Mengenal Ketogenic Diets



 

Pernah mendengar istilah ketogenic diet? Ketogenic diet digunakan selama beberapa abad lamanya sebagai treatment bagi anak penderita epilepsi. Selain itu, ketogenic diet juga bisa digunakan untuk terapi beberapa permasalahan intermediary metabolism seperti pyruvate dehydrogenase deficiency, phosphofructokinase deficiency, morbid obesity, dan diabetes mellitus tipe 2.

Pada prinsipnya ketogenic diet mengandung lemak tinggi, cukup protein, dan rendah karbohidrat. Tujuannya adalah mendorong tubuh untuk lebih banyak membakar lemak dibandingkan karbohidrat. Normalnya, dalam tubuh karbohidrat akan dipecah menjadi glukosa, yang kemudian ditransportasikan ke dalam tubuh, termasuk otak sebagai bagai bahan bakar. Namun, jika karbohidrat dalam tubuh sedikit, akan diperoleh kondisi ketosis, dimana lemak dari liver akan dikonversi menjadi asam lemak dan keton. Keton itulah yang kemudian akan ditransfer ke otak dan menggantikan energi sebagai sumber energi. Kondisi ketosis inilah yang memiliki efek anticonvulsant.

Dalam ketogenic diet, tubuh hanya memiliki protein untuk tumbuh dan memperbaiki jaringan rusak dan cukup kalori untuk mempertahankan berat badan yang ideal. Ketogenic diet dilakukan dengan membatasi konsumsi pangan kaya karbohidrat seperti starchy fruit, roti, pasta, sereal, dan gula. Sebaliknya, konsumsi pangan kaya lemak ditingkatkan.
Biasanya, pangan berlemak terbuat dari long chain triglycerides (LCT), namun medium chain triglyceride (MCT) lebi bersifat ketogenic. MCT bisa dikonsumsi baik dalam bentuk minyak kelapa maupun murni. Ketogenic diet klasik memiliki nilai perbandingan lemak : karbohidrat plus protein sebesar 4:1.

Ketogenic diet ini muncul dengan konsep puasa. Pada 1921, Rollin Woodyat melaporkan bahwa terdapat tiga komponen larut air yang diproduksi oleh liver, termasuk pada orang sehat ketika mereka berpuasa atau mengkonsumsi diet rendah karbohidra dan terlalu tinggi lemak. Ketiga komponen larut air tersebut adalah ß-hydroxybutyrate, acetoacetate, dan acetone. Ketiganya dikenal sebagai komponen keton dalam tubuh. Konsep tersebut kemudian banyak diteliti pemanfaatannya, sehingga kemudian digunakan sebagai salah satu bentuk terapi. Jika sebelumnya dalam ketogenic diet klasik lemak yang digunakan banyak yang bersifat jenuh (saturated), kini juga sudah dikembangkan penggunaan polyunsaturated fatty acid.

Ketogenic diet merupakan suatu bentuk terapi pada golongan tertentu yang membutuhkan. Konsep ini tidak sesuai dengan metabolisme normal tubuh manusia, sehingga tidak bisa diaplikasikan pada orang sehat. Oleh sebab itu, penggunaannya harus melalui anjuran dokter dan penyusunan menunya sebaiknya dipandu oleh ahli gizi. K-09

Artikel Lainnya

  • Okt 06, 2018

    Tren Specialty Tea Indonesia

    Specialty tea merupakan teh berkualitas tinggi yang dibuat dari pucuk muda tanaman teh....

  • Okt 06, 2018

    Menu Engineering dalam Bisnis Waralaba

    Menjalankan waralaba tentu diperlukan beberapa aspek yang menyertai....

  • Okt 04, 2018

    Konsep Baru Industri Horeka Indonesia

    Perkembangan industri jasa boga saat ini semakin intensif di Indonesia....

  • Okt 01, 2018

    Pameran Bisnis Waralaba & Kafe Terbesar di tahun 2018

    Gaya hidup masyarakat Indonesia saat ini dan pertumbuhan ekonomi kelas menengah mendorong kinerja industri pengolahan kopi di dalam negeri hingga mengalami peningkatan yang signifikan. Kopi Indonesia banyak digemari dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia. Salah satu cara modern untuk menikmati kopi adalah dengan datang ke kafe. Pertumbuhan konsumsi produk kopi olahan di dalam negeri meningkat rata-rata lebih dari 7% pertahun. Melihat hal tersebut, tidak mengherankan apabila perkembangan bisnis kafe di Indonesia begitu menjanjikan. Kafe kini bukan hanya sebagai tempat untuk menikmati kopi namun telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. ...

  • Sep 22, 2018

    Sehat Tidak Selalu Tidak Enak

    Paradigma terhadap makanan yang menyehatkan masih erat dengan rasa yang tidak enak dan tidak menarik untuk dikonsumsi. Guna mendobrak paradigma tersebut, diperlukan usaha dari para pelaku kepentingan seperti praktisi kesehatan, pelaku kuliner, dan juga konsumen sebagai target utama mengubah paradigma tersebut. ...