Melestarikan Aneka Masakan Tradisional Lewat Festival



Pada bulan Mei terdapat dua acara yang besar di tempat yang berbeda tapi memiliki satu kesamaan yaitu keduanya menawarkan kepada pengunjung aneka masakan tradisional yang membuat pencinta kuliner Indonesia semakin ketagihan untuk mencicipinya. Festival Jajanan Bango (FJB) dan Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) adalah nama kedua acara tersebut. Akhirnya Kota Jakarta menjadi kota yang mampu menghadirkan ratusan masakan tradisional sekaligus ratusan penjaja makanannya pula.

Festival Jajanan Bango adalah acara yang memasuki tahun kelima dan diselenggarakan oleh PT Unilever Indonesia. Acara yang digelar selama dua hari pada 23-24 Mei di Plaza Selatan Gelora Bung Karno Senayan Jakarta ini, mengangkat tema kekuatan sepenuh hati (The Power of Whole heartedness).

Para pedagang yang memang sudah terbiasa menggunakan bahan masakan yang salah satunya adalah kecap tampaknya sudah terwakili semua di acara ini. Maklum saja kalau dilihat sepintas banyak sekali olahan makanan khas Indonesia yang memang menggunakan kecap sebagai salah satu bahannya.

Para pedagang yang hadir juga menurut Memoria Dwi Prasita, Brand Manager Kecap Bango, adalah mereka yang sudah dipilih dengan seleksi berdasarkan keunggulan yang sudah ditetapkan. Kriteria yang dimaksud adalah punya resep warisan leluhur. Kedua, memiliki bahan baku yang spesial. Contohnya, makanan bubur Mang Oyok dari Bandung harus menggunakan beras dari Majalengka. Ketiga, cara memasaknya istimewa. Contohnya, makanan nasi ulam Bu Yoyok dari Jakarta yang memasaknya menggunakan dandang kuningan yang tidak ganti sejak 1952. Dan kriteria keempat adalah cara penyajian, misalnya menggunakan daun pisang.

Beberapa masakan yang hadir dalam acara ini antara lain ragam nasi goreng, ayam goreng dan bakar, sate ayam, kambing dan sapi, soto ayam dan sapi, bubur ayam, bakso dan bakwan, dan berbagai macam masakan lainnya yang berasal dari berbagai daerah lainnya.
“ Melalui acara ini, kami ingin mengajak masyarakat luas untuk melestarikan aneka masakan tradisional yang sudah dikenal luas dan dinikmati secara turun- temurun dimana keberadaannya saat ini kalah populer dengan makanan siap saji dari mancanegara,” papar Memor. “Dalam festival kuliner inilah kita bisa memperkenalkan salah satu kekayaan budaya Nusantara, terutama keanekaragaman makanannya,” tambahnya.

Acara ini benar-benar lebih memanjakan para pengunjung. Sambil menyantap kelezatan aneka makanan dan jajanan khas nusantara, mereka juga bisa melihat berbagai acara hiburan lainnya seperti berbagai macam kesenian tradisional ikut meramaikan acara ini, seperti pagelaran tari khas Betawi dan Barongsai dengan aksi yang penuh kejutan. Juga tampil penyanyi tenar Kris Dayanti yang menghibur pengunjung pada malam harinya. Khusus untuk para pengunjung yang membawa balita dan anak kecil, tersedia juga tempat bermain untuk anak, sehingga FJB dapat menjadi hiburan bagi seluruh anggota keluarga.

Jakarta Fashion & Food Festival

Selain FJB, pada saat bersamaan juga hadir Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) yang digelar pada 13-23 Mei 2009 dan di selenggarakan oleh PT Summarecon Agung. Meskipun ada acara fashion yang terlihat semarak, food festival juga menjadi salah satu acara yang menarik. Maklum selama ini kawasan Kelapa Gading Jakarta juga dikenal sebagai kota sejuta makanan.

