Peluang Bisnis Masakan Lokal Indonesia



Potensi waralaba makanan dan minuman di Indonesia sangat besar menurut Anang Sukandar, Ketua Umum AFI (Asosiasi Franchise Indonesia) akhir Agustus lalu. “Ada sekitar 1200 potensi pasar waralaba (business opportunity) di Indonesia, tetapi kurang dari 10% yang benar-benar memenuhi persyaratan sebagai perusahaan waralaba lokal,” ujar Anang.

Sebenarnya konsep waralaba telah masuk ke Indonesia sejak tahun 1995, saat itu banyak usaha waralaba jenis fastfood dari Amerika yang masuk ke Indonesia. “Tetapi mereka tidak bertahan lama, karena belum saatnya usaha seperti itu bisa berkembang di Indonesia. Income per kapita masyarakat Indonesia saat itu tidak memenuhi target penjualan resto fastfood mereka,” cerita Anang.

Baru pada tahun 2001 mulai bermunculan usaha waralaba makanan lokal, meskipun belum banyak pemainnya. Tetapi kini, jenis waralaba makanan dan minuman lokal Indonesia makin menjamur keberadaannya, meskipun waralaba tersebut banyak yang belum memenuhi persyaratan sebagai perusahaan waralaba sebenarnya, Menurut Anang yang juga berprofesi sebagai konsultan franchise, “franchise itu sudah pasti business opportunity (BO), tetapi BO belum tentu franchise”. Menurutnya lagi, ada 8 kriteria usaha tersebut baru bisa disebut franchise, yakni Usaha yang dijalankan telah terbukti dan dipastikan sukses (proven). Bisa dibuktikan dengan laporan rugi laba selama 5 tahun usaha tersebut berdiri.

Usaha tersebut harus memiliki keunikan, berbeda dengan yang lain, tidak mudah ditiru. Keunikan tersebut bisa datang dari produk, sistem produksi, atau sistem operasinya.

Usaha tersebut memiliki contoh/prototype yang bisa dilihat dan ditiru oleh franchisee (mitra/investor).
Usaha harus mendatangkan keuntungan (profitable) bukan dalam waktu yang singkat, melainkan secara kontinyu.
Prosedur dan standar harus sudah dibukukan, sehingga ada SOP (standard operating procedure) dan konsep yang jelas untuk usaha tersebut.

Usahanya harus bisa ditransfer/dipelajari oleh orang lain dalam waktu yang singkat (0-30 hari).
Ada consumer based untuk produk yang dijual.

Suatu usaha pasti mempunyai siklus hidup yakni tahap perkembangan, pertumbuhan, kemapanan, serta tahap saturasi. Usaha yang paling baik adalah usaha yang berada dalam tahap pertumbuhan.

Jika kedelapan persyaratan tersebut berhasil dipenuhi, maka usaha tersebut bisa dibilang franchise. “Jangan sampai BO dibilang franchise, karena keduanya berbeda. Jika BO dilakukan secara konsisten, professional dan konsep usahanya matang, maka BO sangat berpotensi untuk menjadi franchise,” jelas Anang.

Ada juga tips yang disampaikan Anang untuk Anda para calon franchisee yang ingin berinvestasi baik untuk usaha jenis BO atau franchise, “lakukan investigasi secara mendalam kepada calon usaha yang akan Anda beli. Cari informasi sebanyak-banyaknya dan lakukan pilihan yang cermat dan tepat untuk usaha yang akan Anda investasikan. Pengecekkan pembukuan seperti cash flow, margin tiap bulan/tiap tahun, tingkat penjualan, target konsumen, biaya bulanan dan lainnya sangat diperlukan. Menyewa seorang konsultan franchise juga bisa dijadikan salah satu pilihan”.

Bisnis makanan tradisional Indonesia masih sangat besar peluangnya untuk dikembangkan. Kuliner dari setiap daerah di Indonesia sangat beragam.

Jika serius untuk dikembangkan, waralaba makanan khas Indonesia akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Potensi makanan lokal Indonesia untuk dijadikan bisnis sangat besar. Berbagai jenis sate, soto, baso, jajanan atau minuman khas masing-masing daerah jika diolah secara profesional akan menghasilkan income yang tidak sedikit.

Berikut contoh bisnis makanan khas Indonesia, baik yang masih BO atau yang sudah bisa disebut sebagai franchise.

