Semur, Turun Temurun Menghangatkan Hati Keluarga Indonesia



Menjaga kelestarian Semur sebagai bagian dari warisan tradisi kuliner Indonesia yang tersebar di berbagai penjuru nusantara

Sejak berabad-abad lalu, Indonesia yang terletak di tengah-tengah jalur perdagangan dunia telah dikenal sebagai kawasan yang memiliki kekayaan alami rempah-rempah. Bahkan bangsa Belanda memberi sebutan Gordel van Smaragden (The Belt Emeralds) bagi Indonesia karena keistimewaannya tersebut. Eksotisme citarasa rempah-rempah ini kemudian mengundang minat berbagai bangsa untuk datang ke nusantara dan melakukan ekspedisi.

Indonesia memainkan peran utama dalam rute perdagangan rempah-rempah dunia karena dianggap sebagai produsen utama rempah-rempah. Di antara rempah-rempah yang paling terkenal adalah tanaman pala dan cengkeh—yang banyak ditemukan di kepulauan Maluku. Pada masa lalu, wilayah Maluku dikenal sebagai penghasil rempah-rempah seperti cengkeh dan pala. Cengkeh adalah rempah-rempah purbakala yang telah dikenal dan digunakan ribuan tahun sebelum masehi. Pohonnya sendiri merupakan tanaman asli kepulauan Maluku (Ternate dan Tidore), yang dahulu dikenal oleh para penjelajah sebagai Spice Islands. Terdapat pula lada yang dikenal sebagai penguat rasa tertua di dunia, dihasilkan di wilayah Jawa dan Sumatra. Indonesia seolah menjadi magnet bagi para pedagang dan pendatang dari berbagai bangsa karena lokasinya yang strategis dan predikatnya sebagai pusat pengajaran Budhisme dan Hinduisme di awal Masehi.

Menurut ahli kajian budaya dan Manajer Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Dr. phil. Lily Tjahjandari,  rempah-rempah Indonesia awalnya dibawa sebagai komoditi perdagangan oleh bangsa India ke wilayah Timur Tengah dan Eropa. Bangsa Eropa kemudian mulai menjelajah ranah nusantara dalam usaha pencarian rempah-rempah yang dibutuhkan untuk pengobatan dan citarasa makanan. Ekspedisi bangsa Eropa diawali oleh bangsa Portugis, diikuti Belanda, Spanyol dan Inggris di awal abad ke-16. Pedagang dan pendatang dari Eropa tersebut masing-masing membawa budaya yang lambat laun berbaur dengan keseharian masyarakat asli Indonesia pada saat itu. Pembauran tersebut kemudian menciptakan interaksi budaya

dan mengembangkan berbagai tradisi nusantara yang istimewa, termasuk di bidang kuliner. Kekhasan citarasa rempah-rempah Indonesia berpadu dengan berbagai variasi teknik pengolahan makanan menghasilkan kreasi hidangan unik seperti Semur.  

Interaksi masyarakat Belanda dan Indonesia terutama dalam pengolahan makanan turut mengembangkan citarasa Semur. Pengaruh Eropa dihasilkan dari penamaan masakan daging rebus tersebut dari ‘smoor’ (bahasa belanda) menjadi ‘Semur’ (bahasa serapan). ‘Smoor’ dalam bahasa Belanda berarti masakan itu telah direbus dengan tomat dan bawang secara perlahan. Semur Indonesia diterima dengan baik oleh lidah Belanda dan menjadi menu utama dalam budaya Rijstafel Belanda.

Seiring berjalannya waktu, Semur kemudian melekat menjadi tradisi bangsa Indonesia dan dihidangkan di berbagai perhelatan adat. Masyarakat Betawi menjadikan Semur sebagai bagian dari tradisi yang selalu dihidangkan saat Lebaran dan acara perkawinan. Tak hanya menjadi primadona dalam kebudayaan Betawi, Semur juga kerap muncul pada acara-acara perayaan di berbagai penjuru nusantara seperti Kalimantan dan Sumatera. Tentunya, dengan citarasa dan tampilan yang disesuaikan dengan selera masyarakat setempat.

