Breakfast as A Good Business



 

Saat ini, bisnis penyediaan sarapan di Indonesia masih belum ditangani dengan baik. Dalam Seminar Foodservice yang diadakan KULINOLOGI INDONESIA dan SEAFAST Center IPB di Hotel Menara Peninsula Jakarta, 5 Agustus lalu -terungkap bahwa saat ini semakin banyak orang yang tidak sempat menyiapkan sarapan. Menurut Pemimpin Umum Majalah KULINOLOGI INDONESIA, Suseno Hadi Purnomo, kondisi tersebut dapat menjadi peluang bisnis yang sangat baik untuk industri jasa boga. Suseno memperkirakan bahwa potensi bisnis sarapan pagi secara global mencapai 40 milyar dolar. “Di Eropa dan Amerika Serikat, bisnis penyediaan sarapan sudah berkembang sangat baik. Mc Donalds, Starbucks, Taco Bell, dan Deltaco adalah contoh pemain utama yang serius menggarap bisnis tersebut,” kata Suseno. Bahkan, beberapa breakfast club juga cukup berkembang dengan baik.

Suseno menambahkan bahwa ada beberapa hal yang patut diketahui sebelum memulai bisnis sarapan pagi, yakni konsumen tidak memiliki waktu untuk persiapan dan juga untuk makan. “Oleh sebab itu dibutuhkan sarapan yang praktis, cepat disiapkan, bergizi cukup tapi ringan, tidak membuat kantuk, dan appetizing,” ungkap Suseno.

Sementara itu, Managing Director SS Restaurant Training & Management Consultant -Susanto Sukarto, pada kesempatan yang sama mengungkapkan pentingnya mengenali pasar bisnis sarapan pagi misalnya apakah konsumen merupakan penghuni perumahan, pedagang di shopping center, eksekutif perkantoran, siswa dan mahasiswa, atau orang yang sekedar lewat di lokasi kita. Pengetahuan tersebut sangat penting untuk menentukan konsep layanan dan jenis menu yang akan ditawarkan. Susanto juga mengingatkan agar pelaku bisnis sarapan pagi untuk tidak lupa menentukan food cost atau harga pokok penjualan. “Food cost meliputi pembelian, penerimaan, dan penyimpanan barang, serta pengolahan pangan yang meliputi standar resep dan porsi,” imbuh Susanto.

Pentingnya sarapan pagi

Dalam sambutannya, Pemimpin Redaksi KULINOLOGI INDONESIA dan juga Direktur SEAFAST Center IPB menekankan pentingnya sarapan pagi. “Bahkan dalam Pedoman Umum Gizi Seimbang, sarapan pagi dimasukkan dalam salah satu poin pesan dasar gizi seimbang,” kata Prof. Purwiyatno.
Sementara itu, Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB, Prof. Hardinsyah, menyatakan bahwa sejak selesai makan malam, tubuh selama 8-12 jam tidak mendapat asupan. “Pagi adalah jam biologis, di mana sarapan sangat dibutuhkan,” kata Prof. Hardinsyah yang juga Ketua Umum PERGIZI PANGAN. Beliau menambahkan, bahwa sarapan memberikan banyak manfaat antara lain meningkatkan stamina kerja, konsentrasi belajar, kenyamanan kerja dan belajar; mencegah konstipasi, hipoglikemia, pusing, gangguan stamina, kognitif, dan kegemukan; serta menanamkan prilaku dan budaya makan sehat. “Sarapan juga penting untuk memenuhi 15-35% kebutuhan harian zat gizi, tergantung jenis zat gizi,” tambah Prof. Hardinsyah.

Prof. Hardinsyah juga mengingatkan, bahwa sarapan lengkap adalah yang terdiri dari gizi seimbang yang lengkap, meliputi unsur makanan pokok, lauk pauk, buah/sayur, dan minuman. “Bukan sarapan namanya jika hanya makan saja, atau minum saja,” ujar Prof. Hardinsyah.

Ingridien pendukung sarapan pagi

Pada kesempatan seminar tersebut, juga dipresentasikan beberapa komponen yang sering ditemukan pada sarapan pagi, yakni roti, keju, dan teh.

Roti saat ini semakin populer ditemukan pada menu sarapan pagi. Apalagi dengan semakin meningkatnya kesibukan kerja, roti banyak menjadi pilihan karena kepraktisannya. Marketing Manager PT Nippon Indosari Corpindo (produsen Sari Roti), Christiana Tini Dewi, menceritakan bahwa untuk memenuhi tuntutan konsumen pihaknya memiliki motto 3H -yakni Hygiene, Healthy, dan Halal.

