Survey Nielsen: Saatnya Kuliner Lokal Bicara



Ketika memutuskan untuk makan di restoran, masyarakat Indonesia menjadikan menu masakan lokal sebagai pertimbangan utama. Hal ini sebenarnya merupakan peluang besar bagi pelaku bisnis restoran lokal.

Kuliner lokal ternyata menjadi pertimbangan penting bagi masyarakat Indonesia dalam memilih restoran untuk bersantap. Hal itu tergambar dari hasil riset online Nielsen yang mengambil sampel sebanyak 502 responden pengguna aktif internet. Di Indonesia, Nielsen memperkirakan 10% dari masyarakat urban adalah pengguna internet aktif. Riset yang dilakukan Nielsen pada September hingga Oktober 2008 tersebut menunjukkan, masyarakat Indonesia paling menyukai kuliner lokal. Sebanyak 59% responden memilih kuliner lokal sebagai menu favorit mereka, diikuti dengan masakan China sebanyak 23% dan masakan Jepang 19%.

Dari hasil survei tersebut, terlihat betapa besar peluang bagi kuliner khas dari berbagai daerah di Indonesia untuk tampil sebagai menu andalan bagi restoran – restoran yang saat ini tengah menjamur. Bagi para pelaku bisnis, fakta ini dapat menjadi landasan dasar dalam membangun bisnis restoran atau kafe dengan berbasis pada kuliner lokal.
Senada dengan hal tersebut, ketika akan memilih restoran, yang paling menjadi pertimbangan masyarakat adalah jenis menu makanan 44%, harga 19%, standar higiene restoran 10%, lokasi restoran 8%, menu makanan sehat 4%, desain interior restoran 3%, dan promosi 2%. Adapun tentang merek restoran, masyarakat Indonesia ternyata cenderung tidak memprioritaskan merek ketika memilih restoran untuk bersantap. Hal ini ternyata berbeda dengan kegandrungan sebagian besar masyarakat akan merek barang non makanan dari impor. Riset tersebut menunjukkan orang Indonesia lebih memprioritaskan pertimbangan jenis makanan dan harga. “Sedangkan yang memperhatikan brand dari survei online kami tidak ada,” kata Direktur Riset Konsumen Nielsen Indonesia Catherine Eddy.

Dengan frekuensi makan di restoran sebagian besar adalah 1-3 kali dalam seminggu (44 %), waktu makan di restoran yang paling disukai adalah pada saat makan malam daripada mencari santapan di luar rumah untuk sarapan pagi atau makan siang. “Sebanyak 58% koresponden yang kami tanya lewat online menyatakan ke restoran untuk makan malam, sedangkan 41% menyatakan mengunjungi rumah makan untuk makan siang dan 2% untuk sarapan pagi,” kata Direktur Riset konsumen Nielsen Indonesia, Catherine Eddy.

Hal menarik adalah fakta hasil riset di Surabaya dan Bandung. Di Kota Bandung, masyarakatnya ternyata lebih menyukai makan siang di restoran (55%) sedang Surabaya mayoritas (82%) memilih makan malam sebagai waktu favorit untuk makan di restoran. Masyarakat Bandung juga tercatat memiliki kunjungan tertinggi ke restoran (6%) untuk sarapan pagi di banding masyarakat di kota lain. Ketika ditanyakan hari apa dalam seminggu yang paling sering mereka makan di restoran, ternyata Sabtu adalah hari favorit dengan 43% dari responden yang menunjukkan pilihan mereka sebagai hari untuk makan di luar rumah, diikuti hari Minggu sebanyak 24% dan Jumat 8%. Orang Indonesia paling suka makan bersama dengan keluarga dan teman-teman (49%) atau dengan pasangan mereka (34%).

Dengan mengetahui perilaku masyarakat Indonesia ketika makan di luar rumah ini, para pelaku bisnis kuliner diharapkan dapat dengan cepat meresponnya dengan pola dan strategi bisnis yang tepat terutama dalam hal menonjolkan menu masakan lokal sebagai kebanggaan kuliner bangsa sendiri. K-08

Artikel Lainnya