Semur, Warisan Kuliner Nusantara Kebanggan Bangsa





Arus informasi dan globalisasi tampaknya telah menenggelamkan generasi muda Indonesia pada budaya-budaya impor. Muncul paradigma yang salah bahwa hal-hal yang berbau asing identik dengan modern sehingga perlu ditiru, sedangkan budaya lokal dikaitkan dengan kuno yang mesti ditinggalkan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di berbagai kalangan bahwa suatu saat pemuda Indonesia akan kehilangan jati dirinya. 

Salah satu warisan budaya lokal yang telah banyak dikesampingkan adalah dunia kuliner Indonesia. Banyak kalangan muda yang tidak tahu makanan-makanan lokal Indonesia karena terlalu banyak dijejali dengan iklan-iklan makanan a la Barat. Dalam sebuah kegiatan tentang pelestarian kuliner nusantara di SMK Jayawisata I Menteng, Jakarta pada 7 Maret lalu, Senior Brand Manager Bango Agus Nugraha dan Chef Ragil Imam Wibowo berbagi cerita tentang sejarah singkat semur. 

Menurut Agus, kuliner merupakan salah satu bentuk budaya Indonesia yang paling tidak terdokumentasi. Untuk melacak sejarah semur, pihaknya cukup kesulitan melakukan penelitian karena sumber-sumber informasi dalam negeri sangat sedikit. Bahkan, informasi tertulis tentang sejarah semur diperoleh dari perpustakaan di Melbourne dan Belanda. Diperlukan waktu dan dana yang cukup besar selama menggali informasi sejarah dan filosofi semur. Oleh karena itu, ia berharap berbagai usaha yang dilakukan oleh Kecap Bango mendapat dukungan, terutama dari komunitas-komunitas kuliner lokal. “Saat ini tim kami fokus pada penggalangan dukungan dalam mengampanyekan semur sebagai warisan kuliner Indonesia. Goal yang ingin dicapai adalah terdaftarnya semur sebagai intangible cultural heritage UNESCO,” tutur Agus. K-35 (yusti)

Artikel Lainnya