Ayam Goreng Fatmawati Restoran

Siapa yang tak mengenal restoran Ayam Goreng Fatmawati? Restoran yang menyajikan ayam goreng sebagai menu andalannya. Bermula dari usaha warung nasi di daerah Ciheuleut Bogor, Ibu Fatmawati pelan-pelan merintis bisnisnya hingga menjadi seperti sekarang. Baru pada tahun 2000, Ibu Fatmawati bekerjasama dengan Dr. Ir. Erliza Hambali, dan Ibu Ratna Permanik secara profesional mendirikan perusahaan yakni PT Ayam Goreng Fatmawati Indonesia (PT AGFI). Tujuannya tak muluk-muluk. Selain ingin mendapatkan keuntungan tentu saja, perusahaan ini diharapkan dapat meningkatkan lapangan pekerjaan, dan melestarikan masakaan khas Indonesia.

Restoran Ayam Goreng Fatmawati merupakan restoran cepat saji yang menyajikan menu-menu khas Indonesia dengan menu andalan Ayam Goreng Kuning dan Ayam Bakar dengan paduan bumbu dan rempah khas Indonesia.

Konsep yang ditawarkan oleh PT AGFI adalah restoran franchise. “Kami sudah memiliki SOP baku yang sudah terbukti (proven) lebih dari 7 tahun, baik untuk penyajian makanan, karyawan, materi promosi, perjanjian kerjasama, dan sebagainya, yang dapat digunakan sebagai acuan bagi franchisee yang ingin berinvestasi di PT AGFI,” jelas Marketing Manager PT AGFI, Firman Rudiyanto.

Outlet dan franchise restoran Ayam Goreng Fatmawati telah tersedia di seluruh Indonesia, mulai dari Banda Aceh hingga Papua, “total hingga kini ada 56 outlet dan restoran Ayam Goreng Fatmawati di seluruh Indonesia”, tambah Firman.
PT AGFI selalu melakukan research dan kontrol terhadap proses produksi, teknik penyimpanan, dan penanganan makanan. Untuk menjaga citarasa masakan, PT AGFI menciptakan bumbu powder dari rempah alami. Bumbu tersebut yang dikirim ke seluruh outlet PT AGFI, sehingga rasa, aroma, warna dan citarasa masakan dari satu outlet dengan outlet lainnya sama.

Info Franchise :
Firman Rudiyanto
PT Ayam Goreng Fatmawati Indonesia
Kinanti Office Hotel Salak The Heritage 2nd Floor
Jln. Ir. H. Juanda No.8 Bogor 16121
(0251) 8347620

 

Cendol De Keraton

Es cendol namanya jika di Jakarta atau Jawa Barat, berubah menjadi es dawet jika dibawa ke Banjarnegara/Jawa Tengah. Cendol sekarang dikemas eksklusif dan dibungkus menjadi bisnis minuman yang sangat menjanjikan.

Cendol yang tadinya dijajakan di pinggir jalan dengan gerobak yang ‘ndeso’ kini masuk ke mal-mal dengan tampilan yang lebih menawan. Hal ini dibuktikan oleh Mee Mee, sang empunya Cendol De Keraton yang ditemui KULINOLOGI di dapurnya Agustus lalu. Usaha cendol yang dirintisnya sejak 3 tahun lalu berbuah manis kini. Dari usaha coba-coba, kini Mee Mee dengan serius menekuni dan mengembangkan bisnis cendolnya. “Cendol De Keraton sudah memiliki sekitar 30 outlet di Jabodetabek, 20 diantaranya bersifat kemitraan.” Jelas Mee Mee. Usaha cendol Mee Mee belum termasuk kedalam usaha franchise, tetapi business oppurtunity (BO) yang akan terus berkembang menjadi sebuah usaha franchise nantinya, jika serius dan profesional dalam pengelolaannya.

Cendol diproduksi sendiri oleh Mee Mee, secara manual. “Cendol diproduksi di satu dapur untuk semua outlet dan mitra, jadi citarasa, bentuk, dan takaran cendol sama di setiap outlet”, ulas Mee Mee. Life cycle dari produk Mee Mee juga tidak lama, karena semua bahan yang digunakan fresh, khususnya santan yang kerentanannya paling tinggi.
Menurut Mee Mee, bisnis minuman cendol sangat menjanjikan, dengan modal hanya sekitar 3 juta rupiah, Anda sudah bisa menjadi mitra untuk bisnis minuman seperti ini. “Tanpa kita harus bersusah payah membuat, menyiapkan dan menyajikannya, kita sudah dapat berbisnis dan menghasilkan untung,” Tambah Mee Mee.