Pakar kuliner Chef Ragil Imam Wibowo menuturkan, “Tak bisa dipungkiri, beberapa jenis hidangan berikut teknik memasak di Indonesia sesungguhnya dipengaruhi oleh banyak bangsa. Esensi yang benar-benar orisinil terletak pada bahan dasar yang memang tumbuh alami di Indonesia.” Namun, adaptasi dan "interaksi" yang menarik dari berbagai pengaruh tersebut, justru menghasilkan kekayaan kuliner luar biasa yang kini dikenal sebagai ciri khas Nusantara.”
Lily Tjahjandari menambahkan, ”Menilik sejarahnya di Indonesia, Semur memang telah menjadi kuliner turun-temurun di nusantara. Setiap daerah memiliki karakteristik khasnya masing-masing dalam menghidangkan hidangan ala Semur. Identik dengan masakan rumahan yang membangkitkan nostalgia para penikmatnya akan kampung halaman masing-masing, citarasa dan isi Semur pun cukup beragam dengan elemen dasar yang dihasilkan dari rempah-rempah di Indonesia, yaitu lada, pala, cengkeh, ditambah kecap manis. Tak hanya didominasi daging ayam dan sapi, kreasi Semur juga dapat diganti dengan sumber protein lain seperti telur, tahu, tempe yang dipadukan dengan kentang dan sayur-sayuran lain.”
Menanggapi hal tersebut, Chef Ragil menyerukan imbauannya bahwa keinginan memasak Semur yang telah menjadi tradisi kuliner sejak tahun 1600-an ini perlu dibangkitkan kembali. Hal ini penting mengingat bahwa generasi saat inilah yang akan menjadi tumpuan keberlangsungan tradisi bangsa di masa depan. Karenanya, penguasaan pembuatan Semur perlu lebih ditingkatkan agar tradisi kuliner ini dapat senantiasa terjaga.

”Semur menjadi bukti nyata perkembangan budaya, tradisi dan kuliner di Indonesia. Pada berbagai daerah di Indonesia, semur hadir memberi warna pada khasanah kuliner nusantara. Cita rasanya yang unik disesuaikan dengan karakteristik tiap daerah di Indonesia menjadi kekayaan bangsa dan warisan tak  ternilai untuk generasi masa kini. Oleh karenanya, Ibu yang memegang peranan penting dalam keluarga perlu lebih sering lagi menghidangkan Semur dalam upaya menjaga keberlangsungan tradisi ini. Regenerasi terhadap penguasaan pembuatan Semur juga perlu lebih ditingkatkan agar tradisi kuliner ini dapat senantiasa terjaga,” Chef Ragil menambahkan.

Pengetahuan mengenai perjalanan sejarah dan budaya bangsa, termasuk warisan kuliner bernilai tinggi, merupakan bagian yang penting dalam pemeliharaan tradisi. Oleh karena itu, perlu ada regenerasi dalam penguasaan terhadap proses mengolah Semur agar makanan yang resepnya telah diwariskan secara turun temurun ini akan terus ada dan menghadirkan kehangatan di tengah keluarga Indonesia. (Alchemy).

Artikel Lainnya

  • Okt 06, 2018

    Tren Specialty Tea Indonesia

    Specialty tea merupakan teh berkualitas tinggi yang dibuat dari pucuk muda tanaman teh....

  • Okt 06, 2018

    Menu Engineering dalam Bisnis Waralaba

    Menjalankan waralaba tentu diperlukan beberapa aspek yang menyertai....

  • Okt 04, 2018

    Konsep Baru Industri Horeka Indonesia

    Perkembangan industri jasa boga saat ini semakin intensif di Indonesia....

  • Okt 01, 2018

    Pameran Bisnis Waralaba & Kafe Terbesar di tahun 2018

    Gaya hidup masyarakat Indonesia saat ini dan pertumbuhan ekonomi kelas menengah mendorong kinerja industri pengolahan kopi di dalam negeri hingga mengalami peningkatan yang signifikan. Kopi Indonesia banyak digemari dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia. Salah satu cara modern untuk menikmati kopi adalah dengan datang ke kafe. Pertumbuhan konsumsi produk kopi olahan di dalam negeri meningkat rata-rata lebih dari 7% pertahun. Melihat hal tersebut, tidak mengherankan apabila perkembangan bisnis kafe di Indonesia begitu menjanjikan. Kafe kini bukan hanya sebagai tempat untuk menikmati kopi namun telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. ...

  • Sep 22, 2018

    Sehat Tidak Selalu Tidak Enak

    Paradigma terhadap makanan yang menyehatkan masih erat dengan rasa yang tidak enak dan tidak menarik untuk dikonsumsi. Guna mendobrak paradigma tersebut, diperlukan usaha dari para pelaku kepentingan seperti praktisi kesehatan, pelaku kuliner, dan juga konsumen sebagai target utama mengubah paradigma tersebut. ...