Pertama di Bekasi, Festival Jajanan Bango Hadirkan Legenda Kuliner Nusantara 2011




Sekitar 45 kuliner tradisional dari berbagai pelosok Nusantara hadir untuk memuaskan selera pencintanya di Bekasi

Untuk pertama kalinya, Festival Jajanan Bago menghampiri warga Bekasi pada 23 April lalu. FJB menyapa puluhan ribu penggemar kuliner yang berkumpul di Lapangan Serbaguna, Bekasi Timur. Kota ini adalah kota persinggahan pertama dari serangkaian pelaksanaan FJB yang tahun ini hadir di lima kota baru, yaitu Bekasi, Depok, Sidoarjo, Kediri dan Malang.

Dalam sesi upacara pembukaan, Okty Damayanti, selaku Foods Director PT Unilever Indonesia Tbk.menuturkan, “FJB digelar setiap tahun sejak 2005 sebagai wujud konsistensi misi sosial Bango untuk terus mengajak masyarakat luas ikut melestarikan berbagai makanan tradisional Nusantara warisan leluhur. Tahun ini, Bango memberikan kejutan istimewa bagi para penggemar kuliner dengan mengunjungi lima kota baru, didasarkan atas keinginan untuk mendekatkan diri dengan lebih banyak lagi penggemar kuliner Nusantara dan berbagi keceriaan dan kelezatan FJB yang sudah terkenal sebagai agenda tahunan yang selalu dinantikan.”

Tahun ini FJB mengusung tema baru, yaitu “Festival Jajanan Bango – Legenda Kuliner Nusantara”. Bentuk penghargaan yang Bango tujukan kepada begitu banyak sosok legenda yang telah berjasa dalam melestarikan kuliner Nusantara melalui hidangan legendaris yang mereka persembahkan. Para legenda ini memiliki komitmen dan kecintaan yang begitu tinggi terhadap kuliner Nusantara dan telah menjadi mitra setia dan sumber inspirasi bagi Bango untuk terus mempertahankan misi sosialnya.

Bekasi terpilih sebagai salah satu kota pelaksanaan karena kota ini memiliki potensi kuliner yang cukup besar dan banyak diantaranya sudah melegenda. Hal tersebut dibenarkan oleh tamu kehormatan, Bapak Drs. R. Arief Suwardi selaku Kepala Bidang Pariwisata dari Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata kota Bekasi dalam sambutannya, “Tema ‘Legenda Kuliner Nusantara’ memang menarik untuk diangkat, karena Bekasi kaya akan potensi kuliner yang melegenda. Seiring dengan perkembangan kota Bekasi yang tahun ini berulangtahun ke 14, sektor kuliner merupakan salah satu sektor yang mengalami pertumbuhan yang pesat. Bekasi adalah rumah dari sekian banyak restoran maupun kedai yang menjajakan kuliner legendaris dari berbagai pelosok Nusantara, yang sangat menggugah selera. Terima kasih kepada Bango karena telah memilih Bekasi sebagai salah satu kota persinggahan dalam rangkaian pelaksanaan Festival Jajanan Bango 2011.”

Agus Nugraha selaku Senior Brand Manager Bango menjelaskan, ”Pemilihan sosok legenda kuliner yang hadir di FJB telah melalui proses pencarian dan pertimbangan yang cukup panjang. Mereka adalah sosok-sosok terpilih yang tak kenal lelah dalam melestarikan kuliner Nusantara. Hari ini kami menghadirkan sederetan legenda kuliner dari berbagai wilayah Nusantara, termasuk tentunya dari Bekasi sebagai tuan rumah. Kelezatan dan ketenaran mereka adalah jiwa sekaligus daya tarik utama dari FJB tahun ini.”

Salah seorang legenda kuliner asal Bekasi yang memeriahkan acara ini adalah Pondok Sate Kelinci H. Zaenal, yang sehari-hari berjualan di kawasan Kalimalang. Pondok sate ini sangat tersohor kelezatannya di seantero Bekasi. Kunci suksesnya terletak pada komitmen terhadap kualitas bahan yang digunakan, baik itu daging kelinci yang berumur tepat maupun penggunaan bumbu yang konsisten dari resep turun temurun. Untuk mencapai kesuksesan seperti sekarang, begitu banyak perjuangan yang telah mereka lewati. Pak H. Zaenal mengenang, ”Dulu saya berdagang hanya menggunakan tenda, dan itupun sempat terkena gusur secara paksa, padahal saya baru mulai perlahan-lahan mengumpulkan langganan. Akhirnya saat itu omzet penjualan saya menurun drastis. Tapi saya tidak mau berputus asa, dan tetap yakin bahwa usaha saya bisa tetap berjalan selama ada kemauan. Akhirnya, kami berhasil memiliki tempat permanen dan sampai sekarang pelangganpun semakin banyak berdatangan.” Kini dalam sehari, Pondok Sate Kelinci H. Zaenal bisa melayani puluhan hingga ratusan pelanggan selama jam operasional, jam 11 siang sampai 11 malam. 

