Secangkir Teh Indonesia



Oleh Prawoto Indarto

Dengan populasi penduduk yang terbilang ‘gemuk’, Indonesia memang menjadi incaran banyak negara untuk memasarkan produk mereka, tak terkecuali termasuk produk teh.

Bila berjalan-jalan di supermarket atau pasar swalayan, selain produk-produk teh lokal yang sudah dikenal, kini mulai banyak dijumpai produk teh dari Cina, Sri Lanka, Jepang, Inggris bahkan teh dari Australia. Di pasar teh Indonesia, harga produk teh ini umumnya masuk kategori premium product.
Padahal Indonesia merupakan salah satu eksportir besar teh dunia. Anehnya, banyak penduduk negeri ini yang sampai hari ini tidak menyadari bahwa Indonesia, terutama Jawa dan Sumatera, memiliki sejarah panjang di industri teh dunia. Selama puluhan tahun, Indonesia telah menjadi salah satu eksportir besar teh dunia.

Meski kafe teh mulai banyak tumbuh di kota-kota besar, namun bila konsumen meminta kepada pramusaji untuk dibuatkan teh Indonesia, bisa dipastikan mereka akan menggelengkan kepala. Memang tidak ada teh Indonesia di gerai kafe teh modern di Indonesia! Sama halnya bila konsumen meminta dibuatkan jasmine tea, yang sering dianggap sebagai tipikal teh Indonesia, para pramusaji barangkali akan memberi jasmine tea ala Chinese Tea. Di tempat bergengsi semacam gerai teh modern siap saji, Jasmine tea ala Indonesia memang sulit ditemukan. Minuman yang sempat menjadi salah satu ikon kebudayaan ini, lebih banyak ‘tersimpan’ di warung-warung ala ‘javanese’ yang tersebar di sepanjang trotoar jalan raya di wilayah Jawa Tengah seperti Solo, Yogyakarta terutama di warung ‘serba ada’ yang dikenal sebagai Angkringan.

Di luar itu, barangkali konsumen akan disodori teh Tarik yang mulai banyak dijajakan di beberapa tempat minum siap saji di mal-mal. Ini minuman teh susu khas Melayu ‘pranakan’ India. Nama Teh Tarik adalah

jelas dari kosa kata bahasa Melayu, sementara penyajian teh susu ini sangat tipikal dengan bangsa India perantauan, yang sering menggunakan trik-trik akrobatik untuk menarik perhatian calon pembeli.
Setelah susu dimasukkan ke dalam minuman teh, maka proses pencampuran antara teh dan susu dilakukan dengan cara dituang bergantian pada dua gelas. Posisi gelas satu di atas dan satu lagi di bawah. Akibatnya air teh yang bercampur susu ini seakan-akan menjadi ‘benang yang bisa ditarik’ dan bisa dimainkan oleh penyeduh teh.

Teh susu juga populer di sebagian wilayah Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Di wilayah Sumatera, teh susu kadang dicampur dengan telor sehingga disebut “teh telor” atau bila ditambah rempah-rempah disebut teh Talua.

Teh hitam untuk ekspor

Teh hitam, merupakan produk yang sangat diminati oleh pasar teh Eropa dan Amerika. Cita rasa dan aroma yang kuat hasil dari proses fermentasi atau oksidasi enzimatis ini, telah membuat sebagian besar masyarakat dunia jatuh cinta pada jenis teh ini. Sebagai gambaran, sampai dengan tahun 1990an, sekitar 80% peminum teh di dunia minum teh hitam, begitu juga sekitar 90% peminum teh di Amerika minum teh hitam.

Tidak heran bila seluruh perkebunan teh yang dirancang Belanda di pulau Jawa dan Sumatera saat itu, diproyeksikan untuk memproduksi teh hitam. Hampir 80% produksi teh nasional berupa teh hitam dimana sekitar 90% produk kualitas terbaik (first grade) untuk pasar ekspor.

Ketika Belanda keluar dari Indonesia, negeri kincir angin itu meninggalkan sekitar 235 perkebunan teh yang tersebar di wilayah Jawa dan Sumatera. Selain meninggalkan perkebunan teh, Belanda juga meninggalkan pasar ekspor yang sudah mature bagi produk teh Indonesia. Seluruh perkebunan teh tersebut kemudian dikelola oleh pemerintah ke dalam Badan Usaha bernama PT Perkebunan Nusantara. Banyaknya perkebunan teh peninggalan Belanda itu, membuat Indonesia menempati posisi sebagai 5 besar eskportir teh dunia, bersama-sama dengan Kenya, Sri Lanka, India dan Cina.

