkurang drastis ini akan menyebabkan tubuh kekurangan karbohidrat dan gula, proses inilah yang disebut dengan ketosis. ...

  • Mar 19, 2019

    Upaya Menghindari Foodborne Diseases

    Sebagian besar foodborne patogen lebih menyukai lingkungan yang hangat, walaupun bisa tumbuh dalam kisaran suhu yang luas. Suhu di atas 40C dan di bawah 600C sering diacu sebagai zona berbahaya, karena bakteri patogen seperti E. Coli, Salmonella dan Listeria monocytogenes dapat berkembang biak pada suhu tersebut, sehingga menyebabkan penyakit. Menyimpan produk pangan pada suhu refrigerasi yang tepat pada suhu di bawah 40C dan memanaskan pada suhu diatas 600C, adalah usaha yang direkomendasikan agar terhidar dari foodborne disease. Oleh karena itu, penanganan pangan dari mulai bahan baku hingga distribusi harus memenuhi pedoman penanganan yang tepat, seperti: ...

  • Mar 18, 2019

    Alternatif Pola Hidup Sehat dengan Diet Ketogenik

    Diet ketogenik adalah pola konsumsi dengan tinggi lemak, cukup protein, dan rendah karbohidrat yang akan menyediakan cukup protein untuk pertumbuhan tetapi kurang karbohidrat untuk kebutuhan metabolisme tubuh. Dengan demikian, tubuh akan menggunakan lemak sebagai sumber energi, yang pada prosesnya akan menghasilkan senyawa keton. Komposisi ketogenik menyaratkan porsi lemak tinggi (75-80%), porsi protein sedang (15% – 20%), dan porsi karbohidrat rendah (5% – 10%). ...

  • Mar 15, 2019

    Menu sebagai Alat Penjual

    Menu dalam bisnis pangan di industri hotel, restoran, katering, dan bakeri (horekaba) merupakan sarana pemasaran yang penting. Menu dapat digunakan sebagai gambaran dari produk yang ditawarkan. Perencanaan menu dibuat dengan menyusun daftar secara spesifik , yaitu menentukan makanan tersebut dibuat untuk satu periode makan (sarapan, makan siang, dan makan malam) atau untuk sehari penuh termasuk snack.   ...

  • Mar 14, 2019

    Tip Menghindari Kesalahan dalam Penimbangan

    Pembuatan produk bakeri seperti roti dan pastry harus melibatkan proses perhitungan, penimbangan, dan prosedur baku yang harus diataati dalam tiap tahapannya. Penggunaan bahan-bahan seperti tepung, ragi, gula, dan bahan-bahan lain harus sesuai dengan standar formula yang sudah ditetapkan. Akurasi atau ketelitian diperlukan untuk mencegah kesalahan dalam penggunaan bahan. Berikut beberapa tip untuk menhindari kesalahan penimbangan dalam pembuatan produk bakeri.   ...