Info Kemitraan:
Mee Mee
Cendol De Keraton
Jalan Permata No. 39 Perum Villa Duta, Bogor

 

Tela-Tela

Nama kerennya cassava, tetapi di Jawa, singkong dikenal dengan nama tela. Melihat singkong diolah menjadi keripik sudah biasa, bagaimana jika singkong dijadikan makanan camilan kaya rasa? Hal itu yang dilakukan 4 sekawan asal Yogyakarta Eko Yulianto, Fath Aulia, Asyhari Tamimi, dan Febri Triyanto.

Singkong yang biasanya digoreng, direbus atau dijadikan keripik, kini diolah sedemikian rupa sehingga menjadi camilan kaya rasa dengan tampilan modern, dan siapa sangka bisnis tela ini beromset hingga milyaran rupiah. Dimulai pada September 2005, empat sekawan ini mendirikan Tela-Tela yakni camilan dari singkong yang dimodifikasi ala french fries. Singkong yang diiris-iris seperti french fries ini kemudian digoreng dan ditaburi dengan berbagai bumbu perasa mulai dari keju, pedas, manis, jagung dan lainnya. Tidak memerlukan waktu yang lama, makanan ini pun terkenal ke seantero Yogya, bahkan satu tahun setelah pendiriannya banyak yang berminat untuk menjadi mitra Tela-Tela. Mulailah empat sekawan ini lebih serius dalam menyusun SOP perjanjian kerjasama untuk sistem kemitraan. Sejak saat itu Tela-Tela melebarkan sayap menjadi perusahaan waralaba, dan hanya dalam waktu 1 tahun 100 outlet Tela-Tela telah berdiri.

Sistem kemitraan terus dikembangkan oleh Tela-Tela hingga seluruh Indonesia. Dengan harga waralaba sekitar 7,5 juta rupiah, franchisee sudah bisa mendapatkan kontrak dari Tela-Tela selama 2 tahun. “After sales services juga terus kami lakukan. Mulai dari training untuk pengolahan Tela-Tela, pemilihan bahan baku, hingga pada penyajian. Jika omset penjualan outlet franchisee turun, maka kami langsung turun tangan membantu mencarikan solusinya agar sales/penjualan meningkat”, jelas Wayan Sandi, Branch Manager Tela-Tela area Jabodetabek. K-12

Info franchise (JABODETABEK):
Wayan Sandi
Tela-Tela
Jalan Srikandi II No. 38 03/17 Komplek BKPM
Depok II Tengah 16411

Artikel Lainnya

  • Nov 05, 2018

    Pengenalan Sertifikasi Halal Untuk Produsen Pangan Skala UMKM

    Jaminan produk halal merupakan salah satu hal yang dipertimbangkan pada pola konsumsi pangan saat ini. Pergeseran tren ini menjadikan pemerintah berencana menerapkan kewajiban sertifikasi halal pada bulan Oktober 2019 mendatang.    Produk pangan yang diolah dari bahan halal sekalipun tetap harus memiliki sertifikasi halal agar dapat dipasarkan ke masyarakat. Implementasi kebijakan tersebut perlu menjadi perhatian karena kapasitas produksi pangan sangat beragam, mulai dari yang besar (industrial) hingga skala UMKM.    Penerapan sertifikasi halal bagi produsen pangan skala UMKM inilah yang perlu diperhatikan dan difasilitasi oleh pemerintah. “Masyarakat perlu dipahamkan tentang pentingnya jaminan produk halal beserta nilai tambah produk apabila memiliki sertifikasi halal.   Produsen UMKM banyak yang belum memperhatikan hal ini karena sertifikasi halal sampai sekarang masih bersifat sukarela,” jelas Desi Triyanti dari LPPOM MUI dalam acara Pengenalan Sertifikasi Halal Untuk UMKM sebagai rangkaian Indonesia Halal Expo (Indhex) 2018 yang diadakan pada 3 November 2018 di Smesco Convention Hall Jakarta.    Desi menekankan bahwa ada tiga hal yang harus ada untuk mempercepat proses sertifikasi halal bagi UMKM yaitu kejujuran dalam proses audit, kesadaran produsen untuk menggunakan bahan halal, dan adanya ketertelusuran komponen produk yang dihasilkan.    Partisipasi aktif para produsen pangan merupakan kunci penting keberhasilan sertifikasi. Selain dari pihak produsen, LPPOM MUI juga memfasilitasi pengajuan proses sertifikasi produk halal melalui aplikasi Cerol yang lebih efektif dan efisien. Fri-36 ...

