Daging dan Telur Ayam Bantu Maksimalkan Perkembangan Otak Anak






Anak-anak merupakan periode emas pertumbuhan dalam siklus hidup manusia. Selama periode tersebut, diperlukan asupan zat gizi yang memadai, terutama protein sebagai sumber pembangun tubuh. Pangan hewani seperti daging dan telur ayam merupakan salah satu sumber protein potensial yang dapat membantu memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Hal ini disampaikan oleh Staf Pengajar Departemen Gizi Masyarakat IPB Dr. Cesilia Meti Dwiriani, dalam talkshow kampanye susu, daging, dan telur di Jakarta pada awal Juli lalu. 

Kampanye diselenggarakan sebagai salah satu bentuk upaya penanggulangan beban gizi ganda yang saat ini tengah dihadapi Indonesia. Masalah gizi yang dialami mulai sejak anak-anak, tidak hanya terkait masalah gizi kurang, tetapi juga gizi lebih. Masalah gizi kurang yang masih ada hingga saat ini adalah balita pendek (stunting) dan kurus, sementara masalah gizi lebih berupa overweight maupun obesitas. Balita pendek dan kurus umunya disebabkan asupan gizi yang kurang, sementara overweight atau obesitas umumnya terjadi karena asupan zat gizi berlebih. Balita yang mengalami stunting, kurus maupun overweight akan terhambat metabolismenya. Oleh karena itu, asupan zat gizi balita perlu diawasi dengan baik agar anak dapat tumbuh dengan normal dan sehat.

Konsumsi pangan hewani yang cukup menjadi persoalan penting yang perlu dibahas. Meti menjelaskan bahwa pangan hewani termasuk daging dan telur ayam memiliki keunggulan dibandingkan sumber protein nabati, di antaranya kandungan protein dan lemak dalam daging dan telur lebih tinggi sehingga secara organoleptik memiliki rasa yang lebiih enak. Pangan hewani juga diketahui memiliki kandungan asam amino esensial lengkap sehingga dapat diserap dengan optimal oleh tubuh. Di dalam pangan hewani juga terkandung vitamin B12, yaitu vitamin yang berperan mencegah anemia dan hanya terdapat dalam pengan hewani. Keistimewaan lain pangan hewani adalah kandungan zat besi dan sengnya yang memiliki bioavailabilitas yang lebih tinggi dibandingkan sumber pangan lainnya.

”Pangan hewani perlu dikonsumsi secara bijak, artinya tidak berlebih tetapi juga tidak kurang, karena konsumsi dalam jumlah yang tidak sesuai sama-sama dapat menimbulkan masalah gizi,” tutur Meti di sela-sela diskusi. Jumlah konsumsi pangan hewani yang dianjurkan menurut Pedoman Gizi Seimbang (PGS) adalah sejumlah 2-3 sajian per hari. Jumlah tersebut sebaiknya dipadukan dengan konsumsi pangan lain membentuk pola makan yang bergizi, beragam, dan berimbang akan memberikan asupan zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. K-35 (yusti)  

Artikel Lainnya

  • Apr 13, 2018

    Clean eating pada Menu Balita

    Clean eating pada menu balita dapat menjadi salah satu cara untuk memenuhi asupan gizi balita....

  • Apr 12, 2018

    Hidup Sehat Mencegah Penyakit Degeneratif

    Ada yang bilang, kondisi masa tua merupakan cerminan dari apa yang kita konsumsi di masa muda....

  • Apr 11, 2018

    Menyusun Menu Terpadu

    Dalam menjalankan bisnis restoran, hal-hal kecil yang luput diperhatikan dapat menyebabkan beberapa kendala yang signifikan....

  • Apr 10, 2018

    Tepat Menangani Katering

    Menangani katering berbeda dengan menangani sarapan setiap paginya....

  • Apr 10, 2018

    Fun Kitchen Festival: Sarana Informasi Kuliner Indonesia

    Memadukan cita rasa memang bukan perkara yang mudah tetapi, bukan berarti pula tidak mungkin untuk dilakukan. Dengan teknik, pengolahan, serta pengetahuan terhadap bahan yang tepat sebuah hidangan baru yang merupakan pencampuran dari dua hal yang berbeda. Tidak melulu soal rasa, pencampuran juga terkadang memberikan sentuhan pada penampilan maupun ukuran. Hal tersebutlah yang ingin diusung pada Fun Kitchen Festival yang mengangkat tema “Trend Modern and Traditional Food & Beverages 2018” acara yang diselenggarakan pada 13-18 Maret 2018 lalu di Atrium Tengah Mall Taman Anggrek ini berlangsung sangat meriah dengan dihadiri peserta  dari segala latar belakang. ...