Teh banyak digemari sebagai pendamping sarapan dewasa ini. Popularitas teh terlihat dengan semakin banyaknya produk teh yang ditemukan di pasaran.
PR dan Promotion Manager
Teh 63, Eva Nainggolan menjelaskan bahwa terdapat tiga komponen utama di dalam teh, yakni polifenol (terdiri dari katekin dan theaflavin yang memiliki sifat antioksidan), zat gizi terutama vitamin dan mineral, serta komponen alkaloid yang terdiri dari kafein dan theofilin.

“Polifenol dalam teh memiliki daya antioksidan 100 kali lebih besar dibandingkan dengan vitamin C dan 25 kali lebih besar dibandingkan vitamin E,” ujar Eva. Hanya saja, Eva mengingatkan agar industri jasa boga dan konsumen memilih teh yang benar-benar teh, bukan hanya sekedar air yang berwarna teh.

Lebih lanjut Eva mengungkapkan bahwa ada tiga jenis teh berdasarkan proses pengolahannya, yakni teh hijau yang tanpa fermentasi, teh Oolong yang melewati proses semi fermentasi, dan teh hitam atau teh merah yang mengalami fermentasi penuh. Masing-masing teh tersebut memiliki kelebihan tersendiri. Misalnya saja teh Oolong yang memiliki kandungan polifenol yang lebih tinggi dibandingkan dua lainnya.

Keju juga sering ditemukan pada aneka produk sarapan. Salah satu penelitian terbaru mengenai keju diungkapkan oleh Peneliti SEAFAST Center IPB dan juga Wakil Pemimpin Redaksi Majalah KULINOLOGI INDONESIA, Dr. Nuri Andarwulan. Beliau mengungkapkan salah satu komponen pada keju, yakni CLA (Conjugated Linoleic Acid/Asam Linoleat Terkonjugasi), yang mampu mengurangi penimbunan lemak. Selain pada keju, CLA juga dapat ditemukan pada susu dan produk turunan lainnya seperti butter dan yoghurt.

Seminar Foodservice yang dihadiri praktisi industri jasa boga, industri pangan, dan industri pendukungnya menarik minat banyak kalangan. Hal ini terbukti dari jumlah peserta yang cukup banyak. Selain KULINOLOGI INDONESIA dan SEAFAST Center IPB, acara tersebut juga didukung oleh PT Nippon Indosari Corpindo (Sari Roti), PT Patih Raya, Teh 63, PT Dairygold Indonesia (CHEESY), Yayasan Omar Taraki Niode, Hallabeef, dan Village Coffee. K-09

Artikel Lainnya

  • Okt 06, 2018

    Tren Specialty Tea Indonesia

    Specialty tea merupakan teh berkualitas tinggi yang dibuat dari pucuk muda tanaman teh....

  • Okt 06, 2018

    Menu Engineering dalam Bisnis Waralaba

    Menjalankan waralaba tentu diperlukan beberapa aspek yang menyertai....

  • Okt 04, 2018

    Konsep Baru Industri Horeka Indonesia

    Perkembangan industri jasa boga saat ini semakin intensif di Indonesia....

  • Okt 01, 2018

    Pameran Bisnis Waralaba & Kafe Terbesar di tahun 2018

    Gaya hidup masyarakat Indonesia saat ini dan pertumbuhan ekonomi kelas menengah mendorong kinerja industri pengolahan kopi di dalam negeri hingga mengalami peningkatan yang signifikan. Kopi Indonesia banyak digemari dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia. Salah satu cara modern untuk menikmati kopi adalah dengan datang ke kafe. Pertumbuhan konsumsi produk kopi olahan di dalam negeri meningkat rata-rata lebih dari 7% pertahun. Melihat hal tersebut, tidak mengherankan apabila perkembangan bisnis kafe di Indonesia begitu menjanjikan. Kafe kini bukan hanya sebagai tempat untuk menikmati kopi namun telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. ...

  • Sep 22, 2018

    Sehat Tidak Selalu Tidak Enak

    Paradigma terhadap makanan yang menyehatkan masih erat dengan rasa yang tidak enak dan tidak menarik untuk dikonsumsi. Guna mendobrak paradigma tersebut, diperlukan usaha dari para pelaku kepentingan seperti praktisi kesehatan, pelaku kuliner, dan juga konsumen sebagai target utama mengubah paradigma tersebut. ...