Beragam Bumbu Instan, Bermacam Menu Masakan



Gaya hidup dan dinamika kuliner yang berkembang pesat menuntut tersedianya bumbu yang praktis, higienis, aman sekaligus memudahkan para chef untuk berkreasi menghasilkan berbagai menu masakan lokal yang akhir-akhir ini menjadi favorit konsumen. M erespon kebutuhan masyarakat Indonesia yang menyukai segala hal yang bersifat praktis ditambah dengan makin tingginya populasi wanita yang bekerja di luar rumah, hal ini dijawab oleh para pelaku industri dengan membuat produk bumbu masakan yang mudah digunakan sekaligus terjaga konsistensi mutu dan kelezatannya. Perusahaan pangan terkemuka seperti Ajinomoto, Ikafood dan Unilever saat ini telah menghadirkan beragam bumbu praktis yang siap digunakan baik oleh para ibu maupun chef di restoran untuk mendukung aktifitas mereka dalam hal masak-memasak. Bumbu praktis tersebut diperoleh dari campuran rempah-rempah atau bahan terpilih lain yang diproses secara higienis dan terstandar sehingga dihasilkan bumbu yang dapat secara cepat dan praktis digunakan untuk memasak.

?Paling tidak ada tiga kategori besar bumbu praktis yang beredar di pasaran, yakni bumbu kaldu, bumbu siap pakai, dan tepung bumbu. Dari ketiga kategori bumbu tersebut, bumbu kaldu adalah yang paling banyak digunakan oleh masyarakat,? kata Marketing Manager PT Ajinomoto Sales Indonesia Atsushi Mishuku.

Total nilai penjualan bumbu kaldu saat ini sangat besar, dengan pertumbuhan pasar mencapai 120% dari tahun ke tahun. Section Manager Seasoning Department PT Ajinomoto Sales Indonesia Rina Sukaesih menambahkan, kebutuhan bumbu kaldu di masyarakat memang sangat besar. Hal ini terlihat dari hasil survei yang ia lakukan menunjukkan bahwa tingkat penetrasi pasarnya mencapai 97% dan frekuensi penggunaan bumbu kaldu hingga 200 hari per tahun atau rata-rata 3-4 hari perminggu.

Bumbu instan yang diproduksi Ajinomoto di Indonesia yakni bumbu kaldu penyedap dengan merek Masako, bumbu praktis siap saji dengan merek Sajiku dan bumbu masakan Asia dengan merek Saori. Sedang Unilever lebih memfokuskan pada pengembangan bumbu dasar dengan merek Knorr Bumbu, yang hingga saat ini mengandalkan tiga bumbu dasar, yakni Knorr Bumbu Dasar Merah, Knorr Bumbu Dasar Kuning dan Knorr Bumbu Dasar Putih. Kunci dari kelezatan setiap masakan adalah kesegaran dan kualitas bahan yang dipakai. terbuat dari bahan mentah pilihan, segar dan berkualitas. Dan berkat keunggulan dan kecanggihan teknologi, bumbu dasar Knorr ini memiliki kualitas warna bumbu yang segar, seperti aslinya, warna merah cabe merah: warna kuning, seperti kunyit segar.

Adapun pelaku industri bumbu terkemuka dari dalam negeri adalah PT Ikafood Putramas yang memiliki ragam bumbu instan yang sangat banyak variasinya. Bumbu di bawah merek Kokita ini dapat digunakan untuk memasak tidak kurang dari 24 variasi menu masakan khas Indonesia. Seperti halnya Knorr, Kokita juga memiliki empat macam bumbu inti dan bumbu instan yang spesifik untuk menu masakan tertentu seperti untuk nasi kuning, nasi goreng, gado-gado, hingga rendang.

Untuk kebutuhan para chef di kafe dan restoran, bumbu instan juga memberi kontribusi yang cukup besar dalam menghasilkan kreasi-kreasi menu masakan baru. Hal ini berawal dari proses riset pasar telebih dahulu untuk mendapatkan insight dari para chef tentang apa yang mereka harapkan dari keberadaan bumbu dasar.

?Dengan tersedianya bumbu dasar, akan memudahkan para Chef menjalankan tugasnya dalam mengolah masakan dengan mudah, efisien, higienis dan terkontrol, ?papar Cindy. Para chef diharapkan untuk lebih banyak berkreasi dengan menu-menu khas tradisional Indonesia, atau ?fussion? dengan menu masakan Eropa atau Asia.

Atsushi menjelaskan, kebiasaan makan orang Indonesia saat ini berkembang sangat dinamis. Konsumen Indonesia saat ini ?Inilah yang kami junjung tinggi dan selalu kami pastikan,? kata Marketing Manager Unilever Foodsolutions, Cindy Gunawan. Ia menjelaskan, Knorr Bumbu bukan hanya mengkonsumsi ataupun memasak makanan khas Indonesia saja. Dengan berkembangnya gaya hidup dan dinamika yang ditunjukkan oleh kuliner Indonesia, pola makan ataupun selera orang Indonesia juga ikut berkembang. ?Adopsi beberapa masakan asing seperti dari Jepang, Itali dan Amerika ke dalam masakan sehari-hari juga sangat mempengaruhi pola makan orang Indonesia,? kata Atsushi.

Untuk menghadirkan masakan-masakan tersebut konsumen kadang kala terpaksa harus menggunakan bumbu-bumbu yang bukan asli dari bumbu tradisional Indonesia seperti kecap inggris, minyak wijen, saus tiram, dan lain-lain. Dan hal tersebut secara tidak langsung meningkatkan persaingan dalam penggunaan bumbu tradisional dalam negeri. Untuk meningkatkan daya saing bumbu instan dalam negeri, maka selain harus meningkatkan kualitas dan higienitas pada saat produksi, sangat diperlukan pula upaya memperkenalkan dan mengangkat image masakan asli Indonesia yang menggunakan bumbu tradisional tersebut agar dapat lebih dikenal dan diterima secara luas baik di dalam ataupun di luar negeri. Dan para chef memegang peran vital dalam hal ini.

Menyikapi hal tersebut, beberapa produsen bumbu instan secara konsisten menjalin kerjasama dengan para chef ataupun sekolah pariwisata agar dapat terus melestarikan kuliner tradisional. Melalui pengetahuan dasar tentang bahan baku, proses produksi yang dipadukan dengan inovasi seni memasak kuliner spesial lokal, akan turut memajukan kuliner tradisional Indonesia sekaligus memajukan industri pariwisata Indonesia.

Artikel Lainnya

  • Okt 06, 2018

    Tren Specialty Tea Indonesia

    Specialty tea merupakan teh berkualitas tinggi yang dibuat dari pucuk muda tanaman teh....

  • Okt 06, 2018

    Menu Engineering dalam Bisnis Waralaba

    Menjalankan waralaba tentu diperlukan beberapa aspek yang menyertai....

  • Okt 04, 2018

    Konsep Baru Industri Horeka Indonesia

    Perkembangan industri jasa boga saat ini semakin intensif di Indonesia....

  • Okt 01, 2018

    Pameran Bisnis Waralaba & Kafe Terbesar di tahun 2018

    Gaya hidup masyarakat Indonesia saat ini dan pertumbuhan ekonomi kelas menengah mendorong kinerja industri pengolahan kopi di dalam negeri hingga mengalami peningkatan yang signifikan. Kopi Indonesia banyak digemari dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia. Salah satu cara modern untuk menikmati kopi adalah dengan datang ke kafe. Pertumbuhan konsumsi produk kopi olahan di dalam negeri meningkat rata-rata lebih dari 7% pertahun. Melihat hal tersebut, tidak mengherankan apabila perkembangan bisnis kafe di Indonesia begitu menjanjikan. Kafe kini bukan hanya sebagai tempat untuk menikmati kopi namun telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. ...

  • Sep 22, 2018

    Sehat Tidak Selalu Tidak Enak

    Paradigma terhadap makanan yang menyehatkan masih erat dengan rasa yang tidak enak dan tidak menarik untuk dikonsumsi. Guna mendobrak paradigma tersebut, diperlukan usaha dari para pelaku kepentingan seperti praktisi kesehatan, pelaku kuliner, dan juga konsumen sebagai target utama mengubah paradigma tersebut. ...