Mi jagung: pilihan alternatif diversifikasi pangan






Mi instan masih menjadi makanan favorit masyarakat Indonesia karena sifatnya yang praktis, mudah dibuat, dan mudah ditemukan diberbagai tempat. Ketergantungan Indonesia akan tepung terigu sebagai bahan baku pembuatan mi instan mungkin dapat dikurangi, jika subtitusi terhadap bahan baku tersebut bisa didapat. Tepung terigu yang digunakan sebagai bahan baku mi instan 100% masih impor. Karena itu perlu dikembangkan suatu produk pangan baru berbasis jagung untuk meningkatkan nilai ekonomis jagung sebagai salah salah satu alternatif pengganti terigu dan upaya diversifikasi pangan.

Mi berbahan baku tepung jagung telah dikembangkan oleh Tjahja Muhandri, STP, MT, dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP), Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Mi jagung yang mulai dibuat pada tahun 2008 ini berbahan baku 100% tepung jagung. Jagung yang digunakan sebagai bahan baku adalah jagung normal (bukan jagung pulut atau jagung ketan) seperti jagung P21 yang kadar amilosa-nya antara 25%-30%. Karena jika kandungan amilosa terlalu tinggi (diatas 30%) proses gelatinisasi menjadi sulit, padahal proses gelatinisasi adalah kunci keberhasilan dalam proses membuat mi jagung.  Varietas jagung lain yang dapat digunakan seperti varietas lokal yakni Lamuru, Srikandi Kuning, Sukmaraga, Bisma, maupun Arjuna.

Untuk membuat mi jagung yang tidak hancur saat dimasak atau direbus ternyata ada tips-nya. Menurut Tjahja, Selain proses gelatinisasi, mekanisme rupture (penghancuran jaringan dengan cara ditumbuk atau ditekan-tekan) juga diperlukan. “proses rupture dilakukan saat memasukan adonan mi jagung kedalam ekstruder. Saat dimasukkan kedalam ekstruder, adonan harus ditekan sekuat mungkin, alias adonan mi dijejal-jejalkan kedalam ekstruder supaya proses rupture terjadi, dan jadilah mi jagung yang tidak hancur saat direbus”.

Tekstur mi jagung kenyal seperti soun atau bihun. Mi jagung memiliki keunggulan tersendiri dibanding dengan mi berbahan terigu, antara lain gluten free, mengandung pewarna alami yakni betakaroten yang merupakan sumber vitamin E sehingga aman untuk dikonsumsi, menggunakan bahan baku lokal, memiliki indeks glikemik rendah, serta aroma dan rasanya yang gurih. FB.yunita

Artikel Lainnya

  • Apr 13, 2018

    Clean eating pada Menu Balita

    Clean eating pada menu balita dapat menjadi salah satu cara untuk memenuhi asupan gizi balita....

  • Apr 12, 2018

    Hidup Sehat Mencegah Penyakit Degeneratif

    Ada yang bilang, kondisi masa tua merupakan cerminan dari apa yang kita konsumsi di masa muda....

  • Apr 11, 2018

    Menyusun Menu Terpadu

    Dalam menjalankan bisnis restoran, hal-hal kecil yang luput diperhatikan dapat menyebabkan beberapa kendala yang signifikan....

  • Apr 10, 2018

    Tepat Menangani Katering

    Menangani katering berbeda dengan menangani sarapan setiap paginya....

  • Apr 10, 2018

    Fun Kitchen Festival: Sarana Informasi Kuliner Indonesia

    Memadukan cita rasa memang bukan perkara yang mudah tetapi, bukan berarti pula tidak mungkin untuk dilakukan. Dengan teknik, pengolahan, serta pengetahuan terhadap bahan yang tepat sebuah hidangan baru yang merupakan pencampuran dari dua hal yang berbeda. Tidak melulu soal rasa, pencampuran juga terkadang memberikan sentuhan pada penampilan maupun ukuran. Hal tersebutlah yang ingin diusung pada Fun Kitchen Festival yang mengangkat tema “Trend Modern and Traditional Food & Beverages 2018” acara yang diselenggarakan pada 13-18 Maret 2018 lalu di Atrium Tengah Mall Taman Anggrek ini berlangsung sangat meriah dengan dihadiri peserta  dari segala latar belakang. ...