Neophobia Pangan pada Anak



 

Neophobia pangan adalah tingkat kecenderungan untuk menolak/menghindari jenis pangan yang baru. Gejala ini ternyata tidak hanya dialami oleh manusia, tetapi juga omnivora lainnya. Neophobia pangan secara alami pada manusia, fungsi utamanya adalah untuk menghindari keracunan yang diakibatkan oleh unfamiliar atau toxic foods.

Namun, kenyataannya pada saat ini, gejala neophobia sering berlebihan. Sehingga tidak aneh jika kemudian turut mempengaruhi asupan gizi suatu individu. Contohnya anak-anak yang sering mengalami neophobia pangan terhadap buah dan sayur. Mengingat pentingnya sayur dan buah dalam pemenuhan asupan gizi, pengetahuan mengenai neophobia sangat penting.

Banyak studi yang telah dilakukan untuk mengetahui penyebab-penyebab terjadinya neophobia. Misalnya studi untuk mengetahui hubungan antara anak, saudara, dan orang tua. Penelitian yang dilakukan oleh Lucy at al. (2007) menunjukkan bahwa neophobia dapat terjadi karena faktor keturunan. Namun, dalam perjalanannya, faktor dan pengaruh lingkungan menjadi sangat penting.

Oleh sebab itu, kreativitas terutama dari orang tua sangat penting untuk mengatasi neophobia anak. Budaya dan kebiasaan konsumsi di rumah tangga akan mempengaruhi penerimaan suatu makanan baru. Ketidaksukaan salah satu anggota keluarga (apalagi saudara kembar) biasanya juga turut mempengaruhi yang lainnya, apalagi jika sampai terjadi muntah yang diketahui oleh saudaranya. Jika hal tersebut terjadi, banyak orang tua yang kemudian tidak memberikan lagi makanan tersebut. Atau, adapula yang jika terpaksa, orang tua mengiming-imingi anak dengan hadiah. Walau tidak selamanya baik, namun hal tersebut bisa diterapkan hingga anak menjadi suka. Tapi, akan menjadi masalah, jika yang terjadi adalah anak semakin mengingat makanan tersebut sebagai “musuh”, sehingga untuk mengonsumsinya harus dengan hadiah (usaha ekstra).

Cara yang lebih mudah dilakukan adalah sebenarnya dengan memperhatikan selera anak. Jika anak lebih suka dengan makanan yang gurih dan manis, alangkah lebih baiknya jika makanan baru yang ditawarkan juga mengandung rasa tersebut.

Kreasi orang tua sangat penting untuk membuat masakan tersebut lebih disukai. Sebagai contoh, jika anak suka soto, kemudian orang tua ingin memperkenalkan toge, tidak ada salahnya untuk mencoba mencampurkan toge tersebut dalam soto. Atau jika anak suka bakso, sedangkan orang tua ingin memperkenalkan ikan kepada anaknya, bisa dicoba dengan membuat bakso ikan. Jika tidak sempat mencoba sendiri, orang tua bisa mengajak anaknya ke tempat-tempat makan yang menyenangkan dan akan lebih baik jika dilakukan survei terlebih dahulu dan tersedia fasilitas permainan untuk anak.

Selain survei tempat dan rasa makanan, faktor terpenting yang tidak boleh dilupakan adalah faktor gizi dari menu yang dipilih, serta keamanan (sanitasi dan hygiene) restoran.Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan memanfaatkan “faktor lingkungan” lain. Yakni dari teman sepermainan yang telah menyukai makanan yang akan ditawarkan. Pengaruh teman dapat mempengaruhi persepsi anak terhadap makanan tersebut. Apalagi jika sang teman menceritakan pengalamannya dengan makanan baru yang akan dikonsumsinya. Cara lain untuk mengatasi neophobia adalah mendekorasi menu pangan sehingga menarik minat dan selera anak.

Banyak cara yang dapat di atasi untuk mengatasi neophobia makanan ini. Neophobia pangan pada anak dapat terjadi dan memang normal. Neophobia terhadap pangan yang menjadi sumber gizi penting anak harus segera diatasi. Peranan lingkungan (terutama keluarga dan saudara kandung) akan mempengaruhi keberhasilan seorang anak menerima makanan yang belum pernah dikenalnya/dikonsumsi sebelumnya.

