Regulasi MSG di Indonesia



 

Keamanan Mono Sodium Glutamat (MSG) sering dipertanyakan. Berbagai isu seperti MSG dapat menyebabkan Chinese Restaurant Syndrome, kanker, menaikkan berat badan, hipertensi, dan sebagainya merupakan alasan yang sering membuat konsumen ragu. Lalu, sebenarnya bagaimana fakta ilmiahnya?

MSG digunakan sebagai flavor enhancer. Menurut Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/88, BTP (Bahan Tambahan Pangan) flavor enhancer adalah bahan tambahan makanan yang dapat memberikan, menambah, atau mempertegas rasa dan aroma. Dalam Permenkes tersebut, disebutkan jenis-jenis flavor enhancer, yakni asam guanilat (garam K dan Na), asam L-glutamat (garam Ca, K, dan Na), asam inosinat (garam K dan Na), serta Ca dan Na-5’ribonukleotida. Dari berbagai jenis flavor enhancer tersebut, MSG atau vetsin adalah yang paling populer. Garam natrium dari asam glutamat tersebut diproses melalui proses fermentasi yang menggunakan molasses dan tebu. Sejak 100 tahun ditemukannya glutamat, komponen ini tidak pernah sepi dari isu-isu negatif berkaitan dengan kesehatan.

Berawal dari surat yang merupakan dugaan pribadi Robert Homan Kwok (1968) yang diterbitkan oleh The New England Journal of Medicine, isu mengenai MSG dapat menyebabkan Chinese restaurant syndrome mulai menyebar. Namun, ternyata dugaan pribadi tersebut tidak pernah terbukti secara ilmiah. Sehingga tidak aneh, jika nilai ADI (Acceptable Daily Intake)-nya tidak dinyatakan (not specified). Memang ada MSG symptom complex dengan gejala sakit kepala, mual, lemah, rasa terbakar di sekitar mulut, dan berkeringat. Namun, hal tersebut hanya terjadi jika MSG digunakan dalam jumlah sangat besar, di mana dengan konsentrasi tersebut menyebabkan perubahan organoleptik dan pasti ditolak konsumen.

Lalu bagaimana dengan regulasi penggunaan MSG?
US FDA menyatakan MSG sebagai Generally Recognized as Safe (GRAS), yang artinya aman untuk dikonsumsi. Sementara Badan POM berdasarkan PP No. 69 tahun 1999 tentang label dan iklan pangan, mewajibkan produk yang mengandung MSG harus mencantumkan nama ”MSG” dalam komposisi label. Misalnya dengan tulisan ”penguat rasa” (mononatrium glutamat). Hal tersebut dinyatakan oleh Direktur Standardisasi Produk Pangan Badan POM, Ir. Tetty H. Sihombing, MP. beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Tetty mengungkapkan, bahwa kontroversi mengenai keamanan MSG banyak yang tidak didasari oleh bukti ilmiah. ”MSG diijinkan penggunaannya oleh banyak negara dan banyak penelitian membuktikan, bahwa MSG aman digunakan oleh manusia,” ujar Tetty. K-09

Artikel Lainnya

  • Ags 02, 2019

    Bahan Pangan Pembentuk Rasa Umami

    Awalnya, manusia hanya mengenal empat rasa dasar, yaitu manis, asin, asam, dan pahit. Namun sejak seratus tahun yang lalu telah ditemukan komponen rasa dasar kelima, yakni umami. Untuk lebih mempermudah mendeskripsikan rasa umami, sering digunakan istilah ‘gurih’. Keberadaan umami sangat penting dalam menciptakan rasa yang enak. ...

