Menerapkan Gaya Hidup Organis





Munculnya berbagai masalah kesehatan akibat cemaran bahan-bahan kimia berbahaya dalam pangan merupakan isu yang meresahkan masyarakat. Anjuran untuk kembali ke alam pun semakin sering digalakkan. Salah satu upaya sosialisasi konsep ini adalah dengan mengampanyekan gaya hidup organis dengan mengkonsumsi produk-produk pangan hasil pertanian organik. Bahasan ini merupakan salah satu tema talkshow Bogor Organic Festival yang diselenggarakan oleh Aliansi Organik Indonesia (AOI) pada tanggal 10 Juni lalu di pelataran Kampus IPB Baranangsiang Bogor. 

Dalam acara itu, praktisi kesehatan Rini Damayanti yang merupakan salah satu pelopor pertanian organik Indonesia, menceritakan perjuangannya menerapkan integrated farming system berbasis tanaman organik yang dimulai sejak tahun 1989 -saat sistem pertanian Indonesia berada dalam periode revolusi hijau. Rini menganjurkan kepada masyarakat untuk kembali pada sistem pertanian alami tanpa penggunaan pupuk atau pestisida kimia. Menurutnya, pola hidup sehat alami serta jauh dari bahan kimia sintetik dapat meningkatkan derajat kesehatan. “Untuk menerapkan pola hidup sehat, kita perlu senanitasa berpikir positif, memakan makanan yang baik dan benar, berolahraga secara teratur, cukup mendapat sinar matahari, serta memastikan sistem pembuangan tubuh bekerja dengan lancar,” papar Rini.

Untuk penyebarluasan informasi seputar sistem pertanian alami, sosial media merupakan salah sarana yang sangat ampuh dalam sosialisasi ide-ide hijau, karena akses masyarakat saat ini terhadap internet cukup tinggi, terutama pada remaja dan kaum muda. Namun penyebarluasan informasi saja ternyata tidak cukup. Masyarakat lebih membutuhkan teladan nyata mengenai pola hidup organis. Dalam hal ini, Fadly PADI adalah salah satu sosok  public figur yang telah menerapkan urban farming dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kebun kecil di pekarangan rumahnya, Fadly melakukan kegiatan cocok tanam dengan metode aquaphonic dan verticulture. “Motivasi saya melakukan urban farming adalah karena saya ingin mengetahui asal usul apa yang saya makan dengan menanamnya sendiri,” ungkapnya. Hal ini dapat mematahkan argumen yang menyatakan bahwa bahan pangan organik mahal dan tidak terjangkau karena ternyata bisa dihasilkan dari pekarangan rumah sendiri. Selain itu, menanggung resiko penyakit yang ditimbulkan akibat konsumsi makanan yang tercemar tentunya jauh lebih mahal daripada biaya untuk membeli pangan organik.    Mari memulai pola hidup yang lebih organis mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil, dan mulai sekarang juga. K-35 (yusti)

Artikel Lainnya

  • Feb 15, 2019

    Dangke: Produk Keju dengan Kearifan Lokal

    Dangke merupakan produk keju tradisional dari susu kerbau khas Sulawesi Selatan dan telah diproduksi sejak tahun 1905. Dangke banyak diproduksi di daerah Enrekang, Curio, Baraka, Anggeraja dan Alla. Menurut cerita, nama Dangke berasal dari bahasa Belanda, “dank u well” yang berarti terimaksih banyak. Saat itu seorang peternak kerbau memberikan olahan fermentasi susu kepada orang Belanda yang sedang melintas dan orang Belanda tersebut mengucapkan “dank je” yaitu ucapan singkat dari “dank u well”. Sejak saat itulah susu fermentasi kerbau ini disebut dangke. Dangke memiliki tekstur yang elastis, berwarna putih, dan memiliki rasa mirip dengan keju pada umumnya. ...

  • Feb 14, 2019

    Costing Menu Summer Fresh

    Summer Fresh merupakan smoothies buah mangga, pisang, dan peach yang dihaluskan dengan tambahan susu dan yogurt. Teksturnya agak kental mengandung butiran halus es buah beku yang dingin, sangat pas disajikan saat siang atau udara panas. Kaya akan vitamin C, kalium, kalsium, dan zat gizi lainnya yang bermanfaat bagi kesehatan. Penambahan yogurt selain memberi rasa asam segar juga memberikan manfaat bagi kesehatan percernaan karena mengandung probiotik. Bahan smothies ini antara lain mangga, peach, pisang, susu segar, dan yogurt. Kandungan gizi per porsinya antara lain; energi 251 kkal, protein 7,6 gram, lemak 8,2 gram, dan karbohidrat 39,8 gram. Berikut adalah costing dari Summer Fresh: ...

  • Feb 13, 2019

    Jus Martabe Khas Sumatra Utara

    Jus martabe merupakan minuman dari Sumatera Utara yang tergolong unik dan jarang dijumpai pada daerah lain. Keunikannya terletak pada bahan dasar yang digunakan yakni terong Belanda dan markisa. Martabe sendiri merupakan singkatan dari Markisa-Terong-Belanda. Jus ini tinggi serat pangan dan pektin, gula buah fruktosa, vitamin C, vitamin E, asam folat, kalium, dan magnesium. Mengonsumsi jus  martabe dapat memperbaiki kekebalan tubuh, meningkatkan kesehatan tulang, mengefektifkan sistem pembersihan racun dalam tubuh, memacu peremajaan sel, menggiatkan fungsi hati dan ginjal, serta mengatasi radang saluran kencing.   ...

  • Feb 12, 2019

    Audit untuk Menjaga Keamanan Pangan Restoran

    Salah satu usaha yang mengombinasikan antara produk dan jasa adalah restoran. Dalam menyajikan menu di restoran perlu adanya proses yang memastikan bahwa prosedur yang telah dibuat sesuai dengan praktiknya. Oleh karena itu, audit sangat dibutuhkan bagi restoran. Tujuan dari proses audit adalah sebagai proses verifikasi untuk memastikan bahwa Sistem Manajemen Keamanan yang dibentuk oleh restoran benar-benar diimplementasikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Selain itu, audit juga dilakukan sebagai evaluasi untuk memastikan apakah sistem tersebut masih dapat menjaga produk pangan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan untuk kebutuhan sertifikasi atau validasi pengesahan terhadap sistem untuk kebutuhan branding produk maupun persyaratan akan suatu bentuk status komersial.   ...

  • Feb 11, 2019

    Kecukupan Gizi Konsumen Vegetarian

    Konsumen vegetarian biasanya menghindari beberapa makanan khusunya yang menjadi sumber protein hewani. Oleh karena itu, asupan gizi seperti protein yang biasa didapat dari sumber hewani harus digantikan dari sumber lain. Menurut Prof. Ali, masalah terbesar utama yang sangat sering dialami para vegetarian adalah kekurangan asupan protein yang berkualitas dan kekurangan zat besi (Fe). Mereka bisa saja mendapatkan asupan protein dari pangan nabati. Namun, kebanyakan sumber protein dari pangan nabati tidak memiliki nilai biologis yang cukup, sehingga memerlukan proses yang lebih lama agar bisa diserap dengan baik oleh tubuh.   ...