Teh melati untuk lokal

Sejarah mencatat bahwa, politik tanam paksa yang diterapkan Gubernur Jenderal van de Bosch telah menuai banyak protes. Bersamaan dengan itu, di Eropa sedang berkembang gelombang liberalisasi. Hasil dari liberalisasi yang terjadi di Eropa tersebut, ternyata juga berimbas sampai di tanah jajahan di Hindia Belanda. Pada tahun 1863, Gubernur Jenderal Sloet van den Beele mulai membuka kesempatan bagi pihak swasta untuk ikut mengembangkan tanaman teh di Hindia Belanda. Inilah yang mengawali kelahiran perkebunan teh swasta yang kemudian berkembang sangat pesat dan sebagian menjadi perkebunan teh rakyat.

Tahun 1872, Rudolf Edward Kerkhoven membawa bibit teh Assamica ke Indonesia dan mulai membuka lahan perkebunan teh di Gambung, wilayah Ciwidey, Bandung Selatan. Wilayah Ciwidey sampai Pengalengan ini kemudian lebih dikenal sebagai salah satu sentra perkebunan teh di tanah Pasundan.

Perkebunan teh swasta skala besar oleh pemerintah Belanda diarahkan untuk memproduksi teh hitam, sedang perkebunan teh rakyat selain memberi pasokan kepada perusahaan besar juga diolah menjadi teh hijau. Teh hijau dari perkebunan teh rakyat ini, kemudian diproses lebih lanjut menjadi teh wangi atau teh melati (jasmine tea) untuk konsumsi di dalam negeri. Inilah jenis teh yang sangat populer dan sempat dianggap mewakili tipikal teh Indonesia, karena menjadi minuman sehari-hari di sebagian besar keluarga Indonesia. Di luar jenis teh ini, masyarakat Indonesia waktu itu boleh dibilang memang tidak mengenal jenis teh lain.

Awal tahun 1980an, teh celup mulai memasuki pasar teh di Indonesia. Pada awal mula diperkenalkan, teh ini menawarkan sisi praktis dan ready to use dalam menyajikan teh. Meski teh celup ini merupakan representasi dari produk teh hitam, namun saat itu tidak ditawarkan sebagai teh hitam. Perkembangan teh celup di pasar teh nasional tampak sangat pesat. Sebagian besar keluarga di Indonesia mulai familiar dengan teh celup. Tidak hanya itu, ‘Warteg’ yang dulu banyak menyediakan teh melati dengan poci dan gula batu, kini juga mulai banyak yang beralih ke teh celup.

Sebagai bagian dari antisipasi atas situasi perubahan pasar teh di Indonesia, beberapa produsen teh melati seduh, saat ini mulai menggunakan teknologi teabags ini untuk membantu memasarkan produk teh melati agar tampil lebih praktis.

Cuma bedanya, kalau pada teh melati seduh bunga melati benar-benar masih sering tampil utuh, namun kalau teh melati jenis teabags, sebagian sudah mulai banyak yang menggunakan essence atau flavour.

Prawoto Indarto;
Sekretaris Indonesia TEH Lover’s
Forum Kajian Promosi Teh Indonesia.
Email: prawotoindarto@yahoo.com
mobile 0813 80 17 55 40

Artikel Lainnya

  • Nov 21, 2018

    Resmi Dibuka, SIAL Interfood 2018

    Industri kuliner kian berkembang di Indonesia. Berkembanganya industri kuliner di Indonesia membuat wisatawan mancanegara tertarik untuk menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata. Bahkan, wisata kuliner menempati 30% dari total pengeluaran atau belanja wisatawan. Dengan kata lain, industri kuliner sebagai salah satu penyumbang besar devisa negara.    "Industri kuliner menjadi salah satu daya tarik pariwisata tanah air. Dengan adanya pameran SIAL INTERFOOD 2018 ini, akan berdampak positif terhadap peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara. Acara ini juga akan menjadi ajang promosi dan informasi yang mampu mendorong kemajuan wisata kuliner nasional," terang Plt Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I kementerian pariwisata RI, Dra. Ni Wayan Giri A. M.Sc, dalam upacara pembukaan pameran SIAL INTERFOOD 2018 yang di selenggarakan di Jakarta pada 21 November 2018.   Pameran yang berlangsung selama empat hari ini mentargetkan 75.000 pengunjung dan akan dimeriahkan beragam program menarik. Program-program tersebut di antaranya SIAL Innovations, yaitu program acara yang memberikan penghargaan tertinggi kepada peserta atas inovasi terbaik untuk produk makanan dan industri pendukungnya, seperti pengemasan dan kontainer. Selain itu juga ada kompetisi dan perlombaan dalam bidang patiseri, teh, dan kopi yang bekerjasama dengan berbagai asosiasi.  Tidak sampai di situ, SIAL INTERFOOD juga menyelenggarakan berbagai seminar dan workshop dengan mengangkat topik yang berkaitan dengan tantangan keamanan pangan, penanganan limbah, dan pengembangan bisnis kuliner di Indonesia. KI-37 ...