  • Ags 02, 2019

    Peluang Bisnis Pasta di Industri Kuliner Indonesia

    Tren kuliner sangat mudah masuk dan berkembang dari satu negara ke negara lain akibat banyak faktor, salah satunya pertukaran budaya. Semakin berkembangnya dunia kuliner juga menjadikan para pelaku industri ini saling berlomba-lomba menghadirkan inovasi dari tren-tren yang ada. Menggabungkan masakan dari luar negeri dengan bahan-bahan khas negeri sendiri sudah banyak ditemui di berbagai tempat di Indonesia. Salah satu masakan khas negara lain yang dipadu-padankan dengan ingridien khas nusantara ialah olahan pasta.    Terdapat berbagai macam olahan pasta, seperti lasagna, fettucine, makaroni keju, dan spagheti. Meskipun olahan pasta ini disukai hampir semua golongan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, namun masih jarang pelaku bisnis kuliner menengah ke bawah yang menyediakan menu pasta.    “Olahan pasta di kalangan masyarakat kita dianggap sebagai masakan yang mewah, mahal, pembuatannya ribet, sehingga minim penjual. Padahal kenyataannya, pembuatan olahan pasta cukup mudah, harga bahan-bahannya juga cukup terjangkau dan pastinya mudah didapatkan. Selain itu, olahan pasta bisa disesuaikan dengan lidah masyarakat Indonesia dengan menambah bahan-bahan yang kita punya, seperti spagheti rasa kari dan rendang, makaroni tuna, dan sebagainya,” terang Pasta Expert, Chef Ade Rachmat dalam Pelatihan Usaha Kuliner Pasta yang diselenggarakan oleh Indofood, bertempat di Bogor pada 1 Agustus 2019.   Pelatihan Usaha Kuliner Pasta ini sudah diadakan sejak 1 Juli lalu dan berakhir pada hari ini (1/8), dengan menghadirkan 34 peserta yang bergerak dalam bidang kuliner untuk mengikuti pelatihan memasak olahan pasta secara gratis.    Meskipun terbilang cukup mudah, namun ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam mengolah pasta. “Terdapat beberapa hal penting dalam mengolah pasta agar menjadi olahan yang istimewa, antara lain cara memasak, tingkat kematangan, proses penirisan, penyimpanan pasta kering, dan penyimpanan pasta matang harus diperhatikan. Selain itu, pilih bahan-bahan yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan biaya, namun tentunya tidak boleh mengesampingkan kualitas. Bahan-bahan yang dirasa cukup mahal bisa disubtitusi dengan bahan lain yang memiliki funsgi sama namun lebih terjangkau,” jelas Ade. KI-37 ...

  • Ags 01, 2019

    Tips Menurunkan Penggunaan Garam

    Penggunaan garam secara berlebihan berpotensi mendatangkan beberapa penyakit seperti hipertensi dan penyakit jantung.  Pembatasan asupan garam tidak sesulit yang dibayangkan. Berikut beberapa tip yang dapat diterapkan untuk mengurangi penggunaan garam dalam masakan, di antaranya: i) memodifikasi penggunaan garam dapur, menggunakan bumbu dan rempah-rempah seperti seledri, daun bawang, daun salam, untuk meningkatkan cita rasa masakan tanpa harus menambah garam; ...

  • Jul 31, 2019

    Cara Bijak Mengonsumsi dan Menyiapkan Menu Berbasis Daging

    Mengonsumsi daging diusahakan tidak setiap hari untuk menghindari penumpukan lemak jenuh dan kolesterol di dalam tubuh. Konsumsi daging harus diimbangi dengan makanan berserat seperti sayuran dan buah-buahan. Konsumsi daging sebaikya berganti-ganti antara daging sapi dan ayam (unggas). Sebagian ahli mengatakan daging putih lebih sehat daripada daging merah. Daging yang dimasak secara matang lebih mudah dicerna dibandingkan daging setengah matang.   ...

  • Jul 30, 2019

    Ragam Kondimen Pendamping Masakan Daging

    Selain bumbu yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam suatu masakan, juga terdapat bahan-bahan yang menjadikan masakan tersebut kurang lengkap jika tidak menggunakannya. Bahan-bahan tersebut ialah kondimen, yang merupakan bahan makanan yang berjumlah sedikit dan berfungsi sebagai pelengkap maupun penyerta hidangan. ...