Menurut Humas Jakarta Fashion & Food Festival, Afnita Sari tema Locafore yang diusung dalam JFFF 2009 ini, menjadi benang merah yang mewarnai seluruh konsep acara, termasuk Food Festival yang menjadi salah satu acara utama, selain Fashion Extravaganza dan Gading Carnival. Tema yang diambil adalah gerakan gaya hidup baru yang ramah lingkungan dengan cara mengonsumsi produk dan budaya lokal, dengan tujuan berperan aktif dalam upaya pelestarian lingkungan, serta mengembangkan potensi keragaman seni budaya tanah air.

Ada beberapa beberapa acara unggulan dalam rangkaian Food Festival ini, seperti Kampoeng Doeloe, serta kompetisi dan demo masak. Kampoeng Tempo Doeloe adalah bagian yang paling menarik perhatian pengunjung. Karena konsep ini dibuat sedemikian rupa di area terbuka di pelataran La Piazza yang dibangun dengan nuansa ala perkampungan kota Jakarta zaman kolonial. Area ini dilengkapi pula dengan miniatur Monas, sebagai ikon kota Jakarta dan area kampung pecinaan yang sudah popular sejak Jakarta zaman baheula.

Kampoeng Tempo Doeloe yang sudah hadir pada JFFF 2006 ini senantiasa menghadirkan masakan khas tradisional Indonesia. Disamping puluhan ragam jenis masakan, kalau tahun sebelumnya menghadirkan Festival Nasi Nusantara, maka pada JFFF tahun ini menampilkan Aneka Soto Nusantara, yang terdiri dari Soto Medan, Soto Padang, Soto Madura, Soto Ambengan, Soto Kudus dan Soto Betawi.

Selain itu, transaksinya juga unik, karena dengan menggunakan kupon berbentuk lembaran uang tempo doeloe. Area ini juga dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan khas tradisional, seperti Tari Betawi, Layar Tanjep, Wayang Potehi, pengamen keliling,

Topeng Monyet, Wayang Potehi, dan sebagainya

Acara juga semakin semarak dengan diadakannya lomba makan es krim. Acara yang diselenggarakan atas kerjasama dengan Haagen Dazs dan New Zealand. Selain itu demo Kreasi Bubur Nusantara Bersama Super Bubur yang akan dibawakan oleh Rudy Choiruddin. Tidak ketinggalan juga acara “Yuk Makan Gratiiiiis Sepuasnya” yang berlangsung selama 1 jam untuk 100 pendaftar pertama di seluruh area food court MKG. K-10

 

Artikel Lainnya

  • Nov 21, 2018

    Resmi Dibuka, SIAL Interfood 2018

    Industri kuliner kian berkembang di Indonesia. Berkembanganya industri kuliner di Indonesia membuat wisatawan mancanegara tertarik untuk menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata. Bahkan, wisata kuliner menempati 30% dari total pengeluaran atau belanja wisatawan. Dengan kata lain, industri kuliner sebagai salah satu penyumbang besar devisa negara.    "Industri kuliner menjadi salah satu daya tarik pariwisata tanah air. Dengan adanya pameran SIAL INTERFOOD 2018 ini, akan berdampak positif terhadap peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara. Acara ini juga akan menjadi ajang promosi dan informasi yang mampu mendorong kemajuan wisata kuliner nasional," terang Plt Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I kementerian pariwisata RI, Dra. Ni Wayan Giri A. M.Sc, dalam upacara pembukaan pameran SIAL INTERFOOD 2018 yang di selenggarakan di Jakarta pada 21 November 2018.   Pameran yang berlangsung selama empat hari ini mentargetkan 75.000 pengunjung dan akan dimeriahkan beragam program menarik. Program-program tersebut di antaranya SIAL Innovations, yaitu program acara yang memberikan penghargaan tertinggi kepada peserta atas inovasi terbaik untuk produk makanan dan industri pendukungnya, seperti pengemasan dan kontainer. Selain itu juga ada kompetisi dan perlombaan dalam bidang patiseri, teh, dan kopi yang bekerjasama dengan berbagai asosiasi.  Tidak sampai di situ, SIAL INTERFOOD juga menyelenggarakan berbagai seminar dan workshop dengan mengangkat topik yang berkaitan dengan tantangan keamanan pangan, penanganan limbah, dan pengembangan bisnis kuliner di Indonesia. KI-37 ...

