Plastik untuk Kemasan Pangan



 

Plastik merupakan salah satu jenis polimer hasil rekayasa teknologi manusia. Jenis plastik yang banyak digunakan dan aman yakni high density polyethylene (HDPE), low density polythylene (LDPE), polyethylne therephthalate (PET), polystyrene (PS), polypropylene (PP), polycarbonate (PC), dan polyvinylchloride (PVC).

Penjelasan seputar plastik dan fungsinya sebagai bahan kemasan pangan tersebut diuraikan dalam talkshow yang diselenggarakan oleh Himpunan Polimer Indonesia(HPI), dan Federasi Pengemas Indonesia(FPI) di Jakarta pada pertengahan Agustus lalu. Acara digelar dalam rangka Pameran Indopack 2009 oleh Wahana Kemala Niaga Makmur. Dalam acara itu, ahli kemasan dari Pusat Teknologi Material BPPT Lies A.Wisojodharmo menjelaskan, di kehidupan sehari-hari plastik biasa digunakan untuk kemasan untuk kemasan susu, minyak goreng, mentega, kecap, saus, jus, teh, isotonik, dan lain-lain. Plastik PET misalnya, biasa digunakan untuk produk pangan yang berbahan lemak dan minyak, juga kemasan untuk beberapa produk minuman.

Di antara bahan kemasan yang ada, plastik adalah bahan kemasan yang paling banyak digunakan. Hal ini disebabkan, ”Plastik memiliki sejumlah keunggulan dibanding jenis kemasan lain, yakni lebih ringan, tidak mudah pecah, mudah dibentuk, bahan dasarnya banyak pilihan, mudah diproduksi secara massal, harga relatif murah, dan mudah dipasang label dan dibuat dengan aneka warna,” katanya. K-08

Artikel Lainnya

  • Jun 27, 2019

    Kelemahan Asam Lemak Tidak Jenuh

    Selain memiliki banyak kelebihan seperti mampu menurunkan kolesterol dan mengandung omega-3, asam lemak tak jenuh ternyata juga memiliki kekurangan. Asam lemak tak jenuh memiliki ikatan atom karbon rangkap yang mudah terurai dan bereaksi dengan senyawa lain, sampai mendapatkan komposisi yang stabil berupa asam lemak jenuh. Semakin banyak jumlah ikatan rangkap, semakin mudah bereaksi atau berubah minyak tersebut. Namun jika digunakan untuk menggoreng secara berulang-ulang, maka asam lemak tidak jenuh (baik dari minyak penggoreng maupun dari makanan yang digoreng) akan berubah menjadi asam lemak “trans”, gugus peroksida, serta senyawa radikal bebas lainnya. ...

  • Jun 26, 2019

    Efek Konsumsi Lemak Trans terhadap Kesehatan

    Lemak trans ialah semua isomer geometrik dari asam lemak tidak jenuh tunggal dan asam lemak tidak jenuh jamak yang tidak terkonjugasi, dipengaruhi setidaknya oleh satu kelompok metilen, dengan ikatan rangkap karbon-karbon dalam konfiurasi trans. Lemak trans ini dapat terbentuk secara alami dalam bahan pangan serta selama proses pengolahan pangan pada temperatur yang sangat tinggi (proses deodorisasi dan penggorengan) dan melalui reaksi hidrogenasi. ...

  • Jun 24, 2019

    Lemak yang Digunakan dalam Produk Bakeri

    Produk baking meliputi rerotian, cake, biskuit, cookies, cracker, kue kering, pastry, pie, mufin, dan lainnya yang merupakan aplikasi bahan tepung-tepungan yang dipanggang dalam oven. Lemak sebagai bahan utama dalam pembuatan produk baking berperan dalam menambah citarasa, aroma, kelembapan, nilai gizi, pembentuk tekstur (melembutkan), dan menjaga kualitas selama penyimpanan. ...

  • Jun 21, 2019

    Menghambat Oksidasi Minyak

    Reaksi oksidasi terjadi ketika minyak goreng terpapar dengan udara. Untuk menghambat reaksi ini, biasanya industri minyak goreng menambahkan antioksidan, yakni suatu senyawa yang dapat menangkap radikal bebas. Komponen radikal bebas terbentuk selama reaksi terjadi dan memicu terjadinya berbagai kerusakan. ...

  • Jun 20, 2019

    Mengenal Teknik Memasak Shallow Frying

    Shallow frying merupakan teknik menggoreng dengan sedikit lemak atau minyak dengan menggunakan wajan datar. Shallow frying merupakan teknik memasak cepat, dan biasanya digunakan untuk bahan yang berkuran kecil dan memiliki tekstur lunak seperti telur dan ikan. Namun perlu diperhatikan, minyak yang digunakan harus dipastikan sudah benar-benar panas. Jika minyak yang digunakan belum cukup panas, maka pangan yang dihasilkan akan menyerap minyak. ...