  • Nov 03, 2018

    Jaminan Halal Ingredien Berbasis Protein

    Dalam industri pangan, obat-obatan, dan kosmetik, banyak digunakan ingredien yang diproduksi dari sumber protein hewani seperti gelatin, kolagen, dan kondroitin. Pada mulanya sebagian ingredien tersebut diproduksi dari sumber non-halal. Namun saat ini, tren konsumen khususnya pada umat muslim telah bergeser ke arah tuntutan jaminan produk halal sehingga diperlukan suatu perubahan yang menyeluruh terhadap sistem produksi ingredien tersebut.   ...

  • Nov 01, 2018

    Indonesia sebagai Pusat Produk Halal Dunia

    Indonesia tengah bersiap sebagai pusat produk halal dunia. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam membuat hal tersebut sangat potensial untuk dikembangkan. Untuk memperkenalkan langkah tersebut, diadakan Indonesia Halal Expo (INDHEX) 2018 yang menghadirkan berbagai macam acara seperti pameran, seminar, dan juga gelar wicara. ...

  • Okt 29, 2018

    Rempah-Rempah Indonesia Membumbui Dunia

    Kekayaan rempah-rempah Indonesia tanpa disadari membumbui pangan dunia. Sejarah menceritakan bahwa bangsa-bangsa Eropa dan Jepang menjajah nusantara salah satu tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan rempah-rempah Indonesia seperti lada dan pala. Hingga saat ini pun kuliner dan industri pangan tak akan lepas dari rempah-rempah sebagai penghasil flavor spesifik. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada,  Supriyadi mengatakan, "Inilah 4 primadona rempah Indonesia: cengkeh, pala, kayu manis, kemudian lada." Ada beberapa bagian tanaman Indonesia yang digunakan sebagai rempah-rempah diantaranya akar, umbi, daun, kulit batang, bunga, dan buah. Adapun pemanfaatan bumbu bisa dalam bentuk segar, kering, saus, dan oleorosin. Nur ...

  • Okt 23, 2018

    Indonesia Kaya akan Kopi Unggul

    Tidak seperti tanaman lainnya, kopi diambil dari tanaman kopi bukanlah diambil dari buah atau dagingnya seperti buah-buahan lainnya melainkan bijinya. Pada awalnya biji kopi tidaklah memiliki aroma yang khas dan menyegarkan. Pembentukan cita rasa dan aroma kopi terjadi saat proses penyangraian (roasting). Reaksi yang berperan pada proses tersebut adalah reaksi Maillard yang merupakan reaksi antara gula pereduksi dan asam amino yang terkandung pada biji kopi.    Hal itu disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Pangan IPB Prof Dr C Hanny WIjaya dalam Seminar Guru dalam rangkaian kegiatan LCTIP XXVI oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan IPB di Bogor pada 6 Oktober lalu. Faktor yang memengaruhi kualitas flavor kopi yakni faktor pemanenan, penyimpanan, dan penyangraian.    Kelebihan Indonesia adalah memiliki kopi unggulan dari berbagai macam daerah yang telah diakui oleh dunia. Namun sayangnya Indonesia masih belum bisa memanfaatkan kekayaan alam tersebut, terutama masih belum bisa memaksimalkan pengemasan kopi untuk dapat dikonsumsi dengan kualitas terbaik oleh penikmat kopi.   Jenis-jenis kopi yang beredar di pasaran saat ini antara lain yakni green coffee,  dried coffee cherry, roasted coffee, decaffeinated coffee, liquid coffee, dan instant coffee. Untuk dapat menikmati kopi yang ada, maka Hanny menyarankan untuk  minum air putih dahulu sebelum minum kopi, minumlah 2-3 cangkir sehari, penambahan gula dan krim mengurangi citarasa kopi, dan tidak dianjurkan untuk ibu hamil atau menyusui. Untuk mengendalikan kafein dalam kopi, dapat dilakukan brewing dan pressing. K-08 ...