  • Nov 05, 2018

    Pengenalan Sertifikasi Halal Untuk Produsen Pangan Skala UMKM

    Jaminan produk halal merupakan salah satu hal yang dipertimbangkan pada pola konsumsi pangan saat ini. Pergeseran tren ini menjadikan pemerintah berencana menerapkan kewajiban sertifikasi halal pada bulan Oktober 2019 mendatang.    Produk pangan yang diolah dari bahan halal sekalipun tetap harus memiliki sertifikasi halal agar dapat dipasarkan ke masyarakat. Implementasi kebijakan tersebut perlu menjadi perhatian karena kapasitas produksi pangan sangat beragam, mulai dari yang besar (industrial) hingga skala UMKM.    Penerapan sertifikasi halal bagi produsen pangan skala UMKM inilah yang perlu diperhatikan dan difasilitasi oleh pemerintah. “Masyarakat perlu dipahamkan tentang pentingnya jaminan produk halal beserta nilai tambah produk apabila memiliki sertifikasi halal.   Produsen UMKM banyak yang belum memperhatikan hal ini karena sertifikasi halal sampai sekarang masih bersifat sukarela,” jelas Desi Triyanti dari LPPOM MUI dalam acara Pengenalan Sertifikasi Halal Untuk UMKM sebagai rangkaian Indonesia Halal Expo (Indhex) 2018 yang diadakan pada 3 November 2018 di Smesco Convention Hall Jakarta.    Desi menekankan bahwa ada tiga hal yang harus ada untuk mempercepat proses sertifikasi halal bagi UMKM yaitu kejujuran dalam proses audit, kesadaran produsen untuk menggunakan bahan halal, dan adanya ketertelusuran komponen produk yang dihasilkan.    Partisipasi aktif para produsen pangan merupakan kunci penting keberhasilan sertifikasi. Selain dari pihak produsen, LPPOM MUI juga memfasilitasi pengajuan proses sertifikasi produk halal melalui aplikasi Cerol yang lebih efektif dan efisien. Fri-36 ...

  • Nov 03, 2018

    Jaminan Halal Ingredien Berbasis Protein

    Dalam industri pangan, obat-obatan, dan kosmetik, banyak digunakan ingredien yang diproduksi dari sumber protein hewani seperti gelatin, kolagen, dan kondroitin. Pada mulanya sebagian ingredien tersebut diproduksi dari sumber non-halal. Namun saat ini, tren konsumen khususnya pada umat muslim telah bergeser ke arah tuntutan jaminan produk halal sehingga diperlukan suatu perubahan yang menyeluruh terhadap sistem produksi ingredien tersebut.   ...

  • Nov 01, 2018

    Indonesia sebagai Pusat Produk Halal Dunia

    Indonesia tengah bersiap sebagai pusat produk halal dunia. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam membuat hal tersebut sangat potensial untuk dikembangkan. Untuk memperkenalkan langkah tersebut, diadakan Indonesia Halal Expo (INDHEX) 2018 yang menghadirkan berbagai macam acara seperti pameran, seminar, dan juga gelar wicara. ...

  • Okt 29, 2018

    Rempah-Rempah Indonesia Membumbui Dunia

    Kekayaan rempah-rempah Indonesia tanpa disadari membumbui pangan dunia. Sejarah menceritakan bahwa bangsa-bangsa Eropa dan Jepang menjajah nusantara salah satu tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan rempah-rempah Indonesia seperti lada dan pala. Hingga saat ini pun kuliner dan industri pangan tak akan lepas dari rempah-rempah sebagai penghasil flavor spesifik. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada,  Supriyadi mengatakan, "Inilah 4 primadona rempah Indonesia: cengkeh, pala, kayu manis, kemudian lada." Ada beberapa bagian tanaman Indonesia yang digunakan sebagai rempah-rempah diantaranya akar, umbi, daun, kulit batang, bunga, dan buah. Adapun pemanfaatan bumbu bisa dalam bentuk segar, kering, saus, dan oleorosin. Nur ...