Jangan Ragu Menggunakan Susu Pada Masakan



Jangan Ragu
Menggunakan Susu Pada Masakan

 

Akhir-akhir ini, semakin banyak informasi yang membingungkan masyarakat mengenai susu.
Bagaimana menyikapinya?

 

Kini banyak berita beredar, terutama melalui email, yang menggugat manfaat susu. Misalnya saja adalah ada yang menghubungkan susu sebagai pemicu terjadinya osteoporosis, sulit dicerna, dan sebagainya. Bahkan ada pula yang menyatakan bahwa susu sapi hanya boleh untuk sapi, bukan untuk manusia.

Untuk menyikapi hal tersebut, mari kita menanggapinya dengan bijak. Di dunia ini memang tidak ada makanan yang sempurna, termasuk susu. Namun harus diakui, susu masih merupakan salah satu jenis makanan yang “istimewa” dari segi gizi.

Jika dikatakan susu sebagai penyebab osteoporosis, maka alangkah baiknya kita mencermati kandungan zat gizi pada susu. Susu mengandung beberapa mineral, di antaranya kalsium, fosfor, magnesium, dan potasium. Fosfor sangat penting dalam penyerapan kalsium, komponen utama pembentuk tulang. Kandungan kalsium sendiri dalam susu sapi berkisar 113mg/100g. Jadi, berdasarkan kenyataan tersebut apakah benar susu menyebabkan osteoporosis?

Sedangkan mengenai susu sulit dicerna juga tidak masuk akal. Komponen utama susu adalah air, karbohidrat, protein, dan lemak. Zat gizi makro tersebut (karbohidrat, protein, dan lemak) dicerna sebagaimana pangan lainnya. Memang benar, bahwa ada beberapa golongan masyarakat yang menderita lactose intolerance. Penderita tersebut tidak memiliki enzim pemecah laktosa, gula yang terdapat pada susu, sehingga ketika mengkonsumsi susu akan mengalami diare. Namun, beberapa penelitian membuktikan bahwa, dengan membiasakan konsumsi susu sedikit demi sedikit, penderita lactose intolerance bisa disembuhkan. Bahkan, protein susu –kasein- merupakan salah satu jenis protein yang paling mudah dicerna.

Dengan berbagai macam kandungan gizi yang dimilikinya, susu sebenarnya adalah bahan pangan yang sangat bermanfaat. Indonesia merupakan negara yang masih rendah dalam mengkonsumsi susu. Diperkirakan, masyarakat Indonesia mengkonsumsi sekitar 7-8 liter/kapita/tahun, sangat rendah jika dibandingkan dengan Malaysia dengan tingkat konsumsi yang telah mencapai 20 liter/kapita/tahun.

Hal ini sangat menarik, karena di sinilah peranan industri hotel, restoran, katering, dan bakery. Banyak masakan yang bisa dikreasi dengan menggunakan susu. Untuk industri bakery, penggunaan susu sudah tidak asing lagi. Dalam industri tersebut, susu tidak hanya berperan meningkatkan nilai gizi, tetapi juga mempengaruhi sifat sensori produk yang dihasilkan. Sedangkan, di hotel, kafe, dan restoran, susu masih lebih populer dalam bentuk minuman seperti milk shake, yoghurt, atau bahkan es krim.

Padahal, jika mengambil pengalaman industri-industri pangan, para chef bisa lebih leluasa untuk mengkreasikan masakan. Misalnya saja, banyak produk-produk susu khusus untuk segmen tertentu dengan menambahkan weight regulator, EGCG, L-carnitine, conjugated linoleic acid (CLA), atau penambahan vitamin A dan D. Nah, untuk chef, komposisi tersebut bisa dibuat dengan menggunakan bahan alami. Contohnya, untuk L-carnitine dan EGCG, bisa digantikan dengan teh; untuk weight regulator, bisa digunakan pangan kaya serat dan probiotik (yoghurt) yang bisa membantu saluran pencernaan. Sehingga tidak aneh, jika kelak ada masakan khusus untuk kecantikan.
K-09

Artikel Lainnya