Bagi anda pelaku bisnis food service -terutama restoran- pertanyaannya adalah, sanggupkah para chef restoran membantu keluarga yang mengalami neophobia pangan, khususnya pada anak? Jawabannya tentu dengan menawarkan menu yang lezat dan sehat. K-9

Artikel Lainnya

  • Feb 15, 2019

    Dangke: Produk Keju dengan Kearifan Lokal

    Dangke merupakan produk keju tradisional dari susu kerbau khas Sulawesi Selatan dan telah diproduksi sejak tahun 1905. Dangke banyak diproduksi di daerah Enrekang, Curio, Baraka, Anggeraja dan Alla. Menurut cerita, nama Dangke berasal dari bahasa Belanda, “dank u well” yang berarti terimaksih banyak. Saat itu seorang peternak kerbau memberikan olahan fermentasi susu kepada orang Belanda yang sedang melintas dan orang Belanda tersebut mengucapkan “dank je” yaitu ucapan singkat dari “dank u well”. Sejak saat itulah susu fermentasi kerbau ini disebut dangke. Dangke memiliki tekstur yang elastis, berwarna putih, dan memiliki rasa mirip dengan keju pada umumnya. ...

  • Feb 14, 2019

    Costing Menu Summer Fresh

    Summer Fresh merupakan smoothies buah mangga, pisang, dan peach yang dihaluskan dengan tambahan susu dan yogurt. Teksturnya agak kental mengandung butiran halus es buah beku yang dingin, sangat pas disajikan saat siang atau udara panas. Kaya akan vitamin C, kalium, kalsium, dan zat gizi lainnya yang bermanfaat bagi kesehatan. Penambahan yogurt selain memberi rasa asam segar juga memberikan manfaat bagi kesehatan percernaan karena mengandung probiotik. Bahan smothies ini antara lain mangga, peach, pisang, susu segar, dan yogurt. Kandungan gizi per porsinya antara lain; energi 251 kkal, protein 7,6 gram, lemak 8,2 gram, dan karbohidrat 39,8 gram. Berikut adalah costing dari Summer Fresh: ...

  • Feb 13, 2019

    Jus Martabe Khas Sumatra Utara

    Jus martabe merupakan minuman dari Sumatera Utara yang tergolong unik dan jarang dijumpai pada daerah lain. Keunikannya terletak pada bahan dasar yang digunakan yakni terong Belanda dan markisa. Martabe sendiri merupakan singkatan dari Markisa-Terong-Belanda. Jus ini tinggi serat pangan dan pektin, gula buah fruktosa, vitamin C, vitamin E, asam folat, kalium, dan magnesium. Mengonsumsi jus  martabe dapat memperbaiki kekebalan tubuh, meningkatkan kesehatan tulang, mengefektifkan sistem pembersihan racun dalam tubuh, memacu peremajaan sel, menggiatkan fungsi hati dan ginjal, serta mengatasi radang saluran kencing.   ...

  • Feb 12, 2019

    Audit untuk Menjaga Keamanan Pangan Restoran

    Salah satu usaha yang mengombinasikan antara produk dan jasa adalah restoran. Dalam menyajikan menu di restoran perlu adanya proses yang memastikan bahwa prosedur yang telah dibuat sesuai dengan praktiknya. Oleh karena itu, audit sangat dibutuhkan bagi restoran. Tujuan dari proses audit adalah sebagai proses verifikasi untuk memastikan bahwa Sistem Manajemen Keamanan yang dibentuk oleh restoran benar-benar diimplementasikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Selain itu, audit juga dilakukan sebagai evaluasi untuk memastikan apakah sistem tersebut masih dapat menjaga produk pangan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan untuk kebutuhan sertifikasi atau validasi pengesahan terhadap sistem untuk kebutuhan branding produk maupun persyaratan akan suatu bentuk status komersial.   ...

  • Feb 11, 2019

    Kecukupan Gizi Konsumen Vegetarian

    Konsumen vegetarian biasanya menghindari beberapa makanan khusunya yang menjadi sumber protein hewani. Oleh karena itu, asupan gizi seperti protein yang biasa didapat dari sumber hewani harus digantikan dari sumber lain. Menurut Prof. Ali, masalah terbesar utama yang sangat sering dialami para vegetarian adalah kekurangan asupan protein yang berkualitas dan kekurangan zat besi (Fe). Mereka bisa saja mendapatkan asupan protein dari pangan nabati. Namun, kebanyakan sumber protein dari pangan nabati tidak memiliki nilai biologis yang cukup, sehingga memerlukan proses yang lebih lama agar bisa diserap dengan baik oleh tubuh.   ...