Susu Kental Manis di Jasa Boga



Di Indonesia, susu kental manis (SKM) masih dijadikan susu konsumsi oleh sebagian masyarakat dan potensi pasarnya masih ramai. Harga SKM yang cukup terjangkau dibandingkan jenis susu lainnya, menjadi alasan kenapa masyarakat masih memilih susu kental manis untuk memenuhi asupan protein bagi tubuhnya. Kandungan gula (sukrosa) yang lebih tinggi di dalam susu kental manis, membuat susu kental manis memiliki umur simpannya panjang, yaitu sekitar 1 tahun jika kemasan belum dibuka.

Susu kental manis diperoleh dengan cara mengurangi kandungan air susu melalui proses evaporasi untuk meningkatkan total solid susu menjadi 70-72% atau dengan kepekatan tertentu, kemudian ditambahkan gula (sukrosa) sebanyak 40-45% yang juga akan bertindak sebagai pengental dan pengawet. Kandungan gizi dalam susu kental manis sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan susu segar, karena kandungan gulanya yang relatif tinggi.
Di negara maju, SKM digunakan terutama untuk campuran pada makanan.

Berdasarkan standar mutu SKM (SNI 01-2971-1998), produk SKM harus memiliki kandungan protein 7-10%, lemak 8-10%, laktosa 10-14%, sukrosa 42-48%. Jika kandungan protein lebih rendah dan kandungan gula lebih tinggi dari yang telah ditetapkan dalam standar mutu, maka produk dimasukkan dalam kelompok krimer, yaitu krimer kental manis.

Industri jasa boga biasanya menggunakan susu kental manis sebagai bahan tambahan saja. SKM dicampurkan pada berbagai produk minuman, atau dressing pada salad dan digunakan dalam jumlah secukupnya. Menu-menu yang biasanya menggunakan SKM ini antara lain puding, mousse, cokelat, minuman-minuman dengan penambahan susu seperti hot chocolate, es potong, es krim atau sebagai campuran untuk pembuatan roti, cake atau topping pada martabak. Karena harganya yang ekonomis dan sifatnya yang tahan lama, SKM masih menjadi primadona di kalangan industri jasa boga. K-12

Artikel Lainnya