  • Nov 05, 2018

    Pengenalan Sertifikasi Halal Untuk Produsen Pangan Skala UMKM

    Jaminan produk halal merupakan salah satu hal yang dipertimbangkan pada pola konsumsi pangan saat ini. Pergeseran tren ini menjadikan pemerintah berencana menerapkan kewajiban sertifikasi halal pada bulan Oktober 2019 mendatang.    Produk pangan yang diolah dari bahan halal sekalipun tetap harus memiliki sertifikasi halal agar dapat dipasarkan ke masyarakat. Implementasi kebijakan tersebut perlu menjadi perhatian karena kapasitas produksi pangan sangat beragam, mulai dari yang besar (industrial) hingga skala UMKM.    Penerapan sertifikasi halal bagi produsen pangan skala UMKM inilah yang perlu diperhatikan dan difasilitasi oleh pemerintah. “Masyarakat perlu dipahamkan tentang pentingnya jaminan produk halal beserta nilai tambah produk apabila memiliki sertifikasi halal.   Produsen UMKM banyak yang belum memperhatikan hal ini karena sertifikasi halal sampai sekarang masih bersifat sukarela,” jelas Desi Triyanti dari LPPOM MUI dalam acara Pengenalan Sertifikasi Halal Untuk UMKM sebagai rangkaian Indonesia Halal Expo (Indhex) 2018 yang diadakan pada 3 November 2018 di Smesco Convention Hall Jakarta.    Desi menekankan bahwa ada tiga hal yang harus ada untuk mempercepat proses sertifikasi halal bagi UMKM yaitu kejujuran dalam proses audit, kesadaran produsen untuk menggunakan bahan halal, dan adanya ketertelusuran komponen produk yang dihasilkan.    Partisipasi aktif para produsen pangan merupakan kunci penting keberhasilan sertifikasi. Selain dari pihak produsen, LPPOM MUI juga memfasilitasi pengajuan proses sertifikasi produk halal melalui aplikasi Cerol yang lebih efektif dan efisien. Fri-36 ...

  • Nov 03, 2018

    Jaminan Halal Ingredien Berbasis Protein

    Dalam industri pangan, obat-obatan, dan kosmetik, banyak digunakan ingredien yang diproduksi dari sumber protein hewani seperti gelatin, kolagen, dan kondroitin. Pada mulanya sebagian ingredien tersebut diproduksi dari sumber non-halal. Namun saat ini, tren konsumen khususnya pada umat muslim telah bergeser ke arah tuntutan jaminan produk halal sehingga diperlukan suatu perubahan yang menyeluruh terhadap sistem produksi ingredien tersebut.   ...

  • Nov 01, 2018

    Indonesia sebagai Pusat Produk Halal Dunia

    Indonesia tengah bersiap sebagai pusat produk halal dunia. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam membuat hal tersebut sangat potensial untuk dikembangkan. Untuk memperkenalkan langkah tersebut, diadakan Indonesia Halal Expo (INDHEX) 2018 yang menghadirkan berbagai macam acara seperti pameran, seminar, dan juga gelar wicara. ...

  • Okt 29, 2018

    Rempah-Rempah Indonesia Membumbui Dunia

    Kekayaan rempah-rempah Indonesia tanpa disadari membumbui pangan dunia. Sejarah menceritakan bahwa bangsa-bangsa Eropa dan Jepang menjajah nusantara salah satu tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan rempah-rempah Indonesia seperti lada dan pala. Hingga saat ini pun kuliner dan industri pangan tak akan lepas dari rempah-rempah sebagai penghasil flavor spesifik. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada,  Supriyadi mengatakan, "Inilah 4 primadona rempah Indonesia: cengkeh, pala, kayu manis, kemudian lada." Ada beberapa bagian tanaman Indonesia yang digunakan sebagai rempah-rempah diantaranya akar, umbi, daun, kulit batang, bunga, dan buah. Adapun pemanfaatan bumbu bisa dalam bentuk segar, kering, saus, dan oleorosin. Nur ...