Lain lagi kisah legenda kuliner asal Semarang, yaitu Nasi Pindang Pak Ndut. Nama usaha yang sungguh unik, terinspirasi dari nama panggilan pendirinya yang memang bertubuh besar. Saat memulai usahanya 35 tahun yang lalu, mereka mengalami masa-masa sulit, sehingga harus menjual berbagai perlengkapan rumah untuk menutup kerugian. Namun, dengan tekad memberi “sangu” untuk anak, Pak Ndut terus berjuang mempertahankan warungnya. Setelah 10 tahun akhirnya usahanya mulai memiliki pelanggan tetap sampai sekarang. Ibu Musyrifah, istri mendiang Pak Ndut berbagi cerita, ”Menu andalan kami adalah Nasi Pindang, dimana nasi dan daging disajikan dengan kuah pindang dan daun so, resepnya saya dapat dari mertua. Saya dan suami mencoba-coba untuk memanfaatkan resep tersebut untuk membuka warung, ternyata banyak yang suka.” Di tengah duka kehilangan suami tercinta tujuh bulan yang lalu, Ibu Musyrifah tetap semangat dan optimis bahwa usahanya dapat terus maju berkat dukungan pelanggan setia yang setiap hari membanjiri warungnya.

Setiap tahunnya, FJB senantiasa melakukan perbaikan dan perkembangan untuk memuaskan seluruh penggemar kuliner yang hadir. Tahun ini, selain lokasi pelaksanaan yang benar-benar baru dan tema yang istimewa, pengunjung juga akan dimanjakan dengan berbagai aktivitas dan hiburan khas FJB yang menarik bagi segala usia.

Selain demo masak di Kampung Bango yang berisikan proses pembuatan kecap Bango yang legendaris, tahun ini ada beberapa fasilitas baru yang tentunya semakin membuat betah pengunjung, seperti Balai Anak. Di tempat ini, para pengunjung dan anak mereka dapat bersantai mencoba aneka permainan tradisional di sela serunya berburu jajanan. Selain itu, ada pula sederetan hiburan seru seperti pagelaran musik tradisional dan juga games interaktif yang siap menemani pengunjung. 

”Semoga sederetan legenda kuliner yang kami persembahkan dan juga rangkaian aktivitas yang kami sediakan dalam FJB tahun ini mendapat tempat tersendiri di hati warga Bekasi dan mampu menginspirasi mereka untuk ikut melestarikan warisan kuliner Nusantara. Sampai jumpa bulan depan di kota berikutnya, Sidoarjo!” pungkas Agus.

Artikel Lainnya

  • Apr 13, 2018

    Clean eating pada Menu Balita

    Clean eating pada menu balita dapat menjadi salah satu cara untuk memenuhi asupan gizi balita....

  • Apr 12, 2018

    Hidup Sehat Mencegah Penyakit Degeneratif

    Ada yang bilang, kondisi masa tua merupakan cerminan dari apa yang kita konsumsi di masa muda....

  • Apr 11, 2018

    Menyusun Menu Terpadu

    Dalam menjalankan bisnis restoran, hal-hal kecil yang luput diperhatikan dapat menyebabkan beberapa kendala yang signifikan....

  • Apr 10, 2018

    Tepat Menangani Katering

    Menangani katering berbeda dengan menangani sarapan setiap paginya....

  • Apr 10, 2018

    Fun Kitchen Festival: Sarana Informasi Kuliner Indonesia

    Memadukan cita rasa memang bukan perkara yang mudah tetapi, bukan berarti pula tidak mungkin untuk dilakukan. Dengan teknik, pengolahan, serta pengetahuan terhadap bahan yang tepat sebuah hidangan baru yang merupakan pencampuran dari dua hal yang berbeda. Tidak melulu soal rasa, pencampuran juga terkadang memberikan sentuhan pada penampilan maupun ukuran. Hal tersebutlah yang ingin diusung pada Fun Kitchen Festival yang mengangkat tema “Trend Modern and Traditional Food & Beverages 2018” acara yang diselenggarakan pada 13-18 Maret 2018 lalu di Atrium Tengah Mall Taman Anggrek ini berlangsung sangat meriah dengan dihadiri peserta  dari